Linus Si Robot Religius—Cerpen Andina Dwifatma
Ilustrasi oleh Haris.

Linus Si Robot Religius—Cerpen Andina Dwifatma

Awalnya si tokoh utama memesan robot seri terbaru demi membantunya lepas dari hambatan menulis. Siapa sangka si robot lebih suka beribadah. Cerpen dari pengarang asal Jakarta ini bagian dari pekan fiksi VICE.
2.1.18

*Cerpen ini tayang sebagai bagian dari 'Pekan Fiksi VICE: Indonesia 2038'. Redaksi meminta penulis-penulis muda potensial negara ini menjelajahi kemungkinan situasi Indonesia pada 2038. Naskah yang kami terima rata-rata bercorak fiksi ilmiah, menyajikan gaya tutur segar, serta sudut pandang menarik saat mengulas topik seperti teknologi, lingkungan, agama, hingga nasib bahasa di masa mendatang.

Selamat membaca!


LINUS DAMONO

Linus Damono memiliki paras yang khusus dirancang menyebarkan kabar buruk. Matanya seperti melotot abadi dan rahangnya terlalu persegi. Lingkaran di bawah matanya begitu hitam sehingga kau akan mengira dia sengaja menggunakan celak. Jenggotnya panjang bergantung seperti sarang lebah. Linus selalu mengenakan topi pet untuk menutupi kepalanya yang gundul licin. Ke mana-mana ia suka memakai syal yang dililitkan ke leher, sepanas apapun cuaca hari itu. Menurut kawanku cerpenis Yasinta Svarajati, dulu pernah ada penyair sakit hati yang menggorok leher Linus, tapi tak sampai putus. Syal itu digunakan Linus untuk menutupi bekas luka yang melintang di lehernya. Kupikir Yasinta terlalu banyak baca cerita kriminal.

Meski begitu, harus kuakui masuk akal kalau ada penyair sakit hati pada Linus Damono, kritikus sastra dengan lidah paling tajam se-Jabodetabek dan sekitarnya. Bagi Linus, hanya ada dua kategori karya: jelek atau jelek sekali. Hanya segelintir-dua gelintir buku ia puji sebagai (hampir) bagus. Meski begitu, Linus dihormati nyaris semua pengarang. Harus diakui, kritiknya bernas meski bahasa yang ia gunakan sering keterlaluan. Pokoknya dia itu jenis orang yang mulutnya ingin kau tampol pakai sandal bekas nginjek tahi ayam, tapi urung kau lakukan karena kau tahu di dalam omongannya ada kebenaran. Aku dan para pengarang hijau lain sangat ingin mendengar pendapat Linus tentang novel kami, walaupun kami tahu, hampir pasti jawabannya tidak mengenakkan. Asal kami tahan dengan bahasanya yang menyebalkan, Linus akan memberitahu apa yang kurang dalam naskah kami.

Aku ingat mengirimi Linus draf novel keduaku pada suatu pagi yang cerah, awal bulan April. Empat hari kemudian, ia mengirimiku pesan di Magnolia.

“Jadi, kamu mau cerita tentang penyair cum aktivis yang hilang dalam chaos politik?”

“Ya, Mas Linus. Bagaimana menurut Mas Linus?”

“Kamu ini tugasnya nulis, bukan bernostalgia. Itu peristiwa zaman Ayu Utami dan Linda Christanty masih muda. Sekarang ini mana ada penyair dihilangkan karena vokal. Lagipula tipikal penyair seperti tokohmu ini sudah tidak ada. Penyair sekarang sibuk membicarakan rindu dan kesepian, tahu. Kalaupun sekali-kali menulis tentang politik, itu sekadar tanggung jawab sosial saja biar enggak dibilang ignorant sama lingkungan.”

Mulut Linus Damono memang pedas. Seandainya dia itu pecel atau gado-gado, pasti bibirnya dikaret dua.

Kupikir-pikir salahku juga. Ernest Hemingway dalam film klasik Midnight in Paris pernah bilang, tak ada gunanya menunjukkan tulisanmu ke sesama pengarang. Kalau jelek, dia akan membencinya. Kalau bagus, dia akan tambah membencinya. Linus Damono selain kritikus juga pengarang, walaupun sepanjang hidup dia baru menerbitkan satu novel berjudul Pada Hari Minggu Kuturut Ayah Ke Kota. Judulnya manis tapi ceritanya sadis. Tentang seorang gadis kecil dari desa yang tak sengaja nyasar ke kota besar lalu kejar-kejaran dengan pembunuh berkostum sapi.

Dua minggu setelah mengata-ngatai draf novelku, Linus tewas kena serangan jantung. Aku, Yasinta, dan beberapa kawan lain ikut mengantar jasad Linus ke pemakaman bawah tanah di Bendungan Hilir. Pulang dari pemakaman, seperti biasa aku membuka komputer untuk menulis, tapi sepatah kata pun tidak keluar. Pada menit ke-44 aku menyerah. Kuseka wajah di kamar mandi, lalu pergi ke dapur untuk bikin kopi. Setelah itu aku memilih beberapa film di Woolf dan menonton sampai pagi.

Kebuntuan ini berlangsung lima hari berturut-turut. Pada hari keenam, dengan malas kuakui bahwa aku kehilangan Linus. Dia meninggal saat sedang menulis review untuk draf novel keduaku. Ini salah satu kebiasaan dia yang mengharukan: setelah puas mencaci makimu, dia akan membuat catatan panjang mengenai kelemahan bukumu. Rasanya seperti sedang meraba-raba dalam gelap lalu diberi senter.

“Musuh penulis itu biasanya di buku kedua,” aku ingat Linus berkata. “Karena merasa sudah punya pembaca, kamu mulai nulis to impress bukan to express. Ingat ya, menulis itu buat diri sendiri, bukan orang lain.” Aku jadi mengingat-ingat kritiknya, sinisnya, bahkan wajahnya yang tanpa senyum. Kupandangi komputerku, lalu meja kerjaku, lalu ruang tengah. Linus sering mampir ke sini untuk mengomeli dunia dan seisinya. Dan meski selalu protes kopi buatanku rasanya kayak peceren, dia bakal minta tambah cangkir kedua, ketiga, dan seterusnya.

Keesokan harinya, di kotak surat kutemukan sebuah pesan dari Yasinta: sebuah tawaran menjadi peserta uji coba prototipe robot produksi perusahaan Jepang, PT Keshin Technopower. Pemerintah Jepang menunjuk Keshin untuk mengembangkan robot yang diklaim paling realistis dan menyerupai manusia. Penggunaan robot di industri sendiri saat ini sudah menjadi hal yang umum. Beberapa negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat sudah mulai menggunakan robot sebagai tenaga kerja di pabrik dan kantor. Jepang, sebagai pelopor teknologi robot, tentu saja terobsesi untuk menyempurnakan robot buatannya agar semakin mirip dengan manusia.

Seri terbaru yang sedang diuji coba ini menggunakan teknologi kecerdasan buatan dengan algoritma machine learning memanfaatkan big data berupa teks, foto, video—pokoknya apapun yang pernah seseorang unggah ke cloud. Dengan teknologi ini, robot yang dihasilkan nantinya akan punya karakter, kata-kata, dan ekspresi yang sangat mirip dengan aslinya. Jika berhasil, Keshin berencana “membangkitkan” para ilmuwan atau jenius seni yang sudah meninggal, hanya dengan data media sosial dan kotak surat pribadi mereka. Aku membayangkan robot Nikolas Tesla dan Basiyo.

“Keshin lagi cari partner di seluruh dunia untuk uji coba. Kita kirim data kotak surat, video, pesan teks, foto, pokoknya semua milik Mas Linus,” kata Yasinta. “Kalau diterima, nanti kita dapat robot satu, gratisan. Tugas kita, korespondensi untuk melaporkan perkembangan robot itu selama dia di sini. Semacam product review gitu, lah.”

“Berapa lama?”

“Katanya sih enam bulan. Bisa lebih cepat kalau robotnya rusak atau rese. Gimana?”

“Ngg,” aku bimbang. Biasanya aku lumayan konservatif urusan teknologi (di kantor tinggal aku yang belum pakai aplikasi Theroux dan gawai Almond 8), tapi aku ingin segera bisa menulis lagi. Siapa tahu enam bulan cukup untukku menyelesaikan novel didampingi Linus versi robot.

Enam belas minggu setelah kami mengirim aplikasi dan disetujui, robot Linus datang dalam sebuah kapsul berbentuk telur. Yasinta dan aku membukanya dengan perasaan takjub. Di situ tergolek Linus, berpakaian persis seperti hari terakhir dia hidup (celana biru, kemeja putih, syal hijau gelap), posisinya meringkuk seperti bayi dalam kandungan, matanya terpejam. Aku memasukkan kode kunci yang dikirim Keshin, lantas meletakkan ibu jariku di alat pemindai (aku administrator robot Linus). Terdengar bunyi nggging lembut lalu telur itu berkedip-kedip. Kami menunggu dengan berdebar-debar. Beberapa menit kemudian, robot Linus membuka mata, lantas memanjat keluar dari cangkang telurnya.

Dia berkedip-kedip menatap kami semua, lantas tersenyum lebar dan berujar, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Kami berpandangan lalu tertawa terbahak-bahak. Seumur hidup kami belum pernah mendengar Linus bilang assalamualaikum ke siapapun. Aneh juga melihat Linus tersenyum begitu lebar. Sepanjang pertemanan kami, seingatku baru satu kali aku lihat dia senyum selebar itu; yaitu waktu Donald Trump mati kesetrum (kebanyakan orang Amerika Serikat menyebut kejadian itu ‘ the Fortunate Event of 2020’ dan masih ada yang merayakannya sampai sekarang).

Dari hari ke hari kami menemukan makin banyak kejanggalan. Robot Linus ternyata sangat relijius, tapi tiap hari dia gonta-ganti agama. Senin dia minta celananya dipotong sebatas mata kaki (katanya agar tidak terkena najis) dan dia salat lima waktu di masjid kompleks. Selasa dia pergi ke gereja. Rabu dia penghayat kepercayaan. Kamis dia ikut kebaktian. Jumat balik lagi Islam supaya bisa kumpul di masjid siang-siang. Sabtu-Minggu dia yoga seharian tidak keluar-keluar kamar. Kata Linus, akhir pekan dia jadi spiritualis.

Aku geleng-geleng kepala. Kuperiksa ulang semua file dokumentasi foto, teks, video, dan akses ke kotak surat Linus yang kami kirim ke Jepang, lalu kutelepon Yasinta. “Mungkin file-nya ketukar di sana,” kata dia. Bisa jadi. Aku segera bersurat ke Keshin.

Mengenai tujuan awal kami mendatangkan robot Linus, hasilnya: gagal total. Linus yang baru ini betul-betul menghindari konfrontasi. Saat aku marah-marah karena bus terbang kami dipepet mobil sampai oleng, Linus meletakkan tangan di bahuku sambil bilang, “Sabar.” Bagi orang lain mungkin ini hal biasa, tapi kalau kau kenal Linus semasa hidup kau akan tahu dia bukan jenis orang yang mengenal kosa kata seperti ‘sabar’ atau ‘tenang’. Ketika kusodori naskah, dengan sopan Linus menolak.

Dia tidak mau baca novelku karena takut jika sampai menista karya tersebut, berarti dia menista buah pikir ciptaan Tuhan dan itu dosa. “Selesaikan saja dulu,” katanya lembut. “Nanti kubaca. Aku yakin pasti bagus.” Aku hanya meringis. Pertama, bukan ‘pasti bagus’-nya Linus yang selama ini membuatku terpacu menulis. Kedua, sudah berbulan-bulan aku tidak bisa menulis barang sepatah kata pun tanpa bahan review dari editor andal sepertinya.

Robot Linus juga memerangi maksiat. Dia membuang semua koleksi liquor-ku dan mengganti isinya dengan air putih. Dia membuang semua persediaan daging babi di kulkas. Dia bahkan menggerebek Yasinta dan pacarnya Robi yang suatu malam menginap di kamar tidur tamu. Satu per satu teman-temanku mulai menjauh.

“Robotnya dikembalikan saja deh,” Yasinta mengeluh. “Rumahmu jadi enggak asyik lagi buat nongkrong dan kamu toh enggak nulis-nulis juga.”

Aku mengiyakan, tapi tidak serius. Termasuk ketika datang balasan dari Keshin yang menyatakan, “mungkin ada kesalahan teknis saat proses integrasi data” dan memintaku mengirim balik robot Linus ke Jepang. Pesan itu tidak kutunjukkan pada Yasinta, takut dia tambah getol. Diam-diam aku menyukai keberadaan Linus yang baru ini. Bukan sosok yang kuharapkan, memang, tapi menarik. Atau mungkin aku sekadar senang punya kawan.
“Kok bisa sih, tiap hari ganti-ganti agama?” Suatu hari iseng kutanya Linus.

“Kenapa enggak, agama itu kan cuma kendaraan, bukan kulit yang melekat.”

“Tapi sekarang ini orang sudah malas ngomongin agama, Mas Linus,” aku menggaruk hidung.

“Tahun 2032 lalu, kolom agama saja resmi dihapus dari KTP dan dokumen warga sipil. Terus kemarin aku baca riset, 80 persen orang Indonesia masih percaya Tuhan agama monotheis tapi hanya 40 persen yang masih minat memeluk agama tertentu.”

“Itu karena pemuka agamanya korup dan gampang menghujat.”

“Tapi apa agama masih relevan, sih?” Aku mengejar terus. “Dari dulu konsep Tuhan menciptakan alam semesta, memilih satu planet bernama Bumi, diisi manusia, terus disuruh bunuh-bunuhan sendiri, kok susah banget masuk logikaku.”

"Mencari Tuhan" ilustrasi oleh Haris.

“Tuhan itu,” kata Linus serius, “seperti horison di cakrawala. Terlihat di mata, tapi ketika kau kejar, terus menjauh. Tetap terlihat, tapi tidak pernah dapat.”

Enam bulan berlalu, akhirnya hanya ada aku dan Linus. Surat dari Keshin tidak kubalas dan mereka juga tidak menghubungi. Beberapa kawan yang tadinya rutin berkunjung untuk menanggap Linus sekadar supaya bisa tertawa gayeng, mulai bosan. Yasinta sudah jarang menelepon. Kemarin aku lihat di akun Magnolia-nya, Yasinta bikin pesta babi panggang di rumah dan aku tidak diundang. Mungkin dia takut aku datang mengajak Linus dan merusak suasana.

Senin pagi seperti biasa Linus ke masjid, melewatiku yang masih melotot di depan komputer setelah menulis semalam suntuk tanpa hasil.

“Kopi, Ustaz,” kataku menawari.

“Alhamdulillah,” jawab Linus, senyumnya cerah.


Andina Dwifatma adalah penulis sekaligus dosen di Jakarta. Debut novelnya Semusim, dan Semusim Lagi memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2012. Andina turut mengelola situs jurnalisme naratif PanaJournal.com. Prosa maupun esai lain dari Andina dapat dibaca di blog pribadinya.