Meksiko Disebut Negara Paling Mematikan Kedua Sejagat Setelah Suriah
Meksiko

Meksiko Disebut Negara Paling Mematikan Kedua Sejagat Setelah Suriah

Irak dan Afghanistan sampai disalip dalam survei tahunan IISS, gara-gara tingginya tingkat kematian akibat kekerasan antar kartel narkoba di Meksiko.
12.5.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Kekerasan akibat ulah kartel narkoba menjadikan Meksiko sebagai negara paling mematikan urutan kedua sejagat. Hanya Suriah—selama enam tahun terakhir hancur lebur akibat perang saudara—yang jumlah kematian warga sipilnya akibat kekerasan dan konflik melampaui Meksiko.

Kesimpulan ini diperoleh dari penelitian tahunan International Institute for Strategic Studies (IISS) tentang kekerasan bersenjata di seluruh dunia. Sepanjang 2016 lalu, jumlah pembunuhan di Meksiko mencapai lebih dari 23 ribu kasus. Meningkat pesat dibanding 17 ribu pembunuhan setahun sebelumnya, serta 14 ribu kematian akibat baku tembak ataupun eksekusi anggota kartel pada 2014. Berdasarkan catatan IISS, kematian warga sipil Meksiko rata-rata diakibatkan senjata api ringan, misalnya pistol atau senapan semi-otomatis.

Iklan

"Hanya di Meksiko lah tingkat kematian akibat kekerasan bersenjata tidak melibatkan artileri militer, tank, ataupun persenjataan lainnya," kata John Chipman, Direktur Eksekutif IISS melalui keterangan tertulis mengomentari survei lembaganya. Dari 32 negara bagian Meksiko, 22 di antaranya mengalami peningkatan kasus pembunuhan sepanjang 2016. Faktor utamanya, menurut IISS, adalah persaingan beberapa kartel narkoba. Di negara-negara bagian yang menjadi jalur utama penyelundupan bahan baku kokain atau heroin, pertikaian antar anggota geng semakin sengit. Dampaknya tingkat kematian melonjak lebih tinggi di wilayah tersebut. Bukan cuma personel kartel yang meregang nyawa. Warga sipil yang tidak sengaja terbunuh, warga yang menolak bergabung atau membantu kartel, wartawan setempat, pendatang, hingga pejabat pemerintah turut menjadi korban lingkaran kekerasan di Meksiko.

Dari catatan IISS, pihak paling bertanggung jawab atas massifnya pembunuhan ini adalah Pemerintah Meksiko. Para politikus di negara tetangga Amerika Serikat itu dinilai kurang tegas melawan jaringan para kartel.

Merujuk jajak pendapat Pew Research Center yang digelar dua tahun lalu, hanya 35 persen penduduk Meksiko yang merasa Presiden Enrique Pena Nieto berhasil menelurkan kebijakan efektif untuk menangkal sepak terjang kartel. Padahal selama kampanye, perang melawan kartel adalah salah satu janji utama Nieto. Pada 2014, Nieto masih sukses meraup tingkat kepuasan 53 persen saat menghadapi kelompok-kelompok kartel.

Iklan

Antônio Sampaio, peneliti IISS yang juga mengerjakan daftar tersebut memperingatkan pemerintah Meksiko, bila hasil perang melawan kartel akan sangat menentukan tingkat kepuasan rakyat menjelang pemilu. Selain itu, pembunuhan bakal lebih sering terjadi, karena semua indikator menunjukkan Presiden Nieto tidak punya rencana kerja yang jelas untuk menghambat persebaran para kartel.

Meksiko berhasil menggeser Irak dan Afghanistan dalam daftar lima besar IISS. Kedua negara itu sejak 2003 terus menjadi zona konflik internasional serta direcoki perang antar faksi Islamis. Di Ibu Kota Kabul, bom bunuh diri menjadi santapan sehari-hari warga Afghanistan. Rupanya, teror milisi Taliban masih kalah gahar dibanding menyalaknya pistol dan senapan mesin para kartel narkoba Meksiko. *Tambahan redaksi VICE Indonesia: Beberapa jam setelah daftar ini dipublikasikan, Pemerintah Meksiko segera merilis bantahan. Mereka menuding data dan metode kuantifikasi yang dipakai IISS "tidak bisa dipertanggungjawabkan." Argumen lainnya, Meksiko mengklaim tingkat pembunuhan di Brasil serta Venezuela lebih tinggi banding negara mereka.

"Pemerintah Meksiko menolak penggunaan istilah kekerasan bersenjata domestik dalam laporan tersebut."

Berikut daftar 10 besar negara paling mematikan di seluruh dunia sepanjang 2016 versi IISS:

10. Nigeria
9. Sudan Selatan
8. Turki
7. Sudan
6. Somalia
5. Yaman
4. Afghanistan
3. Irak
2. Meksiko
1. Suriah