solusi medis

Seorang Peneliti Asal Australia Keukeuh Bilang Belatung Paling Efektif Sembuhkan Luka

Dia bermaksud menjadikan terapi belatung sebagai metode andalan untuk menyembuhkan luka kronis.
Gavin Butler
Melbourne, AU
Belatung untuk keperluan medis
Foto via pemilik akun Flickrrjp; cropped; CC licence 2.0

Dr Frank Stadler ingin lebih sering melihat belatung di rumah sakit. Tiga tahun terakhir ini, peneliti asal Griffith University ini getol memelajari faedah larva pemakan daging bagi manusia serta kelebihan medis “terapi belatung” atau penyembuhan luka kronis dengan memanfaatkan belatung.

Sebetulnya, pemanfaatan belatung untuk merawat luka bukan barang baru. Setidaknya sejak Perang Dunia I, belatung sudah ditaruh di atas luka yang tak kunjung sembuh. Saat ini, ada sebanyak 1.300 pusat pelayanan medis di Amerika Serikat, Inggris dan seantero Eropa yang menawarkan terapi ini. Di Australia sendiri, pasokan belatung steril sepenuhnya masih datang dari Westmead Hospital, Sydney, seperti yang diberitakan kantor berita ABC. Dalam penerapannya, terapi belatung adalah opsi terakhir penyembuhan luka pada seorang pasien. Frank gatal sekali ingin mengubah ini. Dia ingin terapi belatung sebagai terapi pertama yang tersedia bagi semua orang di Australia yang menderita luka kronis.

Iklan

“Belatung itu luar biasa,” ujar Frank. “Mereka memakan semua jaringan tubuh yang membusuk dan mati dalam luka..dan menyingkirkan bakteri dengan memakan dan mencernanya melalui ekskresi dan sekresi yang mereka keluarkan di atas sebuah luka.”

Frank lebih jauh menjelaskan bahwa sifat “anti-mikrobial” belatung ini bisa digunakan untuk menjaga infeksi agar tidak merajalela sehingga tubuh punya kesempatan untuk betul-betul menyembuhkan luka. Proses penyingkiran jaringan tubuh yang mati atau membusuk yang mempercepat penyembuhan luka ini dikenal dengan nama “debridement.” Belatung kemudian “mensterilkan” luka dengan mengeluarkan sekresi yang mengandung senyawa anti bakteri dan memicu pertumbuhan pembuluh dari kapiler baru.

Dengan demikian, terapi belatung—merujuk kata-kata Frank—bisa dianggap sebagai penyelamat nyawa dan bagian tubuh manusia. Frank sendiri memperkirakan terapi ini akan makin populer dan diperlukan ketika kekebalan akan antibiotik meningkat. “Penisilin kehilangan keampuhannya saat resistensi terhadap penisilin mengalami peningkatan,” tegasnya, “Sejauh ini, terapi belatung sangat efisien dalam mengatasi infeksi yang kebal penisilin seperti infeksi staph.”

Belatung-belatung yang digunakan dalam terapi merupakan belatung steril yang dipanen dari koloni lalat yang sengaja dikembangbiakkan. Dalam prakteknya, larva-larva ini ditempatkan langsung di dalam luka dan dibalut dengan kain mirip kawat nyamuk. Situs dermatologis Dermnet NZ menjelaskan proses ini dapat membuat pasien kesakitan, terutama saat belatungnya menggemuk dan berkembang biak dalam balutannya.

Selain itu, situs tersebut juga mewanti-wanti agar jangan sampai “lukanya menutup saat belatung masih ada dalam balutan.” Makanya, setelah puas memakan jaringan tubuh yang mati dan membusuk selama dua sampai empat hari, belatung-belatung tersebut harus diangkat. Namun, menurut Frank, hasil terapinya “fantastis.”

"Dalam banyak kasus belakangan ini saat seorang pasien datang luka yang sudah berbelatung, para praktisi medis harus mengakui luka itu kelihatan sempurna,” katanya. “Luka macam itu kelihatan baik-baik saja kok.”