The VICE Guide to Right Now

Rodrigo Duterte Menyatakan 'Amerika Serikat Sudah Keok' lalu Beralih Mendukung Cina

Menurut presiden kontroversial itu, ada tiga negara yang kini dimusuhi dunia: "Cina, Filipina, dan Rusia."​
21.10.16
Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Image via YouTube

Artikel ini pertama kali muncul di VICE Australia.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mendeklarasikan putus hubungkan dari Amerika Serikat, menyatakan kesetiaannya pada Beijing setelah kedua negara mengakhiri kemelut tentang Laut Cina Selatan.

"Saya kembali merapatkan diri," kata Duterte dalam sebuah pidato di Balai Besar Rakyat, Beijing. "Mungkin, saya juga akan berkunjung ke Rusia dan bicara dengan Putin. Saya akan bilang bahwa ada tiga negara yang kini dimusuhi dunia: Cina, Filipina, dan Rusia."

Iklan

"Dengan ini, di tempat ini, saya mengumumkan perpisahan dengan Amerika Serikat," lanjut Duterte. "Sekarang, Amerika sudah keok!"

Berdasarkan orang yang hadir, pernyataan Duterte ini disambut sorakan hadirin. Turut hadir dalam pidato Duterte malam itu, sebanyak 200 pebisnis Cina dan Filipina serta Wakil Perdana Menteri Zhang Gaoli.

Ketika diminta merespon pernyataan Duterte, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, John Kirby, mengatakan masih menunggu klarifikasi dari kata "pemutusan hubungan."

"Belum jelas bagi bagi apa arti kata itu dan semua konsekuensinya," ujarnya.

Hubungan AS dan Filipina merenggang setelah Duterte, seorang mantan Wali Kota Davao, terpilih menjadi Presiden Filipina Juni lalu. Dua bulan sebelumnya, kedua negara tengah membicarakan perluasan kesepakatan Kerjasama Keamanan Tingkat Lanjut. lewat kesepakatan itu, AS bisa memiliki markas militer di Filipina.

September lalu, Presiden AS Barack Obama membatalkan lawatannya ke Filipina, setelah Duterte menyebut sang presiden "son of a whore."

Duterte juga mencanangkan perang melawan Narkoba di Filipina. Sejauh ini, kebijakan Duterte menewaskan lebih dari 2.000 pengguna obat-obatan, bandar narkoba, dan penduduk tak bersalah hanya dalam beberapa bulan saja. Philippine Inquirer memiliki daftar korban Duterte dari ke hari. Daftar ini mencakup nama korban, umur dan lokasi pembunuhan masing-masing. Meski sebagian korban tewas oleh timah panas dari senjata polisi, mayoritas korban dibunuh kelompok swakarsa yang selama ini gagal dibubarkan pemerintahan Duterte.

Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak Presiden Filipina menghentikan pembantaian terhadap pengguna narkoba, presiden berusia 71 ini beralasan bahwa pembunuhan yang terjadi tak bisa diklasifikasikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Alasannya karena korban "bukan manusia."

Bahkan, ketika mengunjungi satu batalion tentara, Duterte bertanya "Kejahatan terhadap kemanusiaan? Begini saja deh, kita jujur-jujuran saja: Apa mereka manusia? Bagaimana anda mendefinisikan manusia?"

Membaiknya hubungan kedua negara membuka beberapa peluang ekonomi untuk Filipina. Setelah pidato Duterte rampung, Ramon Lopez, Menteri Perdagangan Filipina, menyatakan berbagai jenis kerja sama ekonomi senilai Rp230 triliun siap ditandatangani.

Meski demikian, Pemerintah Filipina harus berkompromi dalam sengketa wilayah di Laut Cina Selatan—sebuah daerah kaya minyak yang juga diperebutkan oleh Brunei, Taiwan, Vietnam, Malaysia. Awal tahun ini, Mahkamah Arbitrase Internasional di Den Haag telah memenangkan Filipina yang menggugat Cina dalam sengketa terkait perairan tersebut.