Pandemi Corona

Polisi Filipina Mengurung Pelanggar Aturan Lockdown dalam Kandang Anjing

Mereka juga menembak pengendara motor yang diduga menghindari pos pemeriksaan. Jadi di India dan Filipina, lockdown corona sama-sama berakhir brutal.
30 Maret 2020, 6:48am
Orang Filipina yang melanggar lockdown dikurung dalam kandang anjing
Gambar via Facebook/ Eric Panisan Ambrocio

Setelah memerangi narkoba dengan brutal, Filipina kini menghukum orang-orang yang melanggar aturan lockdown menggunakan langkah serupa.

Pejabat setempat dilaporkan mengurung pelanggar di dalam kandang anjing, dan juga menjemur mereka di bawah terik matahari.

Strategi ini mirip seperti yang dilakukan Tiongkok dan India selama isolasi akibat coronavirus berlangsung. Dalam rekaman video, pihak berwajib Tiongkok tampak mengikat pelanggar ke tiang dan memaki mereka. Sementara itu, polisi India memukuli dan menyuruh warga push-up di jalanan jika mereka ketahuan tidak menaati perintah berdiam di rumah.

Menanggapi pelanggaran hak asasi tersebut, Human Rights Watch menyerukan agar otoritas negara menghormati hak-hak mereka yang ditemukan melanggar peraturan lockdown. Selain itu, mereka diminta menyelidiki setiap perbuatan berlebihan dalam menerapkan pembatasan.

“Polisi dan pejabat setempat harus menghormati hak-hak pelanggar jam batas dan peraturan kesehatan masyarakat lainnya, sementara pemerintah Filipina mengambil langkah tepat dalam memerangi COVID-19,” kata Phil Robertson, wakil direktur HRW wilayah Asia, pada Kamis. “Setiap tindak penganiayaan harus segera diselidiki, dan pihak berwajib harus bertanggung jawab.”

Kepolisian distrik Santa Cruz di Manila, misalnya, mengurung lima orang—dua di antaranya anak di bawah umur—di dalam kandang anjing karena melanggar jam batas dua pekan lalu. Pejabat bernama Frederick Ambrocio mengunggah foto mereka di Facebook.

Menurut keterangan polisi, ketua distrik administrasi tersebut mengancam akan menembak kelima pelanggar jika tidak menuruti peraturan. Mereka dikurung selama 30 menit. Situs berita PhilStar melansir Frederick menghadapi tuduhan atas pemberian ancaman serius, paksaan, dan pelanggaran undang-undang perlindungan anak.

Dalam postingan Facebook, Frederick meminta maaf atas tindakannya dan mengklaim kelompok itu bersikap kasar. “Saya meminta maaf atas apa yang telah terjadi,” tulisnya.

Pekan lalu, pejabat setempat di Parañaque menuai kritikan keras akibat menjemur pelanggar di lapangan basket saat siang bolong.

Aksi penghukumannya juga diunggah ke Facebook dengan peringatan, “Siapa saja yang tertangkap basah melanggar jam batas akan kami jemur di sini.” Postingan pejabat di Parañaque dihapus setelah dikritik melanggar hak asasi dan tindakannya tidak dibenarkan hukum.

Dalam wawancara PhilStar, Noel Japlos selaku ketua distrik San Isidro mengklaim orang-orang itu dijemur bukan karena melanggar, tapi sebagai upaya social distancing karena semua fasilitas di dalamnya penuh.

Hukuman berlebihan lainnya terjadi di provinsi Bulacan, Luzon tengah. Otoritas setempat menembak pengendara motor yang diduga menghindari pos pemeriksaan lockdown pada 25 Maret. Polisi mengatakan mereka saling tembak-menembak sebelum akhirnya lelaki tersebut tewas. Ditemukan pistol di lokasi kejadian.

Presiden Rodrigo Duterte mengisolasi Manila dan pulau Luzon, yang berpenduduk lebih dari 50 juta orang, pada 16 Maret sebagai upaya menghentikan penyebaran COVID-19. Sejak itu, polisi telah menangkap ratusan orang yang melanggar peraturan lockdown.

Sejauh ini, 1.418 orang Filipina terjangkit COVID-19. 42 pasien sudah pulih, sedangkan korban meninggalnya ada 71 orang.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.