Tidak Nangis Pas Nonton Adegan Sedih Film Tanda Problem Kejiwaan
Kolase gambar oleh Noel Ransome.
Budaya Pop

Tidak Nangis Pas Nonton Adegan Sedih Film Tanda Problem Kejiwaan

Jangan salah, penulis skenario sebenarnya memanfaatkan sains lho untuk membuat kita mbrebes mili di dalam bioskop.
8.5.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Canada.

Saya sering membayangkan kelompok-kelompok penulis naskah yang mengenakan jas hitam, duduk-duduk dan memikirkan cara-cara baru untuk membuat orang mewek—penjahat kelas teri yang tidak diterima di geng penjahat kelas kakap, intinya mah. Bahkan kini saya masih mempercayai teori ini: hanya psikopat yang mampu berulang kali menulis sesuatu yang bisa membuat orang patah hati dan sesenggukan. Misalnya saja transformasi Dr. Jekyll and Mr. Hyde karakter Lampwick di Pinocchio, di mana dia menjerit minta tolong ibunya. Bagian itu bikin saya trauma dengan keledai dan laki-laki tua kulit putih bermuka girang. Atau, contoh lainnya adalah kelinci-kelinci imut bernama Thumper dan burung puyuh di film Bambi. Mereka sukses membikin saya malas makan daging, dan nangis kejer. Saya masih percaya bahwa Disney dekade 1940-an adalah perusahaan tega—setidaknya dalam hal memanipulasi emosi penonton anak-anak. Sekarang, sebagai orang dewasa, pemicu emosi saya masih gitu-gitu saja. Bukan adegan "Jack" mati menggigil diiringi lagu Celine Dion yang membikin saya patah hati. Melainkan, potongan-potongan adegan Carl dan Ellie sebelum akhirnya…. Duh, udah pada nonton Up, kan? Sulit banget sebenarnya mengakui bahwa film-film, terutama animasi, bisa membuat hati saya remuk dan air mata saya merembes. Saya penasaran kenapa beberapa film bisa membuat saya seperti itu. Apa sih manipulasi dan tipu daya, yang klise tapi tetap sukses membuat penontonnya merana?
Dengan bantuan seorang penulis naskah (kemungkinan besar psikopat) yang film-filmnya membuat saya menangis dan juga seorang ilmuwan yang merujuk pada dirinya sendiri sebagai "tukang mewek", saya berupaya memahami metode film-film yang bikin nagih ini.

Si Culun (menangis bahagia):

Remember the Titans via. Wikimedia

Sebagai permulaan, ini adalah salah satu film yang bikin kita enggak keheranan kalau ada cowok macho nangis. Inget kan si Rudy yang mengejutkan semua orang. Atau lagu "We Are The Champions" yang mengikuti Triple Deke yang dipakai Charlie untuk menggolkan penalti di The Mighty Ducks. Kategori menangis ini cukup bahagia. Sebagaimana dikatakan ilmuwan syaraf Dr. Paul J. Zak: "Sebagai makhluk sosial, kita amat tertarik dengan konflik manusia, karena kita bisa belajar banyak dari konflik itu, dan kalau seseorang menceritakannya dengan cara yang apik, kita akan memerhatikannya," ujarnya. "Setelah itu, kau akan mengetahui bahwa orang-orang mulai berempati dengan karakter dalam cerita. Ketika tim culun memenangkan kejuaraan, kamu akan merasa lega karena kamu menyaksikan karakter itu bertumbuh dan kamu mulai menjiplak emosi mereka secara tak sadar, dari awal perjuangan hingga kemenangan."
Itulah yang saya rasakan ketika menyaksikan film-film seperti Remember the Titans. Dengan segala kata-N dan Cracka, film ini menunjukkan tim yang terbelah karena ras akhirnya bersatu kembali, sampai-sampai rasanya saya ingin memeluk laki-laki kulit putih pertama yang saya temui di jalan. Ketika saya ngobrol dengan penulis naskahnya, greg Howard, dia bilang metodenya adalah membuat naskah sedekat mungkin dengan kenyataan.
"Saya percaya kita mesti mengungkapkan kenyataan sebuah adegan dan memastikan penontonnya menangis, bahkan ketika karakternya tidak," ujar Howard. "Saya melakukan wawacara ratusan jam untuk Remember the Titans. Saya tahu apa yang bagus dari wawancara itu, karena di situ saya mendengarkan dan saya menangis."

Pelajaran Hidup Lewat Animasi (mbrebes mili)

Nah, ini dia. Jagoan memanipulasi hati anak-anak dan orang dewasa. Kalau nonton film animasi, seringkali air mata tak sekadar menetes tapi mengalir tanpa henti. Seakan-akan penulis naskahnya tertawa licik sambil berseru, "Kalian kira ini film anak-anak? HAHA!"
Seperti saya sebutkan sebelumnya, film-film ini jleb banget setiap ditonton dan menurut kawan ilmuwan saya itu, bisa jadi saya punya ketertarikan pada orang-orang melas. "Anak-anak kan secara parasit terikat pada orangtua mereka, dan kita menciptakan versi-versi lainnya dengan anjing dan hewan peliharaan lain. Terbukti bahwa anak-anak dan anjing adalah stimuli terbaik untuk Oxytocin," (disebut-sebut sebagai hormon pemeluk) ujar Zak. "Fim-film tentang anak-anak dan anjing sangat ampuh membuat penonton menangis karena alasan itu." Menurut Paul, sebagai manusia, sebagian besar kita memiliki kebutuhan mendalam untuk melindungi. Semakin kita menua, kebutuhan itu semakin besar. Karena saya sudah tua, saya mending jauh-jauh aja deh dari film-film Disney 1940an.

Pertemuan dan Perpisahan Romantis (nangis kejer tapi hepi juga)

Sumber via. YouTube | Ghost

Air mata saya paling tidak terpengaruh oleh jenis film ini. Mungkin saya kurang mahir berkasih-kasih, atau emang enggak berselera dengan cinta-cintaan ala Hollywood. Sebagian besar yang memperngaruhi kita adalah hasil langsung dari hal-hal yang kita anggap sebagai identitas. Adegan di mana Demi Moore mencium roh seorang kekasih? Duh, sori aing enggak bisa relate. The Notebook, berkah tuhan untuk setiap penggemar film romantis? Sumpah, saya enggak peduli dengan karakternya. Tapi di antara kategori-kategori yang ada, ternyata kategori inilah yang bisa membuat suasana hati seseorang porak poranda. "Slumdog Millionaire. Film itu bikin saya sesenggukan. Emosional banget lah," ujar Greg Howard, penulis naskah, kepada saya. "Itulah mengapa film itu menghasilkan 500 juta dolar. Ini soal topik kemanusiaan. Saya baper." Familiaritas dengan cinta dan patah hatilah yang membuat film romantis efektif bikin orang nangis. Sebagian besar manusia pernah melalui pasang surut percintaan, dan kalaupun belum pernah, kita mendambakkannya. Saya enggak perlu nanya pendapat ilmuwan untuk memahami konsep itu.

Penyakitan dan Istimewa (nangis kasihan)

Kita semua pernah lah nonton film macam begini. Film-film yang menusuk-nusuk bagian hati kita yang lekat dengan hal-hal terkait penyakit. Coba deh nonton seorang paranoid skizofrenia John Nash diolok-olok karena gaya berjalannya di A Beautiful Mind. Lalu ada pula film-film eksploitatif yang menggabungkan penyakit serius dengan sikap bijak; seperti Love Story dan pengikut lainnya (seperti A Walk to Remember, The Fault in Our Stars).
Muslihat ini amat tergantung kepada pemahaman sang penulis bahwa sebagian besar manusia, kecuali memiliki kecenderungan sosiopatik, memiliki empati bagi mereka yang tertimpa kemalangan.
"Evolusi membuat kita ingin bertahan hidup dan bereproduksi. Untuk melakukan kedua hal tersebut kita mesti berada di dalam kelompok," ujar Zak. "Jadi kamu akan sangat memperhatikan anggota kelompok yang paling lemah, seperti anak-anak, hewan peliharaan, dan juga yang penyakitan."

Semua kategori di sini ________ (enggak pernah nangis)

"Gue enggak percaya," adalah insting pertama yang muncul pada pikiran penyangkal air mata. Jadi saya mau tanya nih, emangnya kamu enggak berdarah? Kalau kamu dikelitikin, emangnya enggak cekikikan? Kalau kamu keracunan, emangnya enggak koit? Udah deh, enggak usah sok tegar. Tapi ternyata, saya keliru soal hal ini. Ternyata, hal tersebut berhubungan dengan keadaan biologis seseorang, menurut Zak. "Orang-orang yang bilang begitu biasanya laki-laki muda. Jadi salah satu cara paling efektif adalah dengan melambatkan kelegaan oxytocin dengan memberikan lebih banyak testosteron, dan puncaknya adalah antara usia 15 dan 25 tahun. Jadi kalau kamu berada dalam rentang umur itu, kamu telah mencegah respon penyayang dari oxytocin." Dengan semakin tuanya kita, efek testosteron akan semakin pudar, jadi kecuali kamu adalah seorang sosiopat atau psikopat, kalau enggak menangis ya berarti kamu enggak normal.
Obrolan saya dengan penulis naskah dan ilmuwan membuat saya percaya bahwa saya enggak akan berhenti menangis dalam waktu dekat karena kondisi mental dan biologis saya. Saya mesti menerima hal ini. Sebagai penutup, saya bertanya pada Howard alasan film bisa membuat orang merasa terhubung pada karakter di dalanya, hingga tingkatan mental.

"Film adalah propaganda yang sangat efektif," ujarnya. "Yang membuat film sangat efektif ada dua hal, karena itu adalah tontonan dan melibatkan emosi. Kita tahu menangis selalu merupakan manifestasi emosi manusia."