Good Kids, Mad City: Rapper Remaja Mengubah Citra Kelam Kawasan Kumuh Bangkok
Semua foto oleh Tawan Pongphat.
Hip Hop Asia Tenggara

Good Kids, Mad City: Rapper Remaja Mengubah Citra Kelam Kawasan Kumuh Bangkok

Eleven Fingers dan 19Tyger adalah rapper yang naik daun di kancah hip hop Thailand. Mereka ingin kampung halamannya, pemukiman kumuh dan miskin Khlong Toey, tak lagi dipandang sebelah mata.
21.9.18

Eleven Fingers sadar apa yang ada di pikiran orang-orang setelah mendengar nama kampung halamannya. "Miskin, kumuh, bahaya, tempat tinggal para kriminal. Seperti itulah persepsi orang saat membahas kami," demikian cuplikan lirik lagunya yang ia beri judul "Klong Toey, My City."

Klong Toey adalah salah satu pemukiman paling padat di Bangkok, Thailand. Penduduk berjejalan di rusun yang tak terawat, gang-gang sempit, dan banyak yang tinggal di sana tanpa pernah punya kartu identitas—boro-boro membayar pajak. Klong Toey terletak di antara jalan Sukhumvit dan tepian Sungai Chao Phraya. Perkampungan padat ini mulai berkembang di luar kendali pemerintah sejak 60 tahun lalu. Merujuk data terakhir, diperkirakan lebih dari 80 ribu orang tinggal di kampung tersebut.

Kawasan kumuh ini muncul akibat urbanisasi yang massif pada awal dekade 1960'an. Banyak penduduk pedesaan Thailand pindah ke ibu kota mencari kerja. Lokasi kos atau rumah kontrakan paling murah ada di Klong Toey, yang lokasinya dekat dengan sungai. Sebetulnya nyari seluruh tanah di sana dimiliki oleh otoritas pelabuhan sungai. Namun orang-orang menduduki lahan tanpa izin, dibiarkan, dan jadilah kemudian Klong Toey menjadi pemukiman superpadat.

Masalahnya, Klong Toey tidak sendirian. Statistik menunjukkan 20 persen penduduk Bangkok, dari total 8,3 juta orang yang tercatat resmi, hidup di permukiman urban padat macam itu. Eleven Fingers dan sobat karibnya, 19Tyger, tumbuh besar di jalanan yang dianggap kumuh. Pemukiman padat adalah realitas sehari-hari yang diakrabi dua rapper muda tersebut. Kekumuhan justru lebih dekat dengan mereka, dibanding mal gemerlap Pathum Wan, yang sebetulnya hanya berjarak enam kilometer dari tempat tinggal keduanya.

Iklan

Ternyata bagi banyak orang di Bangkok, keberadaan kawasan kumuh itu senantiasa coba ditampik, coba disembunyikan dari kenyataan. Masih banyak orang menganggap Klong Toey adalah tempatnya orang jahat yang berkubang dalam kemiskinan, sekaligus pusat peredaran obat-obatan terlarang.

Suka tidak suka, kepadatan yang tidak diatur selama puluhan tahun akan mengundang berbagai masalah sosial. Tidak bisa dipungkiri, berbagai tindak kejahatan memang mewarnai keseharian penduduk Klong Toey. Pemerintah Thailand, di bawah kepemimpinan mantan Perdanan Menteri Thaksin Shinawatra, pernah menggelar perang narkoba. Sasarannya adalah Klong Toey, karena disinyalir banyak bandar sabu beroperasi di sana. Di kawasan ini saja, selama operasi massif kepolisian, lebih dari 45 orang ditembak mati.

Namun, buat Eleven Fingers, tidak adil jika tanah kelahirannya hanya dilekati imej sebagai surga narkoba. Rapper yang masih berusia 17 itu ingin membuktikan ada banyak hal menarik di Klong Toey. Bersama 19Tyger, yang dua tahun lebih tua darinya, Eleven Fingers memproduksi lagu-lagu rap yang menceritakan soal rasa setia kawan penduduk Klong Toey. Dia menulis berbagai sisi yang dilupakan orang Thailand, tiap kali membahas kawasan kumuh.

Eleven Fingers

"Orang-orang terlanjur selalu memberi cap buruk soal kampung saya," kata Eleven Fingers kepada VICE Indonesia. "Citra buruk itu merugikan. Saya sering banget sulit mencegat taksi tiap malam mau pulang ke rumah. Setelah tahu kalau rumah saya dekat pelabuhan sungai, sopir-sopir pasti menolak mengantar atau membatalkan pesanan saya di aplikasi online."

19Tyger mengalami diskriminasi serupa. "Banyak orang malas main ke rumah saya karena menganggap lingkungannya berbahaya. Atau mereka takut ditipu sama warga Klong Toey."

Iklan

Keduanya tidak menampik, memang ada orang jahat tinggal di Klong Toey. 19Tyger menceritakan pada VICE pengalaman seorang sopir taksi yang dikibuli perempuan remaja setempat. Remaja itu naik taksi sampai gang depan rumah, turun, lalu langsung lari tanpa membayar. Sopir yang sadar setelah ditipu marah-marah di pinggir jalan. Warga yang penasaran datang bertanya. Setelah tahu duduk perkaranya, beberapa warga minta maaf atas kelakuan perempuan muda tadi, dan patungan membayar ongkos taksinya.

Matahari Tak Pernah Terbit di Tambora

Buat 19Tyger, cerita itu menunjukkan warga Klong Toey sangat setia kawan. Mereka pun bukan sekadar kumpulan kriminal. Mereka tahu mana yang salah dan mana yang benar.

Terinspirasi kisah-kisah dari tempat tinggalnya, 19Tyger lantas merilis banyak lagu rap dengan lirik seputar keseharian Klong Toey bersama sobatnya. Satu lagu yang menjadi viral di YouTube adalah "I’m Klong Toey." Hingga artikel ini dilansir, lagu tersebut sudah ditonton lebih dari 1,3 juta kali. Dalam video klipnya, 19Tyger berkeliling Klong Toey, merepet rima tentang pentingnya solidaritas, sekaligus balas mencerca orang luar yang sering meremehkan Klong Toey hanya karena mayoritas penduduknya miskin.

Dalam videonya, 19Tyger dan Eleven Fingers, mengenakan kaos yang desainnya mirip Supreme, tapi tulisannya diganti "Klong Toey." Mereka berdua berusaha mengajak anak muda setempat untuk bangga dengan identitas kawasan Klong Toey. Bangga dengan kampung mereka bukan hal yang negatif.

Sebab, memang itulah tujuan utama Eleven Fingers ngerap (nama aslinya Thanayut Na Ayutthaya). Dia terinspirasi masa lalunya sendiri. Eleven memiliih nama panggung unik itu karena dia punya 11 jari tangan, ada satu daging kecil di dekat jempol yang muncul di tangan kirinya. Ia dan keluarga tak pernah mau mengoperasi jari tak sempurna tersebut.

"Anak-anak lain sering banget ngeledek saya gara-gara jari ini," ujarnya. "Mereka suka ngolok-olok, "dasar monster jari 11", kayak gitulah. Pastinya dulu pas kecil saya sakit hati. Tapi setelah sekarang mulai berkarir jadi rapper, saya malah bangga memakainya buat nama panggung. Saya tidak malu. Justru itulah identitas saya."

Sementara 19Tyger (nama aslinya Kasidech Sangjan) mengaku membuat nama panggung yang terinspirasi Tiger Woods. Dia merasa punya kesamaan nasib seperti pegolf legendaris itu, yakni sama-sama anak hasil perkawinan lelaki kulit hitam Amerika Serikat dengan perempuan Thailand. Masa lalu 19Tyger amat suram. Dia menolak menjelaskan detail pada VICE, tapi intinya kedua orang tuanya, "terlibat dalam banyak hal seram." Dia sama sekali tidak pernah lagi bertemu mereka sejak berusia lima tahun. Sangjan dibesarkan sang nenek sampai sekarang.

19Tyger di depan rusunnya.

"Banyak orang di kampung sini menghormati saya, karena mereka tahu saya sejak kecil. Saya juga sering main sama semua orang kampung," kata 19Tyger sambil tertawa. "Tapi, kalau sudah keluar dari Klong Toey, udah enggak heran ada saja orang ngata-ngatain saya pakai ucapan rasis, hanya karena saya kulitnya hitam."

Kedua rapper muda tadi, lantas mengajak VICE main menyusuri gang dan taman bermain di Klong Toey. Eleven Fingers menilai berbagai cap buruk soal kampungnya sudah ketinggalan zaman. Sekarang banyak warga asyik bermain di ruang terbuka, bersama anak-anak mereka. Ingin olahraga? Warga bisa main basket, ada gym untuk bersama, dan lapangan futsal. Dulu mana mungkin hal macam ini bisa terjadi. Nyaris semua rumah pun sekarang sudah terhubung listrik, pasokan airnya lancar. Jalan-jalan di dalam kampung pun sudah dibeton, bukan lagi cuma balok kayu.

Iklan

Karena gigih mengubah citra Klong Toey lewat lagu-lagu di Youtube, kedua rapper muda itu kini jadi bintang bagi penduduk kampung. Selama wawancara, tak terhitung lagi anak muda yang mendatangi mereka untuk minta selfie dan memberi ucapan selamat. "Wah, itu dia MC terkenal," teriak seorang ibu rumah tangga dari dalam rumah saat melihat Eleven dan 19Tyger melintas. "Aku penggemar kalian juga lho," teriak satu perempuan paruh baya lain dari balkon atas rusun sambil menjemur pakaian.

Eleven Fingers bilang inspirasi awalnya ngerap muncul setelah melihat aksi panggung 19Tyger. Bisa dibilang, 19Tyger adalah bocah Klong Toey pertama yang serius mempelajari rap dan kultur hip hop. Setelah ikut membina Eleven Fingers, 19Tyger kini punya banyak anak muda lain yang serius menekuni karir sebagai rapper.

Eleven Finger masih duduk di bangku SMA, tapi sudah sangat sibuk membina komunitas. Bersama 19Tyger, mereka rajin menggelar gig lokal seputaran Bangkok, serta menyediakan panggung bagi rapper debutan lain asal Klong Toey. Eleven malah sudah punya "murid" sendiri, remaja 13 tahun dengan nama panggung CrazyKid, yang belum lama ini tampil di salah satu televisi nasional.

Rapper-rapper muda Klong Toey ini sangat erat hubungannya. Dalam satu pentas, 19Tyger melihat mic Eleven mati. Tanpa ragu, dia segera memberikan mic yang dia pegang untuk dipakai juniornya. Jadi, mereka tidak sekadar menjadi patron, atau sok jadi senior. Eleven maupun 19Tyger berusaha memberi contoh positif. Melihat perkembangannya sekarang, bukan tidak mungkin kancah hip hop Klong Toey akan berkembang sangat pesat di masa mendatang.

Eleven Fingers bersama sang ibu di kamar rumah mereka yang terletak dalam gang.

Jalan-jalan singkat keliling Klong Toey diakhiri di rumah Eleven Finger. Letaknya masuk dalam gang, bangunannya sempit, tapi sangat rapi. Jauh dari kesan kumuh. Kamar tidur Eleven bahkan terkesan amat lega, sekalipun ukurannya cuma 3X3. Eleven adalah remaja yang tertib, dan itu tercermin dari kamar pribadinya. Di pojokan, terdapat sepasang sneakers yang biasa dia pakai naik panggung. Di atas lemari, ada piala yang baru saja dia dapatkan setelh memenangi rap battle tingkat Bangkok.

Di temboknya yang berwarna hijau, terpampang posternya naik panggung di salah satu festival musik Thailand. Saat saya hendak pamit pulang sore itu, Eleven menceritakan jadwal manggung di restoran sushi elit Bangkok keesokan malam. Itu kawasan CBD Bangkok, kesannya hanya untuk orang kaya saja.

"Kalau misalnya karir musikmu makin sukses dan kamu punya uang banyak, apakah kamu akan pindah dari Klong Toey?" kutanya ia begitu saja.

"Enggak lah. Saya mau tinggal di sini terus lalu membuka sekolah musik buat anak muda," balasnya cepat.

Saya percaya dia akan menepati kata-katanya ketika sukses kelak.


James Buchanan adalah peneliti serta kandidat PhD dari Department of Asian and International Studies, City University of Hong Kong. Di waktu luangnya, dia menulis laporan panjang untuk VICE Indonesia