Tantangan Merajut Kembali Kemajemukan Setelah Anies-Sandi Menang Hitung Cepat Pilkada Jakarta
Foto oleh Arman Dzidzovic.
Pilgub DKI

Tantangan Merajut Kembali Kemajemukan Setelah Anies-Sandi Menang Hitung Cepat Pilkada Jakarta

Hasil putaran kedua yang menumbangkan Gubernur Petahana Ahok, diyakini pengamat sebagai momentum konsolidasi kubu konservatif di pentas politik Indonesia.
19.4.17

Tangisan pecah di tengah sorak sorai yang membahana dari Jalan Kertanegara IV, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ratusan orang memadati kediaman Prabowo Subianto—Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya itu. Tapi air mata yang kita bicarakan itu tak jatuh di pipi Prabowo.

Sandiaga Uno yang menitikkan air mata. Pengusaha ini segera memeluk Anies Baswedan, pasangan politiknya selama proses pemilihan gubernur DKI Jakarta yang berlangsung riuh rendah tujuh bulan terakhir. Pasangan calon nomor urut tiga itu diproyeksikan menang oleh seluruh lembaga survei politik, berselang tiga jam setelah pemungutan suara Pilgub putaran kedua resmi ditutup oleh Komisi Pemilihan Umum. Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), salah satu lembaga survei paling kredibel di Tanah Air, memperkirakan Anies-Sandi meraih 58,06 persen suara. Walaupun masih menanti rekapitulasi suara resmi KPU, prediksi lembaga survei selama ini hampir pasti mendekati perhitungan riil.

Iklan

Kebahagiaan menular cepat ke Aula Kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra, di Ragunan, Jakarta Selatan. Yel-yel "Anies-Sandi menang" diteriakkan puluhan orang. Puluhan lainnya menganggap kemenangan paslon nomor tiga sebagai ancang-ancang merebut pemerintahan pada pemilu presiden 2019 mendatang. "Prabowo presiden!" kata beberapa simpatisan lainnya.

Hasil ini mengakhiri palagan panjang yang dihadapi calon petahana, Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dan Wakilnya Djarot Syaiful Hidayat. SMRC memprediksi pasangan calon nomor urut dua itu hanya memperoleh dukungan 41,94 persen. Semua lembaga survei menunjukkan Ahok-Djarot tertinggal hingga 15 persen dari lawannya.

Sebelum hari H pemilihan dilaksanakan 19 April ini, Ahok-Djarot diterpa berbagai masalah. Ahok tersandung kasus dugaan penistaan agama akibat kata-katanya saat berpidato di Kepulauan Seribu tahun lalu. Blunder politik itu memicu respons sektarian oleh rival-rivalnya, memicu demonstrasi rutin lima bulan terakhir oleh organisasi massa Islam di jalanan Ibu Kota.  
Tahun lalu, hanya segelintir orang berani meramalkan kemenangan sosok gubernur baru selain Ahok. Sebelum September 2016, Ahok menikmati puncak popularitas sebagai seorang gubernur yang bicara blak-blakan dan mengesankan diri berani melawan korupsi, nepotisme, serta lambannya birokrasi yang menghantui Jakarta, megapolitan yang dihuni nyaris 12 juta penduduk.

Semua berubah setelah musim kampanye Pilgub DKI resmi dimulai pada November 2016. Ahok mulai menerima kritikan pedas dari berbagai kalangan, termasuk para pendukungnya, karena menggusur daerah kumuh yang menyebabkan ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Penggusuran tersebut, yang dimaksudkan untuk membersihkan masyarakat dari penghuni "ilegal", membuat kesal banyak warga berpenghasilan rendah—sebagian besar warga kelas pekerja itu beragama Islam.

Warga Islam konservatif, yang tidak menyukai pemeluk Kristen seperti Ahok memimpin ibu kota negara dengan populasi Islam terbesar sedunia, segera memanfaatkan ketidaksukaan rakyat miskin kepada sang gubernur petahana. Video rekaman Ahok mempertanyakan surat Al Maidah ayat 51—surat dalam Al Quran yang menurut beberapa interpretasi dianggap bukti bahwa orang Muslim sebaiknya tidak memilih pemimpin non-Muslim—tersebar di internet. Video tersebut sebelumnya diedit dan Ahok telah meminta maaf karena tak sengaja menyinggung perasaan umat muslim. Sayangnya kehebohan terlanjur meruak, mengiring suara mayoritas umat muslim mengalihkan dukungan pada sang rival, kini berujung pada kekalahan telak Ahok pada putaran kedua Pilgub.

"Opini pilkada saat ini sudah dibentuk dalam kerangka intoleransi," kata Yohanes Sulaiman, pengamat politik Universitas Achmad Yani Bandung saat dihubungi VICE Indonesia.

Iklan

Isu agama ini mempengaruhi persepsi tidak hanya warga Jakarta yang mempunyai hak pilih, namun juga penduduk dari kota lain. Dedi, pria yang jauh-jauh datang dari Surabaya, mengaku hadir di TPS di Tebet demi memantau pelaksanaan pilkada. Dia mengaku tidak menyukai Ahok. "Saya datang sebagai relawan supaya tidak ada pihak yang curang," ujarnya. "Politik jakarta mempengaruhi Indonesia, jadi sebaiknya pemimpin Jakarta itu muslim."

Anies dalam konferensi pers menanggapi kemenangan telaknya dalam putaran dua, berjanji akan terus melindungi keragaman etnis dan agama di Jakarta. Pidatonya berupaya mengubur semua retorika buruk yang menodai kampanye pilgub DKI. "Jakarta adalah kota yang bhinneka di Indonesia. Kita rawat kebhinnekaan itu sekaligus kita perjuangkan agar persatuan hadir di Jakarta," kata mantan Menteri Pendidikan itu.

Anies sekaligus memberi selamat kepada Ahok-Djarot yang sudah menjalankan tugas sebaik-baiknya selama memimpin jajaran Pemprov DKI. "Kita akan terus bersahabat, kita akan terus berteman. Pak Basuki dan Pak Djarot adalah putra terbaik bangsa Indonesia yang sudah mengabdi," ujarnya.

Ahok mengakui kekalahan dalam hitung cepat Pilgub DKI. Foto oleh Arman Dzizovic.

Dalam jumpa pers terpisah di Hotel Pullman, Jakarta, Ahok menghormati hasil pilgub yang diproyeksikan oleh berbagai lembaga survei. Dia meminta para pendukungnya berbesar hati. "Kepada pendukung kami, sedih engga apa-apa. Percayalah, kekuasaan itu Tuhan yang kasih, Tuhan yang ambil," kata sang gubernur petahana. "Selamat sekali lagi untuk Anies-Sandi, kita semua sama-sama ingin Jakarta baik karena ini rumah kita bersama."

"Hasil penghitungan quick count, Pak Anies dan Pak Sandi unggul. Oleh sebab itu, saya mengucapkan selamat kepada beliau," kata Djarot dalam kesempatan yang sama.

Iklan

Sulaiman menyatakan hasil ini menunjukkan tidak ada perubahan konfigurasi pemilih di Jakarta. Pendukung pasangan calon nomor urut satu Agus Yudhoyono-Sylvia Murni yang kalah di putaran pertama, sesuai dugaan para pengamat politik mengalihkan dukungan kepada Anies-Sandi. "Pilkada putaran lalu, rata-rata pendukung Agus memang tidak menyukai Ahok, jadi pilihannya ya cuma Anies," ujarnya.

Anggota Front Pembela Islam (FPI) menggelar pawai naik sepeda motor di Tanah Abang, Jakarta Pusat setelah hasil hitung cepat diumumkan berbagai media. Kembang api ditembakkan ke udara. Puluhan remaja dengan atribut putih-putih dan membawa bendera FPI menggelar sujud syukur di jalanan aspal kawasan Petamburan. "Kami dari awal yakin Anies-Sandi menang," kata Ahmad, salah satu anggota FPI. Ormas Islam radikal seperti FPI dan Forum Umat Islam menjalin komunikasi dengan kubu Anies-Sandi sejak akhir tahun lalu. Rizieq Shihab, pemimpin FPI, yang sempat meminta umat muslim Jakarta mendukung paslon nomor tiga, mengaku berbahagia melihat hasil hitung cepat.

"Kami bersama-sama melakukan sujud syukur atas kemenangan pemimpin muslim, Insya Allah pemimpin muslim yang menang hari ini akan ikut sujud bersama," kata Rizieq sebelum menuju Masjid Istiqlal.

Pawai FPI di Petamburan setelah Anies-Sandi dinyatakan menang hitung cepat. Foto oleh Renaldo Gabriel.

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, menyatakan tuntutan pemilih rasional di Jakarta sangat tinggi. Hal ini juga berpengaruh pada kekalahan Ahok. Walau Ahok dipersepsikan positif, kemasan citra Anies Baswedan yang menampilkan kata-kata santun tetap berhasil menarik simpati pemilih yang belum menentukan sikap.

"Ini bukti dalam hal petahana, elektabilitas dan kinerja itu tidak berbanding lurus," kata Siti Zuhro kepada VICE Indonesia. "Masyarakat Jakarta itu banyak tuntutannya, mereka sangat demanding, tidak hanya soal program atau achievement yang sudah ada. Mereka juga menginginkan pemimpin dengan performance baik, tutur kata baik, attitude, serta kebijakan yang pro rakyat."

Iklan

Namun Siti mengakui retorika agama berperan besar dalam kontestasi pilkada DKI tahun ini. Karena Jakarta adalah pusat perpolitikan nasional, dia khawatir strategi agama akan dipakai lagi pada pemilu 2019, karena terbukti berhasil memenangkan politik praktis Ibu Kota. "Yang penting apakah pada pilpres 2019 itu isu SARA diangkat lagi atau tidak. Jadi ini terletak di para petinggi partai untuk menentukan arah kontestasi ke depannya," kata Siti.

Yohanes Sulaiman melihat akan ada konsolidasi kelompok konservatif setelah Anies menjabat. Selama kampanye, Anies dan Sandi beberapa kali menjanjikan pembangunan Jakarta dengan mengakomodasi aspirasi umat muslim. "Anies dalam kampanyenya terkesan tidak mendukung liberalisme," ujarnya. "Kesan sekilas, kemenangan Anies ini adalah kemenangan kelompok-kelompok intoleran. Ini bisa menjadi momentum bagi kelompok intoleran untuk menunjukkan kekuatan."

Satu-satunya cara bagi Anies merangkul kembali kelompok sekuler dan juga pendukung Ahok dalam membangun Jakarta, adalah menjauhkan diri dari kesan politikus pendukung radikalisme agama. "Kita masih berharap bahwa nantinya Anies bisa tegas dan mendukung pluralisme," kata Sulaiman.

Di kalangan akar rumput, harapan merajut kembali kemajemukan Ibu Kota masih coba dipertahankan. Banyak warga mengeluh betapa momen kampanye enam bulan terakhir merusak pertemanan dan hubungan antar tetangga. "Saya rasa kita harus ada forum pertemuan kalau terjadi perpecahan di RT kita atau RW kita. Siapapun yang terpilih, ya kita harus terima," kata Syakieb Sungkar, warga Tebet, Jakarta Selatan. "Jangan jadi hal yang dibawa jadi pribadi. Ini pemilihan biasa aja."

Bagaimanapun, sebagian warga pesimis situasi Jakarta masih akan normal di masa mendatang. Rasa lelah karena semua retorika politik agama ini diharapkan segera berlalu. "Pesta demokrasi ini seharusnya membahagiakan," kata Agus Setiadi, warga Jakarta Selatan. "Jadi kita harus menghindari terpolarisasi dan teradikalisasi. Karena tujuan kita semua kesejahteraan rakyat."

*Adi Renaldi, Arzia Tivany Wargadiredja, Renaldo Gabriel, dan Yudistira Dillianzia berkontribusi untuk laporan ini.