Artikel ini pertama kali tayang di VICE Japan.
Seniman Jepang, Julie Watai, mengawali karirnya sebagai ilustrator. Karirnya layu sebelum berkembang. Ketika dōjinshi yang dia gambar tak laku dijual, Watai berpaling ke fotografi untuk merekam mimpi basah otaku yang bersliweran di otaknya. Foto-foto hasil karyanya, yang baru-baru ini dikumpulkan dalam buku berjudul Tokyo Future Classic, bermain-main dengan gaya manga, anime, dan video ala otaku guna merayakan subktultur khas Jepang ini, sembari memberangus stereotipe otaku sebagai bocah nerdy kumal yang jatuh hati sama bantal bergambar karakter manga.
Videos by VICE
Rekan kami dari VICE Japan mengajak Watai ngobrol membahas perjuangannya mengangkat marwah otaku lewat karya-karya fotografinya. Kami juga mendalami motivasinya belakangan semakin sering menekuni swafoto dengan pose-pose tak biasa.

VICE: Ceritakan dong gimana awalnya kamu menggeluti fotografi?
Julie Watai: awalnya aku menggambar parodi anime terkenal dan beberapa dōjinshi (komik indie) sejak duduk di bangku SD. Dulu sih, aku rajin bikin komik dan menjualnya di beragam acara. Sayang, dōjinshi buatanku enggak laku [tertawa]. Terus, aku sengaja membuat manga dengan genre yang lebih populer. Harapannya sih manga buatanku laku berat. Hasilnya jeblok-jeblok juga. Selama berkarir sebagai mangaka, aku sering memperhatikan reaksi pembeli di booth-booth lain dalam event-event yang aku ikuti. Aku sampai ke kesimpulan kalau manga buatanku kurang menjual. Aku sangat suka menggambar, jadi aku agak kecewa ketika akhirnya harus berhenti menggambar. Tapi, tak ada cara lain, aku memang harus menjajal bentuk ekspresi seni lainnya.
Lalu, saat aku SMA, aku mengambil foto para cosplayer di event-event seperti Comiket. Waktu itu cuma hobi doang sih. Aku belajar fotografi secara otodidak karena ingin cosplayer cewek terlihat kawaii di foto-fotoku. Yang mengejutkan, orang malah memuji hasil jepretanku. Aku makin bersemangat motret. Akhirnya, aku memilih fotografi sebagai medium untuk mengekspresikan fantasi khas manga yang aku miliki.
Kalau boleh tahu, manga favoritmu apa sih?
Aku suka ilustrasi satu halaman yang sering ditemukan di manga. Ini yang berusaha aku ciptakan lewat fotografi. Gaya ilustrasi satu halaman berbeda dari satu mangaka ke mangaka lainnya. Tapi, aku lebih suka ilustrasi dengan background yang rinci dan punya kedalaman perspektif. Meski karya-karyanya tak punya hubungan langung dengan manga atau anime, karya-karya Yoshitaka Amano di Final Fantasy menurutku bisa jadi salah satu contohnya. Menurutku, karya Amano-sensei ada di antara manga dan seni rupa murni.

Apakah kamu terinspirasi dari cosplayer cewek yang kamu potret? Subyek foto-fotomu soal perempuan selalu meninggalkan impresi yang kuat.
Enggak juga sih, aku tak terinspirasi subyek yang aku potret sedikitpun. Aku juga tak pernah mengambil inspirasi dari baju yang mereka kenakan. Inspirasiku datang dari obyek dan tempat-tempat fotoku diambil. Setelah menemukan lokasi dan obyeknya, aku mengkonsep karakter yang sesuai dengan tempat dan obyek yang tersedia. Foto-fotoku biasanya berawal saat aku bilang “tempatnya keren nih, aku mau ngambil foto di sini.” hal yang sama terjadi pada obyek seperti gawai atau instrumen musik. Belakangan, lokasi fotoku tak hanya di kawasan kota. Budaya internet juga sangat kaya dengan inspirasi. Misalnya, sampul buku koleksi foto terbaruku banyak mengambil inspirasi dari glitch.
Glitch?
Glitch adalah semacam gangguan layar komputer, mungkin semacam bug kali ya? Seni glitch naik daun bersama Tumblr dan tren ini populer di Amerika Serikat. Aku sebelumnya tak habis pikir kalau error layar komputer bisa melahirkan satu aliran seni tersendiri. Tapi, kalau aku boleh jujur, glitch di sampul bukuku sengaja aku buat sendiri dengan menggunakan software desain grafis. Ada juga tren yang namanya seapunk, yang pernah ramai beberapa tahun lalu di internet. Desain-desain bergaya seapunk sebenarnya adalah beragam penafsiran karya Christian Lassen. Interior toko yang aku gunakan dalam salah satu fotoku, misalnya, kental sama nuansa seapunk. Mungkin, enggak semua orang bisa melacaknya, tapi hasil akhirnya seperti di dalam laut.

jadi untuk foto itu, kamu memilih lokasinya karena ‘seapunk’ banget. Lantas bagaimana kamu menentukan subyek yang pas dengan lokasi yang kamu pilih?
Model yang kupilih harus bisa menyatu dengan lingkungan di sekitarnya. Kalau model dan backgroundnya enggak nyambung, pasti hasilnya jelek. Kalau backgroundnya flashy, modelnya tak boleh kalah flashy. Kalau situasinya seperti ini, kami akan mendandani mereka dengan pakaian dengan warna flamboyan dan gaya rambut yang mencolok. Ini juga berlaku pada pose dan makeup. Pokoknya semuanya dikonsep agar bisa matching dengan lokasi bahkan sebelum sesi foto dimulai. Kalau ada perubahan di lokasi, paling banter cuma pose modelnya. Itupun gak akan drastis-dratis banget bedanya.

Kamu memanfaatkan banyak properti yang tak lazim buat latar foto. Susah enggak menemukan barang atau lokasi yang kamu inginkan?
Itu dia. Aku kadang sampai mengubek-ngubek internet untuk menemukan properti yang aku perlukan. Lucunya, properti yang aneh-aneh itu sebenarnya punya fungsi tersendiri untuk menangani masalah sosial yang benar-benar ada di kehidupan nyata. Properti robot yang pernah aku gunakan, misalnya, sebenarnya didesain untuk membantu kaum manula. Jadi, kalau aku jalan-jalan keluar, aku akan menemukan seorang nenek memakainya untuk berjalan. Cepat banget lagi jalannya. Intinya, properti yang aku gunakan adalah kursi roda listrik. Ini kedengarannya tolol tapi yang penting bentuknya keren. Dari sana, aku menggarap konsep power suit. Setelah google sana-sini, aku berhasil menemukan perusahan pembuat perangkap amplifikasi daya komersil. Awalnya aku sempat pesimis, sebelum akhirnya punya cukup keberanian menghubungi perusahaan itu. Yang mengagetkan, mereka malah sangat menyambut baik ideku.
Masalahnya, perangkat amplifikasi daya komersil ini tak bisa dibawa kemana-mana. Jadi, aku datang ke kantor perusahaan itu untuk mengambil foto. Aku ganti kostum di toilet kantin dan langsung mengambil foto saat itu juga, di tengah lantai kantor yang penuh meja kerja. Makanya, aku kewalahan ketika mengedit dan nge-crop hasilnya.

Kalau foto lengan android itu gimana cerita di balik pembuatannya?
Awalnya, aku ingin memasukkan sebuah android yang kelak jadi setting karakter seri foto itu. Ceritanya dalam seri itu berkisah tentang Asuna-chan, android kelas atas yang sudah tua. Dalam seri ini, aku juga mengenakan kostum mirip android tapi peranku sebenarnya seorang ilmuwan. Dua karakter ini murni ciptaaanku. Adapun ceritanya dikarang oleh penulis fiksi sains bernama Marco.
Siapapun yang melihat seri foto ini punya hak menafsirkan ceritanya Asuna-Chan sesuai dengan imajinasi mereka. Namun, di Jepang, android lekat sama imej seksi. Makanya, kunci sesi pemotretan itu adalah menemukan cara untuk menegaskan relasi itu. Kan ada tuh orang-orang yang suka boneka? Boneka bisque mewah misalnya. Aku ingin android dalam fotoku dipandang seperti itu. Bukan sebagai sesuatu yang menyeramkan, melainkan sebagai obyek menarik perhatian lebih banyak orang.
Kalau dipikir-pikir, karyamu diam-diam bicara tentang dunia lesbian, benar ga?
Aku tak ingin terlalu blak-blakan tentang hal itu, sebenrarnya. Dalam komunitas otaku, kami mengenal genre manga bernama Yuri. Manga dalam genre ini banyak menggambarkan cinta murni antara dua para gadis, meski tak disertai visual yang vulgar. Nah, aku ingin perempuan yang menikmati karyaku merasakan sensasi serupa.

Oh iya, Dalam cerita-cerita di Jepang, seorang perempuan yang mengirim surat pada seniornya di kantor atau sekolah (yang sama-sama perempuan) adalah hal yang biasa
Aku percaya, kita semua pernah punya senior perempuan yang kita kagumi. Lagipula, penerimaan terhadap netralitas gender atau androginitas sudah semakin marak. Masyarakat kita semakin terbiasa mendapati perempuan menyukai genre cerita Yuri dalam level-level tertentu. Jujur saja, aku yakin banyak perempuan yang mengalami perasaan serupa. Ini jelas agak berbeda dari lesbianisme.

Perasaan sayang antara perempuan seperti bakal menghilang seiring menuanya usia enggak?
Pada sebagian besar orang, itulah yang terjadi. Namun, sebaliknya, ada yang malah merayakan perasaan semacam ini seiring bertambahnya usia. Situasi ini menjelaskan kenapa beberapa orang begitu menyayangi Takarazuka Revue, sebuah grup teater yang semua anggotanya perempuan.
Dengan meminjam konsep dari genre Yuri, apakah kamu berusaha mendobrak pemahaman umum, setidaknya di Jepang, terhadap android?
Ya, aku ingin menunjukan sisi positif benda yang kerap disalahpahami atau dipandang sebelah mata. Bisa dibilang, ini adalah tema besar semua karyaku. Sebelum Tokyo Future Classic, aku pernah mengeluarkan koleksi foto berjudul Hardware Girls. Isinya model-model yang memakai baju renang lucu, tentunya dengan beragam pose yang seronok. Semua foto ini diambil di ruangan khas seorang otaku. Buku koleksi foto itu dalam sekejap jadi barang buruan para otaku. Aku senang melihatnya, tapi yang paling penting, lewat foto-foto itu, aku merasa berhasil mengangkat posisi sosial seorang otaku. Dalam pandangan umum, kamar seorang otaku kerap dipadankan dengan kamar seorang manak. Otaku digambarkan enggak cewe banget, bau, dan sebagaianya. Sehingga dengan membenturkan foto model cantik sama kamar-kamar otaku, hasil akhirnya seakan berkata “kamar otaku enggak cupu-cupu amat.” Kalau orang sudah menafisrkannya seperti itu, maka saya cukup puas.
Bukankah pandangan orang terhadap otaku sudah mulai bergeser belakangan?
Dulu ketika aku berada di masa puber, gadis-gadis di sekitarku belum gandrung internet. Sekarang semua orang pakai internet. Dari semua orang yang besar dengan Niconico (layanan streaming video jepang), susah sekali menemukan seseorang yang tak mengenal kultur otaku.
Ada beberapa jenis otaku sekarang dan semua orang kini bisa jadi otaku. Mulai dari penggemar fesyen, seorang gadis manis, pemuda ganteng hingga siapapun yang mondar-mandir dengan memeluk R-18 body pillow… zamannya memang sudah berubah. Malah, kata “otaku’ sendiri kini sudah kehilangan konotasi negatifnya. Sekarang, kata itu bisa ditafsirkan sebagai “orang yang menarik.” Namun ketika Hardware Girls (2010) dan Samurai Girl (2006) dirilis, orang-orang ternyata masih tergila-gila dengan gagasan tentang otaku. Itu yang bikin aku semangat.

Setelah kultur otaku makin diterima masyarakat, apa yang jadi motivasimu sekarang?
Untungnya, aku jadi subyek karya-karya terbaruku. Itu terus memotivasi aku untuk berkarya saat ini. Aku punya pengalaman bekerja sebagai model gravure (model seksi yang kerap dijumpai di Jepang) dan karenanya aku paham sekali betapa kecantikan dan masa muda tak bisa langgeng. Misalnya, sepopuler apapun seseorang, pasti ada orang lain yang lebih muda dan siap menyalip ketenarannya. Pengalaman ini memacuku untuk mengabadikan masa muda yang singkat ini dalam beragam bentuk. Menurutku, setiap perempuan di dunia ini punya keinginan kayak gitu. Kebetulan, keinginanku lebih kuat dari yang lain. Itu saja alasannya.

Sejak itulah berarti kamu memilih sering melakukan swafoto?
Aku terus-terus berpikir “bagaimana kalau aku tiba-tiba saja menua?” [tertawa]. Pasti nanti ada hal-hal yang bisa aku potret setelah aku menua, meski bentuknya belum terpikir sekarang. Sentimenku terhadap singkatnya masa muda memang terlampau kuat. Namun, di sisi lain, aku merasa bakal lebih gampang menangkap nuansa yang subtil jika aku jadi modelnya sendiri.

Aspek apa yang paling kamu perhatikan ketika melakukan selfie?
Tak cuma pada swafoto sih sebenarnya, tapi aku selalu memastikan bahwa tiap bagian foto berhasil merekonstruksi sensasi dunia dua dimensi. Agar tak terlihat nyata, aku sebisa mungkin terlihat tak memiliki emosi. Aku kira aku selalu berusaha mendapatkan efek kaku ala-ala ilustrasi manga.

Aku enggak membahas salah satu karyamu secara spesifik. Tapi, aku merasa ekspresi wajah di karya-karyamu begitu mencolok. Ada sebentuk kemanusiaan yang begitu terasa nyata. Hasilnya di beberapa foto, justru terasa sangat nyata.
Senang mendengarnya. Sebenarnya, aku lebih suka kalau karyaku menyisakan ruang-ruang bagi penafsiran alternatif. Ini mungkin cuma pendapatku sebagai seorang otaku, tapi kalau kamu membandingkan novel dan manga, maka novel yang cuma disusun atas huruf-huruf lebih terbuka terhadap imajinasi liar pembacanya. Bagiku ini lebih menarik. Saat membaca novel, kita dipaksa membayangkan seperti apa penampakan karakter utamanya dan semacamnya.
Hal yang sama bisa diterapkan dalam hubungan percintaan, kadang membiarkan fantasi gila tentang pasangan bisa bikin hubungan kita memuaskan. Menurutkua orang-orang tipe Akiba (otaku) sepertiku cenderung sibuk dengan dunianya sendiri karena kami terlalu terbiasa dengan dunia alternatif dalam game dan anime. Aku ingin karyaku diapresiasi seperti dunia-dunia alternatif itu.
More
From VICE
-

Medios y Media/Getty Images -

Jim Dyson/Getty Images -

Andy Willsher/Redferns/Getty Images -

Eminem at the 2024 MTV Video Music Awards held at UBS Arena September 11, 2024 in in Elmont, New York. (Photo by Christopher Polk/Billboard via Getty Images)