Kisah Pendeta Gereja Ortodoks Melindungi Sumur Suci di Tepi Barat, Palestina

"Saya mempertaruhkan segalanya demi sumur suci ini," kata pendeta yang berulang kali nyaris terbunuh itu. Berikut narasi dituturkan langsung oleh Archimandrite Ioustinos, penjaga Sumur Yakub di Tepi Barat, situs suci bagi umat Islam maupun Kristen.
JF
seperti diceritakan pada Justin Fornal
25.3.18
Sosok Archimandrite Iostinos. Semua foto oleh Christopher Beauchamp.

Archimandrite Ioustinos adalah Pendeta Gereja Ortodoks Yunani berusia 77 tahun yang tinggal di Gereja St. Photini, Kota Nablus, Tepi Barat, Palestina. Ioustinos bertugas sebagai penjaga Sumur Yakub, sumur kuno yang sering dikaitkan dengan beberapa kisah dalam alkitab, sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Ini kisah yang diceritakan langsung olehnya kepada jurnalis VICE Justin Fornal melalui beberapa kali wawancara.


Nama saya Archimandrite Ioustinos. Saya ditunjuk sebagai penjaga Gereja Santa Photini di Nablus, Palestina, sejak 1980. Di ruang bawah tanah gereja ini, umat Kristiani percaya terdapat sungai yang digali oleh Yakub saat dia kembali ke Shechem dari Paddan Aram (Kitab Kejadian 33:19). Di sinilah, Yesus menerima air dari seorang perempuan Samaria, Photini (Yohanes 4:5-7). Tempat ini sangat penting bagi penganut Islam, Yahudi, maupun Kristen Ortodoks seperti saya.

Saya dipilih melindungi air suci ini. Penjaga sebelumnya, Philoumenos Hasapis, adalah teman saya sendiri. Dia terbunuh karena serangan kapak fundamentalis. Banyak orang juga mencoba membunuh saya, tapi beruntung saya masih hidup sampai sekarang. Saya rela menghabiskan sisa hidup demi menjaga sumur dan gereja ini.

Archimandrite Ioustinos saat dikunjungi jemaat gereja St. Photini.

Saya lahir pada 16 April 1941 di Ikaria, sebuah pulau sisi selatan Yunani. Saat masih muda, pasukan Nazi Jerman dan Italia menjajah kampung saya. Keluarga saya hidup dalam kesulitan dan sepertinya tidak banyak momen indah yang saya ingat saat masih kecil dulu. Saya menghabiskan sebagian besar waktu di Tepi Barat, jadi saya sering merasa seperti orang asing di rumah orang tua di Yunani.

Ayah saya adalah seorang insinyur yang dihormati di pulau tempat tinggal saya. Orang tua berharap saya bisa mengikuti jejak ayah, setelah beranjak dewasa. Saya bertemu seorang biarawati tua saat saya masih delapan tahun. Kami sering membahas segala hal tentang agama kami. Inilah yang membuat saya tertarik menjadi pendeta di Gereja Ortodoks Yunani. Saat saya memberi tahu keluarga tentang ini, keluarga tidak menyetujui. Kami tidak menghubungi satu sama lain selama enam tahun.

Saya datang ke Palestina pada 1960. Saya menjadi pendeta di Bethlehem sebelum pindah ke Nisf Jubeil. Saya bertuga mengawasi wilayah ini selama bertahun-tahun. Saya memanfaatkan waktu untuk belajar bahasa Arab, Inggris, dan Ibrani. Sayangnya, saya tidak terlalu fasih berbahasa Ibrani. Pada 1979, saya kira saya akan dipilih menjadi penjaga Sumur Yakub, tapi ternyata malah teman saya yang terpilih. Pada 29 November di tahun yang sama, ada orang psiko bernama Asher Raby yang mendatangi gereja. Dia melemparkan granat ke gereja. Ledakannya menghancurkan dan menghanguskan gereja. Philoumenos mengamankan diri dan Raby, yang sedang memegang kapak, menubruk dan membunuhnya. Setelahnya, pembunuh melarikan diri.

Kondisi Sumur Yakub memburuk sejak insiden pembunuhan itu. Gereja disegel dan kuncinya diserahkan ke Yerusalem. Saya tidak mau menggantikan posisi Philoumenos karena takut mengalami hal yang sama. Suatu malam, saya bermimpi merenovasi gereja dan bertugas sebagai penjaga di sana. Saya memutuskan pergi ke Yerusalem untuk mengambil kunci dan merenovasi gereja.

Ornamen yang menghiasi dinding Gereja St. Photini di Nablus.

Pada 1982, Raby kembali menyerang salah satu biarawati memakai kampak. Biarawati tersebut luka parah. Raby sempat kabur, tapi dia kembali ke gereja, memanjat tembok gereja lewat tangga, dan masuk membawa granat serta kapak. Dia mencoba membunuh saya, tapi saya berhasil menghindar sembari mematahkan kakinya. Dia pun dipenjara.

Raby masih 37 tahun waktu itu. Dia tinggal di Tel-Aviv. Dia seorang Yahudi heterodoks yang merasa gereja kami tidak pantas berada di sini. Dia juga telah membunuh beberapa orang lainnya di seantero Israel (tidak berkaitan dengan gereja kami).

Kondisi Sumur Yakub jauh lebih baik saat Raby berhasil ditangkap. Kami mulai membersihkan gereja dan membuatnya seperti sedia kala lagi. Saya membangun kantor dan biara, lalu melukis mural di dindingnya. Pada 1998, saya memperoleh izin bangunan dari Yasser Arafat, dan merenovasi gereja secara besar-besaran.

Lalu terjadilah Intifida kedua (sebutan bagi konflik Israel-Palestina, melibatkan perjuangan seluruh rakyat sipil) pada 2000. Hidup kami sangat sengsara. Saya harus berlindung di gereja selama berbulan-bulan lamanya. Saya menghabiskan waktu melukis mural dan berdoa. Saya berdoa agar gereja aman-aman saja. Sempat ada tank Israel yang menembak gerbang masuk kami, untungnya tidak hancur sama sekali. Mereka mencoba menjatuhkan lima bom tapi tidak ada satu pun yang meledak. Saya bersyukur malaikat telah menjaga kami dengan sangat baik.

Pada 2009, Philoumenos dimasukkan ke dalam daftar orang suci oleh Holy and Sacred Synod dari Patriarkat Yerusalem. Saat kami menggali kuburannya, tubuh dia masih utuh dan tidak membusuk sama sekali. Padahal dia sudah meninggal selama hampir 30 tahun. Kami membuat beberapa pusaka menggunakan potongan tubuhnya dan mengirimkannya ke beberapa gereja di dunia.

Pecahan tulang yang disebut-sebut berasal dari sosok Photini, perempuan Samaria yang memberi minum Yesus Kristus.

Kami juga mempunyai pusaka lainnya di gereja ini. Gereja kami dinamai St. Photini, lantaran kami memiliki potongan batok kepala Photini yang dipajang di depan altar.

Begini cerita tentang Photini. Pada awal abad pertama, Yesus sedang berjalan dalam perjalanannya dari Yudea ke Galilea melalui Nablus. Kota ini pada waktu itu disebut Sychar. Yesus berhenti di sumur ini beristirahat. Dia merasa sangat haus. Ketika Yesus sedang duduk di sana, seorang perempuan mendekati sumur sambil mengambil air.

Pada saat itu, sumur adalah milik orang Samaria, jadi Yesus meminta izinnya untuk minum. Tidaklah pantas bagi perempuan Samaria untuk berhubungan dengan seorang pria Yahudi, sehingga perempuan itu berkata kepadanya, “Bagaimana mungkin Anda, seorang Yahudi, meminta minum kepada perempuan Samaria?” Mereka berdiskusi singkat dan Yesus menyimpulkan, “Setiap orang yang meminum air ini akan haus lagi, tetapi mereka yang minum dari air yang akan saya berikan tidak akan pernah merasa haus. Air yang akan saya berikan akan menjadi mata air yang abadi.”

Perempuan itu berkata kepadanya, “Tuan, tolong berikan air itu kepada saya, agar saya tidak perlu merasa haus dan kembali ke sini lagi.”

Perempuan ini, yang tidak diketahui nama aslinya, mempercayai Yesus sebagai Mesias. Dia lantas dibaptis dengan sebutan Photini, yang berarti “yang tercerahkan.” Setelah bertemu Yesus, Photini mengunjungi berbagai tempat membahas Injil Kristus sembari membaptis banyak orang. Photini dibawa menghadap Kaisar Romawi Nero untuk diazab akibat tindakannya. Dia dibunuh dan disiksa sebagai martir. Sampai akhir hidupnya, Photini menolak dipaksa berhenti menganut kepercayaannya terhadap pengorbanan Yesus bagi umat manusia.

Archimandrite Ioustinos berpose di depan nisannya sendiri.

Kami bekerja keras menjaga supaya gereja tetap aktif dan tampak rapi. Saya berharap bisa memiliki nasib bagus yang sama seperti Gereja Yohanes Sang Pembaptis yang tetap berdiri tegak di antara reruntuhan di kota Sebastiya. Gereja asli dibangun di tempat Santo Yohanes dipancung oleh Herod Antipas. Hampir semua situs di seluruh tanah suci memicu pertikaian. Baru-baru ini, sekumpulan pria dari kamp pengungsi Balata menembakkan senapan mesin ke pintu gereja kami. Saya yakin ada pihak tertentu yang mencoba memprovokasi situasi buruk yang sebenarnya tidak terjadi.

Saya sudah mempersiapkan makam dan mosaik diri saya di atasnya kalau-kalau saya meninggal nanti. Sumur yang saya jaga ini airnya sangat jernih dan sakral. Saya sudah menyaksikan banyak keajaiban yang diciptakan dari sumur ini. Saya meminumnya setiap hari dan memberkati semua peziarah yang mendatangi situs ini. Kerabat yang mengunjungi saya meminum air ini demi kesehatan mereka. Semoga kedamaian selalu menyertai kita semua.

Jangan lupa ikuti Justin Fornal di akun Twitternya .