serba-serbi pekerjaan

Hasil Penelitian: Jadi Pelayan Lebih Bikin Stres daripada Jadi Dokter Bedah Syaraf

Pendeknya, jangan gampang ngambek kalau makanan yang kita pesan salah, sebab bisa saja pelayannya sedang stres.
Phoebe Hurst
London, GB
1.10.18

Sudah jadi rahasia umum kalau bekerja sebagai pelayan restoran itu bukan pekerjaan yang enteng. Gimana bisa dibilang enteng, wong gajinya kecil sementara jam kerjanya panjang. Malah, kadang betis-betis pelayan restoran rentan banget terserang varises karena kelamaan berdiri. Belum lagi, pelayan perempuan harus menghadapi pemilik restoran yang kerap melakukan pelecehan seksual, terutama kalau sedang teler.

Iklan

Kita semua tahu ini. Sayangnya, saat melakoni peran sebagai seorang pelanggan, sumbu kita kerap pendek. Melihat pelayan salah membawakan minuman yang kita pesan, terkesan lelet menyajikan makanan dan salah mencatat pesanan, kita bawaannya pengin ngelabrak mereka saja.

Tapi, kayaknya, setelah membaca artikel ini, kalian akan nyesel karena pernah bersumbu pendek. Pasalnya, ternyata, pelayanan manusia adalah sosok manusia yang berhak mendapatkan rasa hormat berlebih.

Sebuah penelitian terbaru menyimpulkan bahwa pekerjaan dengan jam kerja panjang, jadwal kerja yang ketat dan memerlukan kekuatan fisik yang tinggi—lantaran bekerja selama 12 jam sehari dan seringkali harus masuk pada akhir pekan—sangat mungkin merusak kesehatan mental dan fisik kita.

Nah kan, sekarang kudu mikir-mikir lagi deh sebelum menyemburkan omelan kita pada para pelayan yang menurut kita kurang becus bekerja.

Penelitian yang dikerjakan oleh peneliti di Southern Medical University, Guangzhou, China, menganalisis data dari 138.700 partisipan yang ikut dalam enam penelitian tentang hubungan kerja dan kesehatan yang digelar sebelumnya.

Berbekal data ini, para ilmuwan itu mengklasifikasikan pekerjaan menjadi empat kelompok, berdasarkan kontrol pekerja terhadap apa yang mereka lakukan dan seberapa berat imbas psikologisnya. Pekerjaan dengan tuntutan rendah dan kontrol pekerja terhadap apa yang mereka lakukan juga rendah seperti pekerjaan manual dikelompokkan sebagai pekerjaan pasif. Pekerjaan yang memungkinkan pelakunya memiliki kontrol yang tinggi terhadap aktivitasnya—contohnya peneliti atau arsitek—dilabeli sebagai pekerjaan stres rendah. Lalu, pekerjaan dengan tuntutan tinggi namun pelakunya nyaris sepenuhnya memegang kendali akan aktivitas mereka, contohnya guru dan dokter, disebut pekerjaan pasif.

Iklan

Lalu ada kategori pekerjaan stres tinggi yang mencakup pekerjaan dengan tuntutan tinggi yang nyaris membuat pelakunya tak punya kendali akan apa yang mereka lakukan. Kawan-kawan kita yang bekerja sebagai pelayan masuk dalam kategori ini.

Para peneliti menemukan bahwa pelayan memiliki kemungkinan mengalami stroke 22 persen lebih tinggi daripada mereka yang memiliki pekerjaan rendah stress. Parahnya, angka tersebut naik menjadi 33 persen pada pelayan perempuan bila data penelitian dipisahkan berdasarkan gender.

Lebih jauh, para peneliti menjelaskan bahwa kendati mereka berprofesi sebagai arsitek dan peneliti terkesan rentan mengalami peningkatan tekanan darah, stres pekerjaan umumnya tergantung pada apakah seorang pekerja memiliki kendali pada apa yang mereka lakukan serta apakah dia mendapatkan penghargaan yang setimpal. Seorang ahli bedah syaraf bisa saja mengalami kelelahan mental setelah seharian bekerja. Cuma mereka tetap saja akan merasa lebih dihargai dibandingkan seorang pelayan yang baru saja dilempar mashed potato oleh salah anak pelanggan restorannya (plus tak diberi tip). Makanya, pekerjaan dengan tuntutan rendah di mana pekerja punya kendali atas pekerjaannya tak menyebabkan peningkatan kemungkinan stroke atau masalah jantung.

Selain karena pergantian shift yang mengganti jam biologis mereka, para pelayan, menurut hasil penelitian para ilmuwan di atas, cenderung terpaksa merokok dan mengonsumsi alkohol—dua aktivitas yang tak menurunkan kemungkinan stroke dan malah menyebabkan serangkaian gangguan mental.

Dingli Xu dari Southern Medical University mengungkapkan: "stres pekerjaan yang tinggi seringkali dikaitkan dengan penyakit jantung. Namun, sejauh, ini penelitian terhadap korelasi stres kerja dan stroke belum menunjukan hasil yang konsisten. Cuma yang jelas, pekerjaan dengan tingkat stres tinggi kerap menyebabkan pelakunya memiliki pola makan yang buruk, merokok dan malas berolahraga.”

Jadi, ingat-ingat artikel ini, jika kamu kebelet ngelabrak pelayan yang melakukan secuil kesalahan—mungkin ini karena mereka sudah kelamaan bekerja. Sebab, seperti yang terungkap dalam penelitian di atas, kemungkinan kita kena terkena stroke jauh lebih rendah dibanding mereka.