Perlindungan Satwa

Hanya Tersisa 250 Harimau Malaya di Dunia, Kabar Baiknya Populasi Mereka Bertambah Dua Ekor

Harimau Malaya terancam punah dan dalam titik nadir. Siapa sangka, penangkaran di kebun binatang justru menjadi salah satu jalan keluar melindungi mereka.
9.11.16

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Awal tahun ini, dua bola bulu bergaris-garis—kita sedang bicara tentang harimau—lahir di Kebun Binatang Bronx, New York, Amerika Serikat. Sayangnya kondisi fisik dua harimau Sumatra, yang dinamai Nadia dan Azul itu, teramat lemah. Induk mereka tak sempat membari banyak perhatian, sehingga pawang bonbin sempat lama menyembunyikan mereka dari publik.

Sepanjang musim panas, para pawang mati-matian merawat kedua bayi harimau itu. Termasuk menyusui keduanya menggunakan botol selama tiga jam sehari, serta menggendong mereka ke mana-mana. Barulah, memasuki September 2016, Nadia dan Azul akhirnya cukup sehat untuk diperkenalkan pada pengunjung kebun binatang.

Spesies Harimau Malaya—hingga 2004 masih bisa ditemukan di kawasan hutan pinggiran Malaysia dan Thailand—diperkirakan jumlahnya tinggal 250 ekor saja di seluruh dunia. Nasib mereka tak jauh berbeda dari subspesies harimau lain, terancam punah akibat kerusakan habitat aslinya dan perburuan liar. Tapi Harimau Malaya lebih menyedihkan nasibnya. Serikat Konservasi Alam Liar (IUCN) telah memasukkan subspesies ini dalam kategori sangat terancam, ini adalah kategori paling mendekati status punah secara harfiah. Artinya, kelahiran dua bayi harimau di New York, mengumumkannya pada publik, sangat berarti bagi kita semua.

Mengembangbiakkan satu spesies di kebun binatang sebetulnya ditentang oleh sebagian kalangan penyayang binatang. Sebab bagi mereka lebih baik jika hewan tersebut ditangkar di habitat alamiahnya. Kendati begitu, Masyarakat Konservasi Alam Liar (WCS) selaku pengelola Kebun Binatang Bronx, meyakini bahwa tetap saja cara apapun asal ada generasi baru yang lahir patut dicoba.

Iklan

Selain itu, lahirnya hewan yang terancam punah di kebun binatang dapat meningkatkan kesadaran publik. WCS juga mengingatkan betapa yang penting dilakukan sekarang adalah mencari cara terbaik mengembangbiakkan satu jenis spesies yang gagal bertahan di alam liar: ini mencakup harimau malaya.

WCS dan kelompok penyayang binatang lainnya, termasuk WWF dan Panthera, masing-masing tetap menjalankan program perlindungan hewan di habitat asli serta melawan perburuan liar.

Foto oleh Julie Larsen Maher/WCS

Beberapa minggu belakangan, dua harimau mungil yang sudah berusia 10 bulan itu dilaporkan mulai belajar banyak hal. Dari awalnya bobot mereka hanya 18 kilogram, kini sudah meningkat hingga 30 kilogram. Selain itu, karena setiap hari berinteraksi dengan pawang manusia, dua harimau belia ini belajar perintah-perintah sederhana seperti, "duduk", "berbaring", atau "berdiri". Demikian yang diceritakan oleh Pat Thomas selaku Wakil Presiden WCS dan Direktur Kebun Binatang Bronx.

"Dua harimau kecil itu telah beradaptasi sangat baik dengan lingkungan kandang mereka, termasuk di kandang berbeda yang mereka gunakan untuk tidur," ujarnya. Thomas juga sehari-hari terlibat dalam perawatan dua harimau ini.

"Mereka berdua sering bermain bersama, ini adalah salah satu pertanda positif bahwa keduanya suatu saat dapat dilepas ke habitat aslinya. Mereka terlihat selalu tertarik pada banyak hal dan suka menjelajahi wilayah-wilayah baru," urai Thomas.

Nadia dan Azul adalah harimau generasi ketiga yang lahir di Kebun Binatang Bronx. Dengan begitu, kini ada 70 ekor harimau malaya yang terdapat di Amerika Utara. Walaupun tidak ideal, penangkaran hewan terancam punah di kebun binatang terbukti salah satu cara yang berguna menahan laju pengurangan satwa kritis di masa mendatang.