Orang Tajir Sepakat Sama Kita Semua: Hidup Ini Tidak Adil

Banyak orang kaya yang sadar terjadi kesenjangan ekonomi, tapi sayangnya sedikit dari golongan 1 persen yang bersedia taat bayar pajak untuk mengentaskan kesenjangan tersebut.
14.1.20
Bocah laki-laki tampak kaget dengan penampilan perempuan yang memakai topi dan sarung tangan sepanjang siku
Situasi di luar jamuan makan siang Frederick Olmsted di New York City pada 2017. Foto oleh Andrew Lichtenstein/Corbis via Getty

Sebagian besar manusia tampaknya mempercayai gagasan berikut: hidup itu tidak adil. Mereka-mereka yang pendapatan keluarganya melebihi $500.000 (setara Rp6,8 miliar)—hanya 1 persen dari total populasi Planet Bumi—juga menyadari hidup mereka terlalu enak dan memperoleh banyak sekali hak istimewa, baik itu dalam penerimaan di perguruan tinggi hingga tempat tinggal.

Beberapa juga sepakat kaum superkaya seharusnya membayar pajak lebih besar. Tapi, ketika orang berpenghasilan tinggi ditanyakan kesediaannya melakukan sesuatu, mereka malah menolak dengan keras. Aku harus keluar banyak untuk mengurangi kesenjangan? Tidak deh, makasih.

Kira-kira begitulah hasil yang diperoleh NPR, Fakultas Kesehatan Masyarakat Harvard T.H. Chan, dan Yayasan Robert Wood Johnson ketika melakukan survei telepon pada 1.885 orang dewasa. Temuan mereka menunjukkan 1 persen “memiliki kepuasaan hidup yang hampir universal”, dengan 90 persen kelompok mengaku “sangat” puas dengan kehidupan mereka—dibandingkan dengan 44 persen responden yang pendapatannya kurang dari $35.000 (Rp479 juta). Hanya delapan persen dari orang berpenghasilan tinggi yang tak mampu membayar tagihan rumah sakit, sedangkan 57 persen orang berpenghasilan rendah mengalami hal serupa.

Hanya sedikit orang kaya yang kesulitan melunasi utang, menemukan tempat tinggal terjangkau, dan membeli makanan atau membayar sewa rumah. Masalah-masalah ini umum dirasakan kelompok di bagian bawah piramida pendapatan.

Hanya sembilan persen orang berada mengaku mereka “sangat khawatir” memikirkan masa depan, jika dibandingkan dengan 29 persen orang kurang mampu. 73 persen orang berpenghasilan tinggi telah mencapai “American Dream”, tak seperti 20 persen orang berpendapatan rendah. Responden yang menghasilkan di antara keduanya dilaporkan tidak kesulitan membayar tagihan, tidak cemas, dan lebih puas hidup jika menghasilkan lebih banyak uang. Sederhananya, uang beneran bisa membeli kebahagiaan (atau setidaknya memastikan kita hidup nyaman). Tanpa uang, kita takkan bisa hidup enak.

Walaupun begitu, orang kaya di Amerika menyadari adanya kesenjangan dan ketidakadilan seperti halnya penduduk lain. Sekitar setengah dari responden tajir mengetahui perjuangan orang biasa mendapatkan penghasilan kelas menengah akan lebih sulit, dan calon mahasiswa kaya jauh lebih dipentingkan pendaftarannya. Lebih dari setengahnya—62 persen—menganggap kesenjangan pendapatan antara orang tajir melintir dan paling miskin adalah masalah “yang cukup serius”.

Sementara itu, 49 persen dari mereka merasa layanan kesehatan terjamin yang hanya diperoleh orang kaya “sangat tidak adil”. Pada umumnya, responden berpenghasilan rendah cenderung keberatan dengan ketidaksetaraan, tetapi bukan karena margin yang substansial. Selain itu, orang kaya tidak selamanya merasa hidup mereka adil karena punya segalanya.

Namun, ada hal yang membedakan antara responden kaya dengan yang lain ketika ditanyakan soal kontribusi mereka.

Dari semua kelompok pendapatan, mayoritas responden mengatakan pemerintah harus “memprioritaskan” asuransi kesehatan bagi semua warga negara. Sebagian besar kelompok berpenghasilan di bawah $500.000 (Rp6,8 miliar) mengatakan “orang superkaya” wajib bayar pajak lebih besar. Setengah dari responden terkaya bahkan menyetujui usulan ini. Akan tetapi, ketika ditanyakan apakah “kaya” harus membayar pajak lebih besar, hanya 35 persen orang berpenghasilan tinggi yang setuju.

Itu berarti ketika harus berkorban lebih untuk mengentaskan kesenjangan, orang berpenghasilan tinggi cenderung menjadi egois. Perilaku “mengamankan” harta sudah ada sejak dulu. Sebagaimana ditulis Richard Reeves dalam buku Dream Hoarders, orang Amerika dengan penghasilan 20 persen teratas memiliki keuntungan tak terhitung dalam hal tempat tinggal dan bahkan harapan hidup. Mereka tak tanggung-tanggung menggagalkan upaya memperbaiki kebijakan yang menguntungkan mereka.

Ketika memikirkan ketidaksetaraan secara abstrak, semua setuju hal itu buruk. 0,1 persen kalangan elit Davos akan meratapi kesenjangan antara orang kaya dan miskin. Akan tetapi, sikap mereka langsung berubah ketika pembahasannya beralih ke gagasan peningkatan ketidaksetaraan dapat menyebabkan redistribusi sumber daya dan memengaruhi kehidupan orang berpenghasilan tinggi atau bahkan kurang dari $500.000 (Rp6,8 miliar). Semua orang menginginkan dunia yang adil, tapi tak ada satupun yang siap kehilangan sedikit hartanya.

Follow Harry Cheadle di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.