Can't Handle the Truth

Motor Sport Berhantu dan Hoax Terpopuler Lainnya Pekan Ini

Sebagian hoax yang beredar pekan ini terkait bom bunuh diri Kampung Melayu. Rasanya akan ada tempat khusus di neraka untuk para penyebar berita palsu semacam itu.
28.5.17
Ilustrasi motor sport berhantu oleh Ilham Kurniawan

Selamat datang di Can't Handle the Truth, kolom VICE Indonesia merangkum hoax dan berita palsu paling ramai dibicarakan pengguna Internet selama sepekan.

Pekan ini kabar buruk mendominasi pembicaraan publik Tanah Air. Biang keroknya tentu saja aksi bom bunuh diri simpatisan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) di Terminal Kampung Melayu, Jakata Timur, yang menewaskan tiga polisi, dua pelaku, serta melukai 11 orang lainnya. Di tengah tragedi semacam itu, rupanya masih saja ada orang yang sengaja menyebar hoax yang membuat publik bertambah panik dan kalut. Benar-benar keji. Di neraka nanti sudah pasti tersedia satu lokasi penyiksaan abadi, khusus untuk para pembuat hoax. Uniknya, di pekan yang muram ini muncul pula berita palsu dan hoax yang setidaknya masih bisa membuat kita tersenyum. Apaan coba yang lucu dari kabar bohong? Tunggu saja sampai kalian membaca hoax sepeda motor hantu dari Sulawesi Tenggara. Cerita absurd itu diambil mentah-mentah oleh beberapa situs berita tanpa ada upaya konfirmasi lebih lanjut.

Iklan

Omong-omong soal sepeda motor, ada satu hoax lagi yang populer pekan ini melibatkan penunggang kuda besi. Tepatnya, kabar jika serangan brutal geng motor di kawasan Depok. (Ada apa sih sama obsesi pembuat hoax terhadap Depok dan pengendara sepeda motor? Dua pekan lalu di daerah ini muncul juga hoax tentang begal motor berpura-pura jadi pocong)

Kami sempat berharap kolom ini terpaksa berhenti tayang karena tak ada lagi pasokan hoax. Tampaknya itu cuma pepesan kosong belaka. Ya sudah, mari kita ulas lebih lanjut deretan hoax terpopuler pekan ini yang menyerbu medsos dan grup whatsapp kalian (ingat-ingat bung dan nona, broadcast di grup WA nyaris selalu tak bisa dipercaya). Mari kita mulai kolom ini dari berita palsu paling jahat lebih dulu: penyebaran foto pelaku bom bunuh diri Kampung Melayu yang ternyata bohong belaka.

Mantan Polisi dituduh jadi pelaku bom bunuh diri

Insiden terorisme seringkali membuat publik bingung. Pelaku teror selalu berharap publik akan kalut sebagai itulah agenda utama mereka. Media massa pun kesulitan memverifikasi setiap temuan terbaru pada saat peristiwa baru saja terjadi. Namun tantangan aparat hukum dan jurnalis semakin berat saja di tengah perkembangan medsos. Muncul orang-orang tolol yang memanfaatkan momen menyebar kabar bohong. Contohnya pesan berantai di Whatsapp dua hari lalu, menampilkan sosok diduga sebagai pelaku teror Kampung Melayu. Korbannya adalah mantan personel polisi bernama Rinton Girsang. Dia dulu pernah bertugas di Polda Sumatra Utara. Mendadak wajahnya dan fotonya ketika masih berdinas tersebar di grup-grup Whatsapp dengan embel-embel terduga pelaku. Tak sampai sehari, informasi ini langsung dibantah oleh polisi maupun Rinton langsung. "Saya posisi di Pontianak, tepatnya di Siantan. Saya dalam keadaan sehat walafiat," kata Rinton melalui akun Facebook-nya.

Ditemani keluarganya, Rinton melaporkan kabar bohong itu ke polisi karena merasa dirugikan. "Supaya beritanya tidak simpang siur dan merugikan suami dan keluarga kami," kata Elfira Rohdearni Butarbutar, istri Rinton.

Iklan

Tak cuma Rinton yang jadi korban. Pria asal Sukabumi, Jawa Barat, bernama Wiryawan Indra Praja turut dituduh sebagai pelaku bom bunuh diri. Wajah Wiryawan diedit sedemikian rupa, sehingga terkesan ditemukan dalam kondisi tak utuh di TKP akibat ledakan. Selain itu KTP milik Wiryawan disebut-sebut ditemukan polisi di sekitar TKP.

Kepala Kepolisian Resor Sukabumi Kota Ajun Komisaris Besar Rustam Mansur membantah kabar tersebut. "Pesan berantai yang menjadi viral di dunia media sosial merupakan hoax karena orangnya ada di rumahnya dan masih hidup," ujarnya.

Mansur menyatakan penyebar hoax dengan sengaja memanipulasi foto untuk mendiskreditkan sosok Wiryawan. Soal KTP, Wiryawan mengakui kartu identitasnya sempat hilang beberapa bulan lalu di Bogor saat menolong kecelakaan. Dia tak tahu kemudian siapa yang mengunggahnya di tengah insiden teror Kampung Melayu. "Foto seolah korban atau terduga pelaku aksi terorisme di Kampung Melayu yang disatukan dengan identitas inisial W ini," kata Mansur.

Seperti Rinton, pria 36 tahun ini segera membuat laporan resmi ke polisi untuk mencari siapa pelakunya. "Keluarga tidak nyaman dengan adanya fitnah ini," kata Wiryawan saat ditemui awak media di Polrestabes Sukabumi.

Dua pelaku yang asli adalah INS dan AS, warga Bandung yang diduga kuat tergabung dalam Jamaah Ansharut Daulah, simpatisan ISIS.

Teror Geng Motor Jepang di Depok

Sambil menunggu azab menimpa penyebar hoax di tengah tragedi terorisme, ada baiknya kita beralih ke "teror" lain yang sedang menimpa warga Kota Depok, Jawa Barat. Sepekan terakhir, penduduk Depok rutin menerima pesan berantai di Grup Whatsapp tentang ancaman kekerasan oleh anggota geng motor Jepang.

Jepang? Apakah artinya mereka anggota Yakuza? Ternyata bukan. Kayaknya saya harus mengurangi porsi nonton film laga deh. Jepang yang dimaksud adalah Jembatan Mampang (Yaelah) nama salah satu wilayah di Depok. Dalam pesan berantai itu, Geng Jepang kabarnya punya masalah dengan penduduk area Gandul, Krukut, dan Grogol. Mereka hendak tawuran memakai senjata tajam pukul 12 malam sepanjang pekan ini, sehingga pengendara motor diharap tidak melewati kawasan itu, kecuali terpaksa. Seram engga sih? Engga lah karena semua ini (seperti biasa) bohong belaka.

Iklan

"Jangan percaya, berita itu tidak benar," ujar Kasubag Humas Polresta Depok AKP Firdaus saat dikonfirmasi media lokal.

Polisi Depok sempat agak percaya juga ada gerombolan geng motor Jepang beraksi di sekitaran Mampang. Setelah diperiksa dan digelar patroli, Firdaus memastikan warga setempat merasa baik-baik saja dan tidak ada sama sekali gerombolan pengendara motor yang membuat ulah. Kalau saja penerima hoax tahu betapa banyak polisi tidur yang membentang di jalanan Depok, mereka pasti langsung sadar tak ada geng motor berminat bikin cabang di kota tersebut. Tiap lima meter ada polisi tidur bung dan nona, ngebut aja susah.

Depok = Kota Polisi Tidur!

Motor Sport Berhantu di Konawe

Tibalah kita di hoax populer paling tolol pekan ini. Beberapa situs berita nasional secara mentah-mentah, mengangkat cerita tentang sepeda motor sport yang konon tidak bisa dipindahkan selama dua tahun. Kabarnya si pemilik motor meninggal dunia. Sepeda motor itu terletak di jalan raya antara Konawe-Morowali.

Keberadan sepeda motor jenis Honda CBR ini disebut-sebut meresahkan warga, karena selama dua tahun teronggok begitu saja di pinggir jalan dekat perkebunan. Setiap kali dipindah, motor itu kembali ke tempat semula. Karena di situlah lokasi sang pemilik meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Dari mana sumber cerita ini? Sebuah akun Facebook. Hmm.

Alay-alay senang hati membagikan cerita motor hantu di Konawe sepanjang pekan ini. Karena alay tentu saja tak peduli jika cerita hantu semacam ini, yang awalnya tersebar lewat Facebook, setelah dibaca sekilas langsung kerasa gobloknya engga ketulungan. Kalau ada orang yang lihat Honda CBR ngejogrok gitu aja di pinggir jalan, yang ada juga itu motor dibawa ke tukang loak atau penadah kali. Kalaupun motornya balik lagi beneran ke tempat semula, kan kita seenggaknya udah dapat duit.

Polisi sampai malu saat menyelidiki dugaan ada polisi yang meresahkan warga di perbatasan Konawe-Morowali. Direktur Lalu Lintas Polda Sulawesi Tenggara, Komisaris Besar Wisnu Putra, menyatakan di jalanan yang dimaksud tidak pernah tercatat ada kecelakaan yang menyebabkan seseorang tewas.

Tahu apalagi yang lebih kocak? "Itu motor punya orang. Pemiliknya lagi di kebun," kata Wisnu saat dihubungi Detik.com.

Hadeehhhh…..

Barangkali si pembuat hoax ini awalnya terkesan melihat motor Honda CBR yang harganya di kisaran Rp30-an juta diparkir begitu saja di pinggir jalan raya. Batinnya tak bisa menerima kenyataan, kenapa motor sport segitu bagus dibiarkan teronggok tanpa dijaga pemiliknya. Lalu setelah memotret motor itu beberapa kali, dia mulai mengarang bebas. Di tengah kecaman atas kualitas buruknya naskah film-film horor Indonesia masa kini, sebaiknya pembuat hoax dari Sulawesi Tenggara itu segera melamar jadi penulis skenario profesional saja.