Sains

Teleskop Pemburu Alien Milik Tiongkok Kini Bisa Digunakan Astronom Seluruh Dunia

Setelah sebelumnya cuma bisa diakses astronom Tiongkok, kini teknologi tersebut dibagi kepada komunitas ilmiah dari berbagai negara.
30 September 2019, 8:21am
Teleskop Pemburu Alien Milik Tiongkok Kini Bisa Digunakan Astronom Seluruh Dunia
Tampilan teleskop FAST milik pemerintah Tiongkok. Foto oleh akun Flickr internetadn/Lisensi CC 2.0

Bagi kamu-kamu pecinta teori alien dan berharap bisa menerobos masuk ke Area 51 yang legendaris, kini ada jalan mengkonfirmasi kehadiran makhluk luar angkasa dengan cara yang lebih realistis: menggunakan teleskop berukuran 500 meter milik pemerintah Tiongkok.

Setelah setengah dekade membangun dan melakukan tes selama tiga tahun, Cina akhirnya membuka akses Teleskop Radio Bulat Terbuka (FAST) miliknya ke para ahli astronomi di mana pun, lapor Nature. Berlokasi di area terpencil Dawodang di provinsi Guizhou di barat daya Cina, FAST bisa memindai area dua kali lebih luas dibanding teleskop terbesar kedua di dunia, Arecibo Observatory di Puerto Rico.

Pemerintah Tiongkok diduga akan mengizinkan FAST untuk mulai beroperasi penuh bulan depan. Ketika pengujian awal dilakukan pada 2016, hanya ilmuwan Tiongkok yang diizinkan terlibat. Namun kini pintu telah dibuka bagi para peneliti dari seluruh dunia.

Teleskop Tiongkok ini dinamakan Tianyan atau “Mata Surga” dan terbuat dari 4.400 panel alumunium.

Teknologinya sanggup mendeteksi ledakan radiasi milidetik, yang juga disebut sebagai semburan radio cepat (FRBs). Banyak yang mengira ledakan-ledakan ini adalah sinyal dari alien, biarpun banyak juga ahli astronomi yang meragukan teori ini.

Teleskop raksasa yang pembuatannya menguras dana US$171 juta ini sanggup menggunakan gelombang radio untuk menemukan eksoplanet alias planet di luar sistem tata surya, yang diduga bisa menjadi rumah bagi alien dan makhluk luar angkasa lainnya. Ukurannya yang sangat besar memungkinkan teleskop milik Negeri Tirai Bambu itu mendeteksi gelombang radio dari bintang-bintang yang sudah mati. Bahkan teleskop tersebut diprediksi dapat menemukan hidrogen di galaksi-galaksi nun jauh di sana.

FAST hanya memindai sebagian langit sekali jalan, jadi menemukan FRBs akan sulit, tapi lokasi mereka dapat dideteksi berkat tingkat sensitifitas teleskop. Ini akan membantu para ilmuwan untuk mengidentifikasi lingkungan mereka. Ledakan-ledakan ini sangat menarik bagi orang-orang yang mempelajari FRBs dan ingin mencari tahu apa sebenarnya sinyal-sinyal misterius ini.

FAST diyakini bisa mendorong upaya global untuk menemukan riak di konsep ruang-waktu yang dipelajari fisikawan, seiring menjalankan tugas memindai galaksi. Pada 2030 nanti, seharusnya teleskop ini sudah bisa mempelajari sumber-sumber dari tabrakan lubang hitam yang besar.

Mari kita sambut masa depan dengan adanya teleskop raksasa ini.

Follow Meera di Twitter dan Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Asia