Membagi 'Mimpi Indah' Verónica Hernández Kepada Pembaca VICE
Ilustrasi oleh Dini Lestari.

FYI.

This story is over 5 years old.

Sastra

Membagi 'Mimpi Indah' Verónica Hernández Kepada Pembaca VICE

Sembari melakoni residensi di Meksiko, sastrawan Dea Anugrah menerjemahkan cerpen penulis erotis mengasyikkan Amerika Latin untuk pembaca Indonesia. Cerpen ini terang menjelaskan batas fiksi erotis dan pornografi.

Saya bertemu Verónica Hernández sebelum bosan menjelaskan mengapa saya, orang Indonesia, bisa hidup seperti pensiunan di Mexico City. Mungkin ia terkesan. Bagaimana sebuah negara yang, dalam banyak urusan seakan-akan dikelola oleh para pegawai kelurahan, dapat mengirim para penulisnya ke seluruh dunia?

“Kau terkenal di negaramu?” tanyanya.

“Terkenal kurang ajar,” kata saya.

Veronica mengatakan ia juga menulis fiksi, tepatnya cerita-cerita pendek erotis. Ia mengirimkan salah satunya, dalam terjemahan bahasa Inggris, dua pekan setelah pertemuan itu. Saya tentu berminat membaca karya penulis pertama yang saya temui di kota ini tetapi saya nyaris tak tahu apa-apa tentang genre erotis. Satu-satunya “kisah erotis” yang pernah saya baca ialah Selembut Sutra karya Enny Arrow, dan saya pikir ia tak lebih dari bokep yang buruk. Beberapa teman merekomendasikan Anaïs Nin, tetapi sampai sekarang saya hanya tahu nama itu juga menempel pada seekor kucing doyan kawin di Pasar Santa, Jakarta.

Iklan

“Dulces sueños” alias “Mimpi Indah”, cerita pendek Verónica Hernández, menggusur pikiran saya tentang Selembut Sutra dan keburukannya ke bak sampah. Kisah yang tak sampai tiga halaman itu mengingatkan saya kepada Continuity of Parks karya Julio Cortázar; cerita berbingkai yang kedua bagian penyusunnya saling membelit dan akhirnya menyatu seakan-akan tak pernah ada bingkai yang memisahkan mereka. Saya menyukai cara Verónica membangun ritme. Ia menyusun kalimat-kalimatnya, baik yang menggambarkan pikiran maupun tindakan, dalam bentuk dan pada posisi yang tepat, sehingga kisah bergerak akas.

Bokep, menurut Umberto Eco dalam esai ringkas “How to Recognize a Porn Film”, cenderung berlebihan menampilkan kewajaran. Dalam bokep, apabila karakter A harus menghampiri karakter B dengan mobil agar mereka dapat indehoy, penonton lebih dulu menyaksikan seluruh perjalanan karakter A, lengkap bersama kemacetan dan adu bacotnya. Bokep harus bertele-tele agar penonton memaklumi transgresi yang bakal ditampilkan. Dengan kata lain, perbedaan utama antara cerita erotis sebagai karya seni dan bokep adalah proporsi.


Baca juga artikel VICE Indonesia lain yang mengulas topik sastra dunia:

Saya menerjemahkan “Dulces sueños” ke dalam bahasa Indonesia sebagai ungkapan terima kasih karena ia telah mengingatkan saya bahwa cerita jenis apapun, selama disampaikan dengan baik, dapat menjadi bacaan bermutu.

Saya bertanya pada Veronica apakah “Dulces sueños” pernah diterbitkan. “Belum, ia bagian dari Doce cuentos peregrinos-ku,” katanya, merujuk buku kumpulan cerpen Gabriel García Márquez yang terbit belasan tahun, setelah kisah-kisah di dalamnya ditulis. Saya tak berkeberatan menunggu.

Iklan

Mimpi Indah*

Oleh: Verónica Hernández**

Sore semakin layu dan aku, betapa lugu, berpikir bahwa kau akan tetap datang. Gelap turun dan kau tak pernah muncul. Tak ada panggilan telepon atau pesan darimu. Aku mengigil di bawah selimut, terbungkus kegelapan dan kekecewaan. Demam menghajarku tetapi yang kurasakan hanya kebas yang nyaman di sekujur tubuh. Aku mulai bermimpi. Kulihat kau dari jendela kamarku, berdiri di seberang jalan, kurus. Satu tanganmu terbenam dalam saku celana dan yang lainnya menjepit rokok. "Ia begitu muda," pikirku. Aku melambaikan tangan tapi kau tak menyadari keberadaanku. Aku tak dapat bergerak. Keinginan untuk menuruni tangga dan menghampirimu muncul di benakku, tetapi kulihat kau mengembuskan asap terakhir, menjentikkan puntung rokokmu dengan lagak jengkel, dan berjalan menjauh.

Aku terbangun dalam keadaan gemetar. Demam semakin menjadi. Lampu kubiarkan mati dan aku menutup wajahku dengan selimut. Kehangatan napas membuatku tenang. Ia membuatku merasa tak seberapa sakit, tak seberapa kecewa. Aku berpikir apakah kau mangkir karena sekadar gugup atau perasaan tak berminat yang mendalam. Untunglah aku mengundangmu ke rumahku—sehingga aku terhindar dari rasa malu di depan banyak orang. Sekarang aku tak lagi kecewa atau mencemaskanmu, hanya penasaran. Pertanyaan-pertanyaan saling silang dalam kepalaku; demam telah mengobok-oboknya. Untuk sesaat kukira keberadaanmu hanyalah bagian dari mimpiku; bahwa aku menciptakanmu: seorang tokoh dalam cerita-ceritaku. Kupikir sore yang pernah kita habiskan berdua cuma sebuah bab dalam novelku. "Ya," kataku kepada diri sendiri, "tak ada bukti bahwa kau bukan sekadar rekaan: pemuda berambut panjang bergelombang yang tampil selintas dalam bab tiga." Dan gagasan cemerlang untuk membunuhmu pun datang. Aku akan mengusirmu dari ceritaku tanpa rasa bersalah. Kau hanya karakter yang datang dan pergi sesuka hatimu; dan tanpamu, cerita akan tetap utuh. Tetapi itu membuatku sedih. Bagaimana mungkin aku tega membunuhmu? Tenaga hidup telanjur mengalir dalam diri, pengalaman, napas, dan nadimu. Kuputuskan untuk memberimu riwayat sendiri. Kau akan menjadi tokoh utama dalam kisahmu sendiri. Aku akan memindahkanmu dari bab yang kautinggali ke dunia lain yang sempurna bagimu. Dunia yang baru, segar, dan penuh gairah; sebagaimana dirimu. Mungkin sebuah cerita pendek penuh bintang-bintang dan malam dan perjalanan. Aku akan memulainya dengan menggambarkan bunyi topi baseball merahmu yang jatuh menghantam tanah saat kau mendongakkan kepala agar aku dapat menciummu. Tetapi tidak. Aku tak boleh melakukannya. Bukankah aku telah membebaskanmu dari jerat ceritaku dan memberimu hidup buat kau jalani sesukamu?

Iklan

Kalimat-kalimat yang kita tulis bersama pada sore itu membuatku tersenyum. Tawamu, jari-jari tanganmu yang panjang, caramu memalingkan wajah dan merengutkan alis saat menyanyikan lagu Manu Chao, “Clandestino.” Kau memikirkan setiap kalimat dalam lagu itu dengan serius. Kau menyakitiku saat kita berciuman pertama kali. Terlalu keras dan bersemangat; tetapi aku menyukai caramu menggigit bibir bawahku sambil meremas pinggulku setelahnya. Kehangatan wajahmu menjalar di telapak tanganku dan mataku memantulkan kelembutanmu. Aku ingin duduk di pangkuanmu,tapi kukira kursimu takkan kuat menanggung beban dua orang. Aku mengajakmu pindah ke sofa agar kita lebih leluasa. Aku berbaring dan kau menindihku. Belaianmu terasa penuh keraguan dan kegugupan, tetapi ciuman-ciumanmu tidak. Aku memohon, tanpa kata-kata, agar kau mulai melepaskan pakaianku. Namun kau tak melakukannya. Kususupkan tanganku ke celanamu. "Apa yang kaulakukan?" tanyamu dengan tampang bloon. "Mengambil alih kendali," kataku. Kau tersenyum. Itu senyummu yang paling menggoda yang pernah kulihat. Aku menggenggam dan menimang penismu, menerka bobot dan ukurannya; aku ingin tahu apa yang bakal kuhadapi. Aku menjilat tangan kiriku, mengirimnya menyusul tangan kananku, dan mulai mengusap dengan lembut tapi mantap. Ia jadi begitu keras dan kupikir celanamu bakal terbelah seperti Laut Merah. Kau menyambar lengan kiriku, menaruh dan mencekalnya di atas kepalaku, dan terus menciumi bibirku. Tangan kananku terasa bergetah.

Iklan

Kemudian kau berbisik bahwa kau ingin mencoba hal baru dan menyuruhku menungging. Kukira kau akan melakukan sesuatu yang sinting dan tiba-tiba. Aku menyiapkan diri, namun kau hanya mengusap-usapkan pinggangmu ke bokongku. Kupikir itu lucu sekali dan aku mulai tertawa, sementara kau terus saja menggosok-gosokkan pinggangmu. Kau bertanya mengapa aku tertawa dan aku berbohong karena tak ingin menyinggung perasaanmu. Ada kelembutan di balik keluguanmu, dan sebenarnyalah itu membuatku semakin bergairah: pemuda yang merasa dirinya penggoda ini ternyata benar-benar masih hijau. "Banyak yang mesti kuajarkan kepadamu, sayang," pikirku. "Dan jalan kegembiraan ini tentu tak lurus-lurus saja!"

Aku mengempaskan badanku ke sofa, berbalik, dan memelorotkan celanaku. Kau tampak terkejut tetapi kemudian membantuku melepaskan celanamu. Kau menciumku lagi dan aku terbakar saat kau berbisik bahwa kau ingin menunggangiku. "Akhirnya," kataku, nyaris tak terdengar. Kau membuatku menungging lagi dan mengusap-usapkan penismu pada celana dalam merah jambu yang kukenakan. Aku berharap kau memasukiku, tetapi kau tak kunjung melakukannya. Rasa hangat menyebar dari puki ke seluruh tubuhku. Aku merasakan pinggangmu menghempas pantatku, berulang kali, tanpa ada yang memasuki tubuhku. Kupikir ini keterlaluan. Kau membuatku bergairah, basah, tetapi terus menunda. Kudengar kau berbisik, "Ya Tuhan!" sambil menyodok dan menyodok. Aku menelentangkan tubuhku, mengunci pinggangmu dengan kaki, dan mengarahkan penismu dengan tanganku sembari menyingkap celana dalamku dari samping. Dan aku tersadar bahwa penismu lembek. Kuminta kau telentang agar aku bisa ganti menunggangimu. Kau menurut. Aku melepaskan celana dalam dan mendudukimu, tetapi penismu tak tertolong. Ia lesu seperti hewan kekenyangan. Aku mencium pipimu dan menanyakan apakah kau gugup. Kau kelihatan bingung dan mengatakan ya dengan suara lemah. Aku bangkit, tak ingin kau tertekan. Kupungut celana dalamku dari lantai dan mengenakannya, dan aku duduk di depan komputer untuk mengganti lagu. Lecap. Aku telah salah paham. Kupandangi kau dengan tatapan mencemooh. “Dasar koboi,” kataku, dan kau tertawa riang.

Demam mereda dan aku kehausan. Aku melangkah ke dapur untuk mengambil segelas air. Bel berbunyi. Aku melongok ke jendela dan melihat kedua anakku diantar pulang oleh paman-paman mereka. Anak-anakku melambai dan tersenyum dan aku menuruni tangga buat menyambut mereka. Saat kami kembali ke atas, keduanya memamerkan permen-permen hasil memecahkan pinata. Inilah saat untuk kembali ke kenyataan, untuk menyiapkan makan malam dan air panas. Besok hari sekolah. Saat aku memandikan anak-anakku, demam datang lagi. Aku tersenyum membayangkan demam itu terus meninggi dan itu berarti mungkin, hanya mungkin, kau akan datang dan menunaikan janjimu: "Lain kali aku bakal membuatmu mandi keringat dan menjerit-jerit girang. Tunggulah!" Dan kupikir mungkin kau memang tak sehijau dugaanku. Mungkin kau justru sedang menjalankan rencana yang terancang sempurna: memancing gairahku, menyeretku sampai ke tepi kegilaan; mengizinkanku mencicipimu sedikit agar aku semakin membutuhkanmu dan menginginkanmu dan mengemis agar kau memberikannya padaku. Aku memejamkan mata dan merasakan kau menyampaikan selamat tinggal kepadaku dengan sebuah kecupan. Kau tersenyum, lalu berkata: semoga mimpimu indah.


*Terjemahan cerpen ini dalam bahasa Inggris oleh Israel Peña. Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Dea Anugrah, peserta residensi penulis yang disponsori Komite Buku Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Karya Dea yang telah terbit adalah kumpulan cerpen Bakat Menggonggong (termasuk 10 prosa terbaik Kusala Sastra Khatulistiwa 2017) dan sepilihan puisi Misa Arwah.

**Verónica Hernández lahir di Mexico City pada 1986. Ia mempelajari Ilmu Komunikasi di Universidad Nacional Autónoma de México (UNAM). Tulisan-tulisannya telah diterbitkan di sejumlah majalah, antara lain Expansión, Chilango, Traveler, dan Quién, juga suratkabar El Universal. Ia pernah menulis naskah-naskah program radio untuk Instituto Mexicano de la Radio. Kini ia mengikuti kuliah pascasarjana di jurusan Linguistik Terapan di UNAM dan menulis untuk berbagai media, baik digital maupun cetak.