Seksualitas

Jika Menjalin Hubungan Poliamori, Bolehkah Kita Cemburu? Ini Jawaban Dari Pelakunya

Lola Phoenix, pakar pacaran dengan lebih dari satu orang bersamaan, membagi tipsnya saat menangani emosi dalam hubungan poliamori.
Sirin Kale
seperti diceritakan pada Sirin Kale
Hubungan poliamori, pacaran dengan lebih dari satu orang bersamaan
Ilustrasi oleh hubungan poliamori oleh Camilla Ru 

My First Time adalah kolom dan seri podcast membahas seksualitas dan gender, dengan perspektif ingin tahu sesuatu yang baru. Kita semua tahu “yang pertama kali” itu bukan cuma sekedar hubungan seks bagi perawan. Bereksperimen sama hal-hal kinky, menjajal aktivitas seksual baru yang agak gila, dan banyak lagi lainnya juga harus dipertimbangkan. Semua orang mengalami “pertama kali” versi masing-masing ribuan kali di kamar tidur—hal itu yang membuat seks jadi seru, kan?!

Iklan

Dalam artikel kali ini, kolumnis Lola Phoenix berbagi pengalamannya menjalani poliamori. Kamu bisa mendengarkan My First Time di Apple Podcasts , Google Play , Spotify dan situs-situs lain yang biasa menyediakan podcast.


Aku mulai tahu tentang konsep poliamori 12 tahun lalu. Saat itu, pandanganku soal seks kurang baik. Intinya, seks membuatku takut—jadi aku memutuskan mendidik diri sendiri dengan berbagai topik yang positif. Aku sengaja mendengarkan banyak podcast yang membahas seks dari perspektif positif, dan dari sana aku mengenal poliamori.

Aku seorang demiseksual, yang artinya aku harus punya hubungan emosional sama seseorang sebelum memiliki ketertarikan seksual. Aku memilih hubungan poliamori karena aku jarang tertarik pada orang lain. Makanya aku ingin mendapat kesempatan menjelajahi hubungan macam ini ketika naksir seseorang.

Aku kenal cowok bernama Kyle di internet. Aku sejak lama berencana kuliah di Inggris, jadi aku kepingin terhubung sama pelaku poliamori sebelum pindah ke sana. Aku ngobrol dengannya setiap hari selama setahun. Kami jadian dan LDR-an waktu itu. Suatu hari, dia bertanya: “Kamu sudah lihat Facebook-ku belum?” Aku cek Facebooknya dan ternyata Kyle punya pacar baru bernama Felicity. Rasanya tuh jleb banget pas melihat statusnya.

Saat kalian mulai mendalami poliamori, banyak buku yang menekankan pentingnya agar tiap pasangan enggak cemburu dan mengendalikan siapapun dalam hubungan. Aku berusaha menerima kenyataan, meskipun aku heran kenapa dia enggak memberitahuku sejak awal kalau sedang mencari pacar lain. Dia bahkan enggak mengizinkanku kenalan sama Felicity. Dari sini, aku baru menyadari kalau Kyle sering kasar [secara emosional]. Dia suka berkata kasar tanpa alasan jelas.

Iklan

Semuanya makin runyam ketika aku mau pindah ke London. Aku nge-chat Kyle untuk bertanya, boleh kah tinggal bareng sama dia. Eh, dia malah bilang “Aku tanya Felicity dulu ya.” Dia enggak pernah minta pendapatku sebelum punya pasangan baru, tapi kenapa Kyle harus minta izin dari Felicity dulu kalau aku mau tinggal bareng dia? Aku marah, tapi akhirnya memendam kekesalanku karena ini pertama kalinya aku menjalani hubungan poliamori.

Aku harus maklum karena mengira ini wajar terjadi dalam open relationship. Tak lama kemudian, Kyle bilang Felicity setuju dan enggak sabar mau ketemu denganku. Aku cukup syok waktu dengar Kyle nyebut-nyebut soal seks, makanya aku memutuskan enggak jadi tinggal bareng mereka. Aku merasa risih hanya dengan memikirkannya.

Lewat chat, aku bilang "Kayaknya kita enggak usah ketemuan saja, deh." Dia tanya alasannya, dan aku balas: "Habisnya perilakumu itu bangsat banget." Dia memblokirku dari semua kanal komunikasi.

Aku kepikiran untuk memperingatkan Felicity betapa berengseknya Kyle, tapi akhirnya mengurungkan niat karena enggak mau kelihatan seperti mantan yang cemburuan. Beberapa bulan kemudian, aku enggak sengaja bertemu sama Felicity di sebuah pesta di London.

1549454402923-Screen-Shot-2019-02-06-at-185945

Lola Phoenix. Foto dari arsip pribadi

Aku menghampiri dan menyapanya, tapi ternyata dia enggak tahu siapa aku. Kyle enggak pernah sama sekali cerita tentangku. Felicity langsung kirim SMS ke Kyle, "Hei, aku baru saja ketemu Lola!"

Tahu yang terjadi? Felicity langsung diblokir sama Kyle. Padahal mereka berdua masih pacaran waktu itu. Barang-barang Felicity masih ada di rumahnya. Butuh waktu lama bagi Kyle buat mengembalikannya. Aku yang sudah berhenti berhubungan dengan Kyle, tiba-tiba dapat pesan dari Kyle. Bunyinya begini: "Kalian berdua sudah menganggapku sebagai musuh. Bebas deh. Suka-suka kalian saja."

Iklan

Bodo amat Kyle.

Mendengar kisah macam itu, orang pasti menilai hubungan poliamorinya enggak berjalan mulus. Mereka menganggap hubungannya bisa gagal karena pada dasarnya konsep pacaran kayak gini sama aja dengan open relationship. Jadi, situasinya dari awal sudah sulit. Untungnya, aku juga dekat sama orang lain, sewaktu aku tahu siapa Kyle sebenarnya. Dia sangat baik dan suportif. Aku ketemu dia saat tiba di London.

Kebanyakan artikel tentang poliamori ditulis dari perspektif yang terlalu sempit. Penulisnya siapa lagi kalau bukan orang heteroseksual kulit putih yang cisgender. Mereka biasanya menulis poliamori seperti ini: "Jangan pernah takut pasangan akan meninggalkanmu! Setiap orang punya keistimewaan dan keunikannya sendiri." Sarannya kedengaran oke, tapi enggak ngefek buat orang yang mudah cemas.

Pesan semacam itu malah gagal menenangkan orang-orang yang terbiasa dibilang enggak menarik atau dianggap memiliki kebutuhan berlebihan oleh masyarakat. Itulah sebabnya aku sering memaklumi apa saja yang terjadi dulu, tanpa mementingkan apa yang sebenarnya kubutuhkan.

Kecemburuan sering disalahpahami dalam hubungan poliamori. Bagiku, perasaan cemburu enggak selalu berarti cacat karakter. Cemburu adalah sifat alami manusia yang muncul karena alasan logis. Misalnya, pasanganku berhubungan dengan orang lain dan mereka nonton TV bareng pas ceweknya main ke rumah. Kedengarannya biasa saja, ya? Tapi aku marah melihatnya! Soalnya pasanganku enggak pernah mau nonton bareng denganku.

Iklan

Ada konsep “kitchen table polyamory” dalam hubungan macam ini. Artinya kalian harus akrab dengan metamour, alias partner lain pasanganmu. Kalian harus bisa ngumpul bareng bagaikan keluarga besar. Ada orang yang memang mau berteman dengan metamour, tapi aku enggak seperti itu. Bagus kalau kami bisa akrab, tapi bukan berarti aku harus bertemu dengan mereka.

Setiap orang punya pandangannya sendiri soal perselingkuhan, tak peduli mereka poliamori atau monogami. Bagiku, kalian selingkuh kalau bohong dan menyembunyikan sesuatu. Aku ngomongin soal ini dengan pasangan-pasanganku. Kapan saat yang tepat buat kasih tahu aku punya pasangan baru? Kalian enggak perlu langsung menceritakan semuanya, tapi kalian harus bertanggung jawab dari sudut pandang kesehatan seksual. Jangan berbohong kalau aku menanyakan sesuatu. Aku langsung menganggapmu selingkuh sekali saja kalian menyembunyikan sesuatu dariku.

Entah itu poliamori atau monogami, hubungan baru selalu menakutkan. Terlalu banyak harapan muncul dalam hubungan poliamori. Orang-orang melihatnya bagaikan nirwana yang lebih membebaskan dibanding setia sama satu pasangan doang—tanpa mau peduli risikonya. Akibatnya, banyak orang buru-buru kembali menjadi monogami ketika hubungan poliamorinya gagal. Harus diingat, hubungan monogami pun enggak selamanya aman. Pasangan sangat mungkin menyakiti atau meninggalkanmu, walaupun kalian enggak berbagi pasangan dengan orang lain. Jadi kalau mau menjajal poliamori, ya persiapkan mental untuk menjalani bukan cuma yang serba 'enak' aja.

Pertimbangkan baik-baik alasan kenapa kalian mau terlibat hubungan poliamori. Apa manfaatnya buatmu? Apa yang ingin kalian capai 10 tahun ke depan?

Kalau aku pribadi sih, karena pengin punya hubungan romantis dengan banyak orang. Atas alasan itulah, aku bisa bertahan dalam hubungan poliamori.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly