ISIS

Agenda ISIS Sering Menampilkan Anak Kecil di Video Propagandanya

Awal 2017, sosok bocah tiga tahun menembak mati tahanan muncul dalam video terbaru ISIS. Kelompok teroris itu rupanya punya niat khusus menggunakan sosok anak-anak.
01 Februari 2017, 9:09am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) belum lama merilis video propaganda paling kejam dan mengejutkan awal tahun ini.

Sudah banyak video keji dirilis kelompok teroris tersebut. Beberapa di antaranya menampilkan aksi pemenggalan kepala masal, orang dibakar hidup-hidup, korban ditenggelamkan hingga mati, hingga merajam tahanan sampai tewas—semua direkam lewat format close-up dengan kualitas gambar yang tajam. Video ISIS terbaru yang berjudul "Made Me Alive with His Own Blood" (Membuatku Lebih Hidup Berkat Genangan Darahnya) menampilkan eksekusi mati tahanan laki-laki yang tidak bersenjata. Parahnya eksekusi itu dilakukan bocah laki-laki berumur tiga tahun. Tiga tahun! Bayangkan.

Memang tidak etis rasanya mengukur seberapa "kontroversial" setiap video propaganda ISIS. Kekejaman tidak pantas diperbandingkan. Namun rasanya video terbaru yang mereka sebar di situs-situs propaganda itu terhitung yang paling "rapi" dan canggih. Mengingat video kampanye ISIS semakin brutal, kejam, dan terus mengksploitasi sosok anak-anak, setidaknya penting mencoba memahami pesan yang berusaha disampaikan oleh para militan khilafah.

Sudah bukan rahasia umum lagi jika ISIS menggunakan bermacam metode canggih untuk merekrut dan mendoktrin anak-anak agar menganut ideologi mereka yang keji. Video mereka yang terbaru bukanlah pertama kalinya ISIS menggunakan anak-anak sebagai eksekutor. Video pada Januari 2015 menunjukkan seorang bocah lelaki berumur 10 tahun asal Kazakhstan menembak mati dua pria yang dituduh sebagai mata-mata. Juli tahun yang sama, ISIS kembali merilis video bocah lelaki berumur 13 atau 14 tahun mengeksekusi 25 tentara Suriah di pusat kota Palmyra, Suriah.

Lalu kenapa video terbaru mereka terasa lebih bejat? Karena yang digunakan bukan lagi remaja, tapi balita. Ini gagasan yang baru: inovasi kebejatan politik radikal yang melebihi paradigma teror yang kita kenal selama ini. Video itu bukan lagi terorisme, tapi 'hororisme': kekerasan yang sangat keji dan transgresif, merusak nilai-nilai dasar kemanusiaan yang beradab.

Menurut ahli filsafat politik Adriana Cavarero yang pernah menulis buku mengenai isu ini, hororisme,"...tidak ada hubungannya dengan insting dasar manusia di ambang kematian." Hororisme lebih menyerupai "rasa muak naluriah". Dengan kata lain, hororisme tidak menimbulkan rasa takut atau teror, tapi upaya menyulut rasa kebencian yang mendalam pada musuh atau orang-orang yang dibenci.

Jujur saja, menonton bocah berumur tiga tahun menembak mati pria yang tidak berdaya akan membuat manusia paling waras sekalipun jijik. Ada dua alasan kenapa ISIS sengaja melakukan ini.

Pertama, video ini bakal merusak keyakinan kita tentang kemurnian anak kecil. Bagi ISIS, balita yang sanggup menjalankan tugas sebagai eksekutor tahanan mencerminkan kekuatan dan kekekalan ideologi mereka. Biarpun kekuasaan mereka telah menyusut di Irak maupun Suriah, tapi pondasi ideologi mereka terkesan masih kokoh. Bahkan muncul kesan sudah ada generasi baru militan yang siap mewarisi nilai-nilai khilafah Islamiyah. Namun bagi kita semua, manusia yang waras, adanya balita di video tersebut melambangkan pencemaran kualitas murni anak-anak yang sering kita anggap suci.

Alasan kedua, video tersebut melambangkan citra perbandingan ekstrem: betapa muda dan mungilnya si pembunuh dan betapa besar makna pembunuhan yang dia lakukan. Mungkin balita itu baru belajar berjalan. Dia bisa saja tidak mengerti kenapa pistol yang dia pegang bisa menyebabkan konsekuensi yang sangat mengerikan. Video ini merusak keyakinan para penontonnya.

Sosok jihadis balita sangat mengerikan. Kemunculan bocah ini dalam video ISIS mengingatkan alam bawah sadar kita semua pada sosok monster yang paling mengerikan: anak titisan iblis. Dalam buku Evil Children in the Popular Imagination, akademisi asal Inggris Karen J Renner memperkirakan ada sekitar 600 film yang menampilkan sosok "anak titisan iblis." Empat ratus diantaranya diproduksi sejak kurun 2000-an.

Salah satu film yang paling menggelisahkan dari genre ini adalah adaptasi novel Stepehen King, The Shining yang disutradarai Stanley Kubrik pada 1980. Di film tersebut, karakter utama—Jack Torrance,diperankan oleh Jack Nicholson—menjadi gila dan berusaha membunuh istri dan anaknya. Namun karakter yang membuat penonton gelisah di film itu justru anak Jack, Danny, yang digambarkan bisa berkomunikasi dengan makhluk supernatural. Dia sanggup melihat dan mendengar hal-hal gaib menyeramkan. Misalnya dua perempuan kecil di lorong hotel yang mengajaknya bermain. Tidak lama kemudian mereka terlihat terpapar di lantai berlumuran darah. Atau seperti pintu lift yang terbuka dan menyemburkan lautan darah segar.

Menurut pengamatan Stephen King, anak-anak terkadang "sangat tidak beradab dan tidak ramah". Mereka sulit diatur dan mudah terpengaruh, dan terkadang aneh. Jadi tidak heran sosok anak-anak memicu ketakutan kita sebagai manusia dewasa. Karakter-karakter "anak setan" yang kerap ditampilkan di film horor,  memanfaatkan rasa takut bawah sadar tersebut. Sepertinya inilah yang berusaha diwujudkan ISIS lewat video-videonya yang menampilkan sosok anak kecil.

Sepak terjang ISIS paling ramai dibahas semenjak kemunculan mereka di pertengahan 2014, adalah saat mereka melibatkan tiga anak sekolah perempuan Inggris melarikan diri ke wilayah Suriah pada Februari 2015. Satu teman sekolah mereka mengatakan tiga remaja perempuan ini "rajin belajar, berani berpendapat di kelas, dan bermotivasi tinggi". Siswi termuda yang berumur 15 tahun dikabarkan penggemar berat acara TV reality show Keeping Up with the Kardashians. Sedangkan siswi lainnya dikabarkan sibuk joget di kamarnya semalam sebelum kabur ke Suriah.

Di balik semua tindakan normal tiga remaja perempuan itu, tetap saja mereka jatuh ke dalam pengaruh ISIS. Remaja gaul itu ternyata bisa terbujuk doktrin radikal, yang menjanjikan mereka menjadi "mempelai jihadis". Kemungkinan besar mereka teradikalisasi hanya lewat percakapan dengan tim perekrut via Internet.

Biarpun banyak detail samar seputar motif sesungguhnya para remaja tersebut bergabung dengan ISIS atau bagaimana persisnya mereka bisa teradikalisasi, kasus tersebut langsung digeneralisasikan sebagai contoh betapa anak-anak sangat rentan dipengaruhi ideologi ISIS. Tapi kalau mau jujur, kasus tersebut menyerupai sebuah skenario film horor remaja perempuan yang kerasukan setan. Bayangkan: kekuatan jahat memasuki pikiran anak-anak baru gede itu—via layar komputer—mengubah mereka menjadi perempuan pecandu seks pencari suami militan yang fanatik.

Seiring menurunnya kekuasaan ISIS, kemampuan mereka melakukan aksi teror dalam skala besar juga pastinya berkurang. Namun tampaknya penganut doktrin khilafah tidak akan pernah berhenti mengganggu kita dengan video-video keji menampilkan anak-anak jihadis. ISIS ingin membangkitkan rasa takut kita semua, orang-orang dewasa, yang sebetulnya sampai sekarang juga masih tidak memahami cara berpikir anak-anak.