Film

Nonton Lagi Film 'Outbreak' Membuatku Lebih Tenang Menghadapi Pandemi Corona

Aneh memang. Film Hollywood klasik tentang wabah mematikan itu mampu membuatku lebih tenang menghadapi COVID-19.
Alex Zaragoza
Brooklyn, US
12 Maret 2020, 8:55am
Outbreak
Foto dari arsip: Warner Bros. 

Saat ini, dunia dibuat panik oleh coronavirus atau COVID-19. Puluhan juta orang diminta berdiam diri di rumah untuk mencegah penularan virus. Tak sedikit dari mereka menimbun masker, hand sanitizer, dan tisu toilet (kecuali satu orang yang enggak sengaja beli kebanyakan). Langkanya hand sanitizer memaksa para tahanan di New York bekerja keras memproduksinya. Stok makanan pun semakin menipis karena diborong habis-habisan, mungkin takut kehabisan makanan selama masa karantina. Lebih parahnya lagi, kepanikan ini membuat sejumlah orang jadi rasis banget terhadap etnis Tionghoa.

Rasa panik yang sudah berlebihan begini memang sulit diredam, apalagi kalau kalian malah menonton film tentang epidemi mengerikan yang melumpuhkan kota kecil dan mengancam akan menyebar ke Amerika Serikat. Yang ada makin stres saja pikirannya. Tapi anehnya, aku pribadi justru merasa lebih tenang menghadapi isu coronavirus setelah menonton film ini.

Tayang 25 tahun lalu, Outbreak meraih 189 juta Dolar AS (Rp2,7 triliun) di penayangan perdana. Film yang disutradarai Wolfgang Petersen mengisahkan tentang dokter militer Sam Daniels (Dustin Hoffman) yang berusaha menghentikan penyebaran virus mematikan Afrika di kota California.

Tim Sam, termasuk mantan istrinya (Rene Russo) yang berprofesi sebagai dokter Pusat Pengendalian Penyakit AS dan dua peneliti (Cuba Gooding Jr. and Kevin Spacey), buru-buru mengidentifikasi penyebab wabah yang membuat organ tubuh pasien menjadi cair. Rupanya sumber penyakit itu berasal dari monyet yang dicuri dari laboratorium James Scott (Patrick Dempsey).

Dalam satu adegan, lelaki yang terinfeksi virus batuk-batuk dalam bioksop. Dia menyebarkan droplet ke penonton lain lewat udara. Cairan itu masuk ke mulut orang-orang yang tertawa dan menempel di permukaan. Dalam hitungan jam, semua pengunjung bioskop tertular penyakitnya. Mereka batuk hebat dan matanya mengeluarkan darah. The Hollywood Reporter menyebut film itu “masuk akal tapi menakutkan” dalam ulasan aslinya. Mengingat wabah Ebola yang terjadi pada 90-an, tak heran kalau Outbreak dibilang masuk akal dulu.

Mungkin bukan ide bagus untuk menontonnya di saat-saat seperti ini. Akan tetapi, Outbreak justru bisa meredakan kecemasanku. Coronavirus adalah ancaman nyata, dan ribuan orang tewas karenanya. Sulit rasanya untuk menghentikan rasa khawatir, sampai akhirnya wabah ini memicu tindakan rasis terhadap orang Asia, serta mengkarantina dan membuat sebagian orang bekerja dari rumah (termasuk staf VICE) karena perusahaan berusaha membatasi jumlah orang yang berkumpul dalam satu ruangan. Entah mengapa, Outbreak menjadi semacam terapi untukku. Aku jadi enggak terlalu panik ketika menyaksikan tubuh para tokoh fiksi itu dipenuhi bintik-bintik dan mereka meninggal dengan cara mengerikan.

Dalam serial NBC This Is Us, karakter Beth dan Randall dengan lantang menyebutkan hal-hal yang bikin mereka takut setiap kali merasa gelisah. Cara ini mampu mengurangi kecemasan mereka, karena mereka enggak perlu terlalu memikirkannya. Aku ikut melakukan ini ketika mulai cemas, dan beneran bermanfaat.

Aku awalnya mual saat menonton Outbreak, tapi segera menyadarkan diri ini hanyalah film yang skenarionya sudah dibesar-besarkan demi hiburan. Dari situ, aku mulai bernapas lega. Aku menulis artikel ini bukan untuk mengajak kalian menyepelekan laporan dan instruksi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Bagiku, kesehatan mental dapat terancam jika rasa panik ini terus dibiarkan, yang bisa saja makin memburuk karena sekarang aku menghabiskan sebagian besar waktu bekerja di apartemen.

Aku justru bersyukur masih diberi kesehatan. Aku enggak perlu khawatir kedua mata mengeluarkan darah, dan pemerintah merusak lingkungan tempat tinggalku untuk mencegah penularan penyakit (kayak yang ada di film).

Yang aku tahu sekarang aku harus mencuci tangan secara teratur, enggak menyentuh wajah, dan langsung ke dokter ketika sakit. Selain itu, wabah coronavirus enggak bisa dijadikan alasan untuk bersikap rasis terhadap ras dan etnis tertentu. Langkah-langkah ini relatif gampang, dan berhasil membuatku tetap tenang.

Satu yang pasti, aku enggak akan mau dekat-dekat monyet. Enggak peduli binatang itu sering main film Hollywood.

Kalian juga bisa menonton Outbreak di Netflix.

Follow Alex Zaragoza di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.