Health

Merayakan Alis Nyambung Alias Monobrow Perempuan

Well, Thank U adalah kolom baru yang membahas mitos dan misinformasi seputar tren kesehatan dan kebugaran.

Kita akrab dengan adegan makeover yang menampilkan alis seorang perempuan lugu dirapikan seperti taman Jepang—dicabut, dipotong, diwarnai, dipahat—untuk menunjukkan protagonis perempuan kuat yang tidak menyadari kekuatannya selama ini. Kita sudah melihat adegan ini sejak film Now, Voyager tahun 1924, dan masih ada di film The Princess Diaries; pada keduanya proses merapikan alis menjadi pintu jalan menuju individu yang lebih baik.

Videos by VICE

Ada kesenangan tersendiri dari menyaksikan transformasi fiktif seperti itu. Mungkin hal ini mengingatkan kita pada saat-saat kita kesulitan membaur sewaktu remaja, dan gagasan meyakinkan bahwa kita bisa menjadi lebih baik hanya dengan mencabut alis.

Kami juga terbiasa dengan stereotip perempuan dengan alis hiperbolik dan lebat yang terhubung di pangkal hidung. Perempuan ini kasar, terasing, atau murni jahat. Dia Blanca Flores di Orange Is The New Black, dan Olga Pataki di Hey! Arnold. Disebut secara medis sebagai synophrys, monobrownya tidak diterima dalam budaya barat kontemporer. Dan berkat posisi sentral alis pada wajah, menantang budaya ini berarti dia secara otomatis keras dan provokatif.

“Pangkas rambut-rambut pirang kecil itu di tengah-tengah alismu, bahkan jika kamu berpikir tidak ada yang bisa melihatnya. Karena kita bisa melihatnya,” menurut sebuah blog bernama Valley. “Jika mata adalah jendela bagi jiwa, alis adalah tirai yang membingkai jendela-jendela ini. Jadi bikin alis terlihat bagus.”


Zahra Khanom Tadj es-Saltaneh menjadi epitom kecantian.

Praktik “bikin alis bagus” berasal dari Persia kuno, di mana perawatan alis digunakan sebagai penanda kewanitaan. Sebagaimana dijelaskan oleh Encyclopaedia Iranica, sebelum menjadi seorang istri, seorang perempuan muda akan menghilangkan rambutnya—termasuk alisnya yang berulir, yang melibatkan benang tipis yang digunakan untuk mengekstrak beberapa helai rambut sekaligus. Meskipun praktik ini tidak memiliki nilai yang sama pada upacara dewasa kini, menurut antropolog Massoume Price, penghilangan rambut masih menjadi subjek perdebatan di antara beberapa orang tua Iran dan putri remaja mereka yang tinggal di Barat karena warisan budaya tersebut.

Di bawah dinasti Qajar (1785–1925), di Iran citra kecantikan bergeser dan monobrow perempuan memiliki momennya. Afsaneh Najmabadi, seorang profesor Harvard kelahiran Iran spesialisasi gender dan seksualitas, telah meneliti kaburnya citra kecantikan laki-laki dan perempuan menjelang dimulainya periode ini. Para laki-laki muda yang paling tampan memiliki fitur halus dan pinggang ramping, menurut catatannya, sementara wanita mengenakan alis tebal dan gelap, serta kumis, kadang-kadang bahkan menebalkan rambut di bibir atas mereka dengan maskara.

Mosaik Theodora di Basilika San Vitale (dibangun SM 547), Italy. Foto via UNESCO situs warisan bersejarah dunia

Seorang putri bernama Zahra Khanom Tadj es-Saltaneh meringkas citra kecantikan saat itu. Dengan alis yang bertemu di tengah, kumis, dan sosok berat, ia dianggap sangat diinginkan sehingga 13 pria diduga melakukan bunuh diri setelah dia menolaknya.

Penampilan Zahra jelas bertentangan dengan representasi putih khas perempuan-perempuan kerajaan, kaya, dan menarik di Timur Tengah, tetapi penampilannya meliputi budaya saat itu, karena abrou-ye peyvasteh—atau “alis yang terus menerus”—dianggap norma. Menurut General Introduction to Persian Literature, banyak pasangan perempuan yang digambarkan memiliki alis yang menyatu, dengan perbandingan gambar monobrow dalam puisi dan prosa sampai busur dewa, bulan baru, dan doa.

Monobrow perempuan juga dihormati di Yunani Kuno. Sebagaimana ditulis Helena Jenkinson, seorang dokter penduduk di University of Texas, dalam jurnal medis JAMA Dermatology, wanita secara alami kekurangan alis akan mengisi alisnya menggunakan khol atau jelaga. Beberapa wanita Yunani menggunakan pewarna rambut dicelup untuk menciptakan monobrows palsu, membubuhkan mereka dengan getah pohon, menurut dokumen Victoria Sherrow in Encyclopedia of Hair: A Cultural History. Kultur kuno lainnya juga menggunakan sumber daya alam untuk membuat alis tampak lebih tebal dan menyatu, seperti Babylonia (antimon) dan Celtic (jus beri).

Monobrow perempuan juga bersinar di era Bizantium. Theodora adalah seorang kaisar yang kuat dari Kekaisaran Romawi Timur dan parasnya dibuat dalam ubin-ubin kecil, mosaiknya tidak pernah lengkap tanpa monobrow khasnya.

Tetapi selain beberapa contoh tersebut, monobrow perempuan telah diabaikan dalam sejarah yang lebih baru. Ini berawal pada Abad Pertengahan, ketika dahi diyakini sebagai fitur perempuan paling menonjol; alis ditipiskan atau dihapus sama sekali agar tidak mencuri pusat perhatian. Elizabethan Inggris melihat kemiripan yang sama terhadap pemangkasan alis, yang sebagian tidak disadari: banyak produk perawatan kulit pada saat itu mengandung zat beracun yang menyebabkan kerontokan rambut. Ini berlanjut hingga abad ke-20, dengan praktik penghilangan rambut secara bertahap menjadi lebih menyasar gender.

Peran alis yang besar dalam membingkai wajah—terutama wajah perempuan—berarti alis memiliki peran sentral dalam penampilan dan diharapkan terlihat paling menarik secara konvensional. Beban ini ditempatkan pada perempuan jauh lebih kuat daripada laki-laki,” kata Dr Lauren Rosewarne, dosen senior di Sekolah Ilmu Sosial dan Politik di University of Melbourne.

“Para feminis berpendapat bahwa laki-laki diharapkan memiliki tubuh dan rambut wajah untuk menunjukkan ‘kejantanan’, sementara perempuan diharapkan untuk mempertahankan area yang sama tersebut sebagai tanda kepasifan dan kelayakan seksual mereka,” kata Hannah McCann, seorang dosen kajian gender di Universitas Melbourne.

Meski alis memiliki inkarnasi yang berbeda selama seratus tahun terakhir—dari goresan tipis pensil di layar perak hingga alis Audrey Hepburn yang keras— monobrow perempuan sebagai simbol kecantikan telah didorong ke pinggiran masyarakat. Namun, sekelompok kecil aktivis alis yang berdedikasi telah membawa monobrow ke Instagram untuk merebut kembali tampilan yang dulu dihormati ini. Dipimpin oleh model Sophia Hadjipanteli, yang alisnya yang tidak tipis itu menjadi berita utama awal tahun ini, #UnibrowMovement mencari bukan hanya penerimaan tetapi perayaan.

Mahasiswa pemasaran bisnis berusia 20 tahun, Janelle Mayo, adalah anggota gerakan ini. Dia berhenti mencabut rambut alisnya tahun lalu setelah obat jerawat Accutane membuat kulitnya lebih sensitif. Dia sedang tidak menggunakan obat sekarang, tetapi membiarkan monobrow-nya. “Saya tidak pernah merasa lebih cantik dan berdaya,” katanya. “Membosankan kalau hidup di masyarakat di mana semua orang terlihat sama. Jadi jika kamu memiliki keunikan, berjalanlah dengan bangga. Tumbuhkan alismu, ambil foto, tunjukkan pada dunia bahwa kamu memiliki satu alis mata yang utuh!” ujarnya pada VICE. “Gak perlu malu sama alis.

Barbie Frida Kahlo. Foto via Mattel.

Beatrisa Avdalyan, seorang animator / ilustrator, adalah anggota lainnya dari #UnibrowMovement. Setelah mencabut monobrow-nya di sekolah menengah, dia mulai menerimanya setelah menemukan foto neneknya yang juga orang Armenia. “Itu benar-benar indah dan alami, jadi saya ingin mempertahankan milik saya,” katanya.

Seniman Shari Loeffler terlibat dalam #UnibrowMovement dengan harapan bahwa anak muda akan melihat Instagram-nya dan merasa lebih sadar tentang keputusan mereka soal rambut tubuh mereka. “Mungkin itu akan memungkinkan mereka membuat pilihan sadar dan bukan keputusan dari tekanan masyarakat dan rekan-rekan mereka untuk mereka. Tingkat kesadaran itu—apakah mereka ingin mencabut, men-wax, atau mencukurnya—saya harap mereka buat untuk diri mereka sendiri,” ujarnya.

Terlepas dari #UnibrowMovement, monobrow terhapus dalam budaya populer yang lebih luas. Barbie Frida Kahlo diumumkan untuk dirilis sebagai bagian dari jenis yang menampilkan “wanita inspiratif” bersama pilot Amelia Earhart dan matematikawan Katherine Johnson. Namun, boneka itu tanpa monobrow yang terkenal, sebuah kegagalan bagi Mattel untuk menjadi akurat secara historis dan menghargai perbedaan ini, yang mewakili penolakan artis terhadap norma-norma sosial—salah satu alasan utama dia menjadi inspirasi.

Penghapusan monobrow Kahlo oleh Mattel dilakukan dengan kesimpulan bahwa kehadirannya akan menghalangi penjualan. Dan keluarga Kahlo tidak senang—bukan saja mereka menuduh Mattel menggunakan gambar sang pelukis tanpa izin, mereka juga memprotes bahwa perusahaan itu membuat penampilannya menjadi putih.

“Seharusnya boneka ini lebih Meksiko,” kata keponakan Kahlo, Mara Romeo, kepada AFP, “dengan kulit yang lebih gelap, menyatu, tidak begitu tipis karena Frida tidak seterang itu … mengenakan pakaian Meksiko, dengan perhiasan Meksiko.” Dua minggu lalu, pengadilan melarang penjualan Barbie di Meksiko—sebuah kemenangan tidak hanya untuk warisan sang artis dan monobrow perempuan, tetapi juga untuk konvensi kecantikan secara luas.

Sejak jatuhnya Uni Soviet, dan khususnya dalam dekade terakhir, para perempuan di ibukota Tajikistan, Dushanbe, telah merangkul gaya-gaya pakaian tradisional dan sentimen-sentimen kecantikan—termasuk monobrow. Di dataran tinggi ini, perempuan-perempuan desa yang terkurung daratan entah membiarkan monobrow mereka sebagaimana adanya, atau akan menggunakan Usma, obat herbal, untuk menyuburkan alis mereka: bergabung dengan jelas di bagian atas hidung. Di Barat, dapat dikatakan bahwa kecantikan perempuan sebagian besar masih didefinisikan berdasarkan apa yang tidak ada: lemak, jerawat, bekas luka, rambut di tempat-tempat tertentu. Sampai ideal ini bergeser, monobrow perempuan akan terus dikenakan sebagai pernyataan transgresif, dalam menghadapi standar kecantikan perempuan yang diterima.

Thank for your puchase!
You have successfully purchased.