Tragedi Bumi Datar

Roket Pendukung Bumi Datar Akhirnya Meluncur, Sayangnya Bumi Ternyata Masih Bulat

Mike Hughes asal AS cuma terbang hingga ketinggian 600-an meter. Tidak cukup tinggi buat mengukur lengkung bumi. Tapi dia tetap pede mau ke luar angkasa sekaligus maju jadi gubernur.
Foto diri Hughes sebelum peluncuran roket via Facebook; foto momen peluncuran oleh Matt Hartman via Associated Press

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Setelah dibatalkan berkali-kali, “Mad” Mike Hughes yang percaya teori bumi datar akhirnya meluncurkan dirinya dalam roket buatan sendiri bertenaga uap Sabtu akhir pekan lalu. Hughes berhasil mencapai ketinggian 1.875 kaki (tak sampai 600 meter), kecepatan tertinggi mencapai 563 kilometer per jam, tapi tak lama dia langsung membuka parasut roketnya dan kembali ke daratan.

Iklan

Roket yang dibuat dengan ongkos US$20.000 (setara Rp274 juta) tersebut dibubuhi tulisan “Research Flat Earth.” Sebagian dana peluncuran roket dikumpulkan secara massal oleh kelompok bernama sama (mereka betulan percaya bumi datar lah pokoknya). Roket ini diluncurkan dari sebuah rel yang dipasang pada bagian belakang sebuah rumah beroda yang dimodifikasi.

Peluncuran roket tersebut mulanya dijadwalkan sejak akhir November tahun lalu. Namun percobaan pertamanya tertunda karena pemerintah Amerika Serikat memperingatkan Hughes bila dia tidak boleh meluncurkan roketnya di atas lahan milik negara.

Menurut kantor berita Associated Press, akhir pekan lalu upaya Hughes terbang untuk membuktikan bila bentuk bumi datar nyaris kembali gagal. Roket tersebut mulai kehilangan tekanan beberapa detik setelah meluncur. Namun, mengabaikan urusan keamanan, Hughes tetap naik ke roket tersebut dan meluncurkan dirinya sendiri, bahkan tanpa hitungan mundur untuk menandai peristiwa penting tersebut.

Seperti tampak pada video peluncuran di atas, semua berjalan sesuai rencana. Parasut utama Hughes terbuka pada titik puncak lintasan roket, meski dia perlu membuka parasut sekunder di perjalanan untuk melambatkan turunnya roket. Saat mendarat, bagian hidung roket tersebut terbelah dua seperti yang sudah direncanakan.

“Apakah saya senang telah melakukannya? Ya, saya rasa begitu,” ujar Hughes, kini berusia 61 tahun, pada Associated Press. “Saya bisa merasakannya di pagi hari. Saya gak akan bisa bangun dari kasur. Setidaknya saya bisa pulang dan makan malam dan main sama kucing-kucing saya malam ini.”

Iklan

Peluncuran ini terjadi di luar Amboy, kota sepi di pinggiran Gurun Mojave. Jaraknya 241 kilometer dari Los Angeles dan kantor utama SpaceX, yang secara teknis telah meluncurkan manusia berjumlah lebih sedikit dengan roket mereka dibandingkan Hughes pada titik ini.

Peluncuran pada hari Sabtu adalah peluncuran kedua yang dilakukan Hughes. Pada 2014, dia meluncurkan dirinya sendiri dalam roket tenaga uap pertamanya pada ketinggian sekitar 1.300 kaki. Peluncuran tersebut berujung pada Hughes terkapar setelah pendaratan dan membutuhkan beberapa hari untuk pulih.

Sedihnya, Hughes dan rekan-rekan sesama kubu bumi datar masih belum berhasil membuktikan bumi tidak bulat. Apalagi mengingat percobaan mereka meluncurkan roket justru semakin menegaskan adanya, ehem, gravitasi yang selalu dianggap cuma hoax oleh kaum flat earth.

Selamat dari dua peluncuran dalam roket buatan rumah adalah pencapaian yang lumayan mengesankan—terutama saat kamu menyangkal sains mendasar—namun sayangnya bagi Hughes aksinya berkontribusi sedikit pada perdebatan “bumi datar.” Untuk melihat lengkungan Bumi, seharusnya siapapun perlu mencapai ketinggian minimal 35.000 kaki, itupun masih membutuhkan jarak pandang yang lebar supaya bisa leluasa mengambil gambar.

Hughes cuma mencapai 5 persen dari batas minimum observasi, namun kepada Associated Press dia berencana meluncurkan dirinya dengan roket buatan rumah yang dipasang pada balon cuaca beberapa tahun lagi.

Dia bilang upaya terbarunya itu akan membantunya mencapai ketinggian sekitar 109 kilometer, tanpa menjelaskan bakal pakai teknologi macam apa. Percobaan itu bisa saja tak akan pernah terwujud. Soalnya, belakangan Hughes mendadak tertarik ke politik. Makanya tidak jelas apakah upaya pencalonannya untuk kursi gubernur akan berdampak pada ambisi luar angkasa macam ini.

"Apakah setelah [naik roket] aku masih percaya bumi bentuknya lebih mirip frisbee? Masih kok," ujarnya saat diwawancarai LA Times. "Tapi apakah aku sudah yakin bentuknya seperti itu? Belum. Makanya aku tetap ingin pergi ke luar angkasa."

Oke. Semoga sukses deh pakbos!