perdagangan manusia

Korban Perdagangan Manusia Divonis Penjara Seumur Hidup Karena Membunuh Pria Yang Membelinya

Kisah Cyntoia Brown menimbulkan haru, sampai selebritas seperti Rihanna, TI, hingga Kim Kardashian bersuara, menyulut petisi menuntut dia dibebaskan.
24.11.17

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

Malam 6 Agustus 2004, Cyntoia Brown, yang saat itu 16 tahun, ingat bahwa dia mengawali malamnya di sebuah kamar hotel dengan seorang bandar narkoba yang berulang kali memukulnya dan memaksanya menjadi pekerja seks. “Kalau enggak giting, ya kami berhubungan seks,” ujarnya di hadapan juri di Tennessee, pada November tahun yang sama. “Hanya itu yang kami lakukan. Dia bilang saya mulai keenakan, saya jadi pemalas. Dan bahwa saya harus keluar dan bekerja dan cari uang.” Brown berkata dia mendapatkan tumpangan ke sebuah area di Nashville timur di mana dia bisa mencari uang, setidaknya menurut perintah sang pelaku. Di sana, dia berjumpa dengan Johnny Allen, 43 tahun, yang memboyongnya ke rumah. Mereka sepakat membeli Brown di harga $150. Selama percakapan, Brown bilang dia merasa semakin gugup karena menurutnya Allen bercerita soal ketangkasannya menembak di militer dan menunjukkannya sejumlah senapan. Kemudian, Brown berkata, “Dia awalnya hanya mengelus-elus saya, namun tiba-tiba dia mengobel saya dengan kasar. Dia menunjukkan wajah yang sangat tegas, dan saya merinding [ketakutan]. Saya merasa dia akan memukul saya atau melakukan sesuatu seperti itu. Namun, dia berguling dan meraih—dia sedang meraih sisi tempat tidur … Jadi saya kira dia akan memukul saya, dia akan mengambil senapan.” Pengacara Brown bertanya apa yang dia lakukan selanjutnya. “Saya meraih senapan dan menembaknya,” ujarnya. Kesaksiannya, ditampilkan dalam dokumenter tahun 2011 berjudul Me Facing Life: Cyntoia’s Story, terjadi selama sidang transfer yang memutuskan Brown diadili sebagai orang dewasa alih-alih seorang anak. Meski dia berargumen bahwa tindakannya adalah bela diri, dia pada akhirnya diputuskan bersalah atas pembunuhan tingkat pertama dan dihukum penjara seumur hidup dengan kemungkinan bebas setelah 51 tahun. Meski demikian, beberapa hari terakhir kasus Brown mendapatkan perhatian baru di media sosial. Selebritas seperti Rihanna, TI, dan Kim Kardashian telah ngepost betapa sistem tidak berlaku adil bagi Brown, dan sebuah petisi menuntut presiden memberikan grasi pada Brown telah mendapatkan lebih dari 200,000 tanda tangan. “Ada yang sangat salah ketika sistemnya memungkinkan para pemerkosa sedangkan korbannya dihukum seumur hidup!” ujar Rihanna di Instagram. Dokumenter tersebut, yang membahas Brown selama tujuh tahun, juga memperlihatkan sejarah kekerasan di keluarga Brown. Sebagaimana dilaporkan BBC, film tersebut menguak “bahwa siklus kekerasan dimulai dengan nenek Cyntoia, yang bilang anak perempuannya adalah produk perkosaan. Kemudian ibunya, Georgina Mitchell, melahirkan di usia 16 tahun, lalu kecanduan alkohol, kokain, dan menghabiskan bertahun-tahun hidup dalam penjara.” Dr. William Bernet, psikiatris forensik yang berada dalam dokumenter itu, berkata pada sineas: “Ini adalah seorang anak yang memiliki pengalaman hidup buruk. Banyak kejadian buruk menimpanya. Dan itu bukan hanya satu kejadian, melainkan pola yang berulang. Dan hal tersebut telah membentuk cara dia berelasi dengan orang-orang.” Sejak Brown—yang kini berusia 29 tahun, mengupayakan program sarjananya, dan telah dideskripsikan sebagai “tahanan percontohan”—dihukum, Tennessee telah mengubah caranya memandang anak di bawah umur dan prostitusi. Alih-alih menangkap mereka, kini sebuah peraturan mewajibkan penegak hukum “memberikan anak di bawah umur nomor telepon pusat bantuan perdagangan manusia dan membebaskan sang anak kepada orang tua atau perwaliannya.” Para advokat juga berupaya mengubah hukum agar dapat mengizinkan remaja yang dihukum seumur hidup evaluasi wajib setiap 15 atau 20 tahun sekali. Derri Smith adalah CEO End Slavery Tennessee. Pada sebuah blog post yang baru saja dirilis bersamaan dengan perhatian publik pada kasus Brown. Smith berargumen bahwa kalau Brown dijatuhkan hukuman pada hari ini, dia akan dipandang sebagai korban perdagangan manusia alih-alih seorang kriminal, dan ini adalah waktu yang tepat untuk “mengubah pola pikir budaya di sekitar isu perdagangan manusia.” Smith menyampaikan pada Broadly bahwa organisasinya telah mengadvokasikan atas nama Brown selama lebih dari setahun belakangan. “Hal pertama yang kamu sadari dari dia, di samping usianya, adalah dia sangat pintar,” ujarnya. Perdagangan manusia seringkali dideskripsikan oleh para advokat sebagai kriminal tidak terlihat: Sering kali, orang-orang mengira tragedi seperti itu tidak terjadi di kota atau di kawasan rumah mereka. “Sewaktu saya pertama kali memulai End Slavery Tennessee, semua orang bilang, ‘Itu enggak terjadi di sini,” ujar Smith. “Kasus Cyntoia menjadi wajah tindakan kriminal tersebut.” Brown berharap kesadaran publik “dapat memperbaiki sistem pengadilan dan mengubah persepsi publik atas tindakan ini.” Agar kasus ini bisa diubah, Smith bilang cara terbaik selain mendukung petisi adalah menuliskan surat terbuka pada Tennessee Board of Parole dan pada Gubernur Bill Haslam.