Tiap pengguna Facebook pasti punya teman yang menyebalkan. Itu loh pengguna Facebook yang suka masang kutipan-kutipan cupu, nyebar-nyebar tulisan yang kelihatan keren tapi ngaco atau masang foto selfie—dengan bibir monyong kayak bebek tentunya—di tempat yang sebenarnya kurang menarik. Kita semua punya orang seperti ini di daftar teman Facebook kita dan barang tentu kita benci banget orang ini.
Beberapa penelitian terdahulu berusaha menjelaskan kenapa orang-orang ngehe ini bertindak demikian. Satu penelitian menduga bahwa mereka melakukan hal-hal menyebalkan ini karena didorong rasa ingin diakui. Penelitian lain malah menyimpulkan kalau orang-orang menyebalkan ini cuma pengin kelihatan sukses. Namun, ternyata selain pengin banget dipandang dan kelihatan jadi orang, para pengguna Facebook yang menyebalkan ini, menurut hasil penelitian terbaru, cenderung lebih materialistik.
Penelitian teranyar ini digagas oleh Ruhr-University Bochum di Jerman dan menyuguhkan kesimpulan bahwa orang yang lebih materialistik—maksudnya orang yang “berusaha kelihatan lebih kaya dari orang lain”—lebih sering dan lebih intens dari orang lain. Orang-orang ini juga ditengarai punya lebih banyak teman di Facebook. Sayangnya, mereka belum tentu menyukai kawan-kawannya yang mereka kumpulkan di Facebook itu.
“Orang-orang materialistik memanfaatkan Facebook lebih sering karena mereka bisa melakukan objektifikasi pada teman-temannya di Facebook—mereka terus menambah teman di Facebook untuk mendongkrak harta mereka,” ujar pemimpin penelitian Phillip Ozimek kepada Science Daily.
Penelitian tersebut dilakukan terhadap 242 pengguna Facebook di sekitar kampis Ruhr-University (terdiri dari 54 pria dan 188 perempuan). Para peneliti lantas meminta para responden untuk persetujuan mereka akan suatu penyataan dengan skala satu sampai lima. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para peneliti kebanyakan berbunyi seperti “Saya sering membandingkan posisi sosial saya dengan orang lain,” dan “Saya mengagumi orang yang memiliki rumah mewah, mobil mahal dan pakaian bermerk.” beberapa pernyataan lain berusaha mengungkap kenapa seseorang menggunakan Facebook dan mencari korelasi antara kecenderungan materialistik dan tingginya frekuensi penggunaan raksasa media sosial itu.
Hasilnya tak begitu mengejutkan: mereka yang menghabiskan banyak waktunya menjelajahi Facebook lebih berpeluang mengakui bahwa mereka memang mengejar barang-barang konsumsi mahal. Bahkan ketika penelitian diulang dengan membalikkan komposisi gender, hasilnya tetap sama. Ini terjadi karena, menurut kesimpulan penelitian ini, “orang narsis memanfaatkan Facebook untuk mengglorifikasi diri, orang yang rendah diri menggunakan Facebook untuk berinteraksi dengan orang agar bisa merasa lebih baik, [dan] orang-orang yang materialistik menggunakan media sosial ini untuk mendapatkan dan mamamerkan barang yang mereka incar.”
Kendati demikian, para peneliti tak segara menyalahkan media sosial sebagai biang keladi munculnya kecenderungan materialistik. Sebaliknya, mereka menjelaskan media sosial hanyalah perangkat untuk mengekspresikan hasrat-hasrat dalam diri manusia yang sudah ada sejak selama. “menggunakan media sosial tak jauh beda dari kegiatan keseharian lainnya—media sosial adalah alat yang digunakan orang untuk mencapai tujuan tersebut.”
Apapun itu, sekarang kita punya alasan ilmiah untuk membenci (diam-diam atau terang-terangan) atau bahkan meng-unfriend yang hobi banget pamer kekayaan di media sosial.
Horeee!
Iklan
