Hanyaterra, Musik Genteng, dan Pencarian yang Tak Berkesudahan
Semua foto dari arsip band.

FYI.

This story is over 5 years old.

Musik

Hanyaterra, Musik Genteng, dan Pencarian yang Tak Berkesudahan

Band Hanyaterra dibentuk atas ketertarikan pada material tanah liat dan segala produk turunannya. Trio ini belum puas mengeksplorasi bunyi yang bisa dihasilkan.

Istilah tinggal colok langsung main tampaknya tak berlaku bagi Hanyaterra. Proses kreatif mereka jauh mundur ke belakang dibandingkan dengan band-band konvensional lain sebab mereka harus bikin alat musiknya dulu baru bisa main bareng. Mereka tidak membeli alat musiknya di toko, melainkan membuatnya sendiri. Material alatnya pun lain dari yang lain. Bukan dari kayu atau besi, namun dari tanah liat.

Iklan

Hanyaterra terdiri dari Tedi Nurmanto (gitar, okarina, dan vokal), Andzar Agung Fauzan (bass), dan Ahmad Thian Vultan (perkusi), yang bertemu dalam ruang alternatif Jatiwangi Art Factory (JAF) pada tahun 2008. Sejauh ini, mereka sudah mengeluarkan sebuah EP yang bejudul Janji Tanah Berani (2015), Lagu-lagu dalam album itu dibikin di studio D.I.Y alias Do It Yourself. Begitu juga dengan alat-alat musik tanah liat yang mereka gunakan, semua dibikin sendiri. Mini album tersebut menunjukan niat Hanyaterra dalam mendobrak batasan mengeksplorasi dan mengolah produk andalan Jatiwangi, yakni tanah liat dan segala bentuk turunannya.

Penampilan Hanyaterra di Festival UK/ID tahun ini.

Saya berkesempatan untuk berbincang dengan Tedi dan seorang pemain pendukung ( additional player) yang bernama Ismal Muntaha sebelum penampilan mereka di hari kedua UK/ID Fest 2017 di Jakarta. "Yang dua laginya kedinginan," ujar Tedi sambil tertawa, menengok kanan dan kiri mencari dua temannya.

Berasal dari Jatiwangi, yang merupakan sentral tanah liat terbesar di Jawa Barat atau mungkin se-Indonesia, gagasan membuat alat musik dari keramik didapatkan ketika suatu hari mereka sedang berjalan-jalan di sebuah pabrik genteng dan mendengar harmoni dari klentingan benturan genteng. "Karena kita basic-nya musik, kami berusaha membuat bentuk baru dari tanah liat tersebut," kata Tedi.

Menurut Tedi, tidak ada yang lebih dapat merepresentasikan Jatiwangi dibanding keramik. Karena banyaknya keramik dan genteng di Jatiwangi, mereka tinggal mengambilnya secara 'gratis', sehingga biaya produksinya pun juga cukup murah. "Apalagi jika berasal dari Jatiwangi. Kita sih tinggal ngambil di sebelah rumah," ujarnya, sehingga mereka hanya perlu merogoh kocek untuk bagian instrumen yang lebih kecil seperti tuner dan senar untuk alat musik string.

Iklan

Alat-alat musik yang mereka ciptakan dan gunakan pun juga ada banyak, mulai dari alat musik petik, tiup, gesek, pukul, hingga gamelan tanah. Alat-alat musik tersebut mempunyai namanya masing-masing. Sebuah alat tiup yang terbuat dari tanah liat mereka sebut "Suling Tanah", dan gitar 12 senar milik Tedi yang body-nya benar-benar merupakan sebuah genteng dia sebut "Gitar Genteng." Gitar itu mereka bikin dengan bantuan seorang ahli pembuat gitar. Selain itu, alat-alat perkusinya mereka sebut "Gendi Sadatana." "Sada tuh suara, tana tuh tanah; Itu Bahasa Sunda," ungkap Tedi.

Karena sifatnya yang sebagian eksperimental, alat musik tanah liat menurut Tedi dan Ismal tidak membutuhkan keterampilan khusus. "Susah juga engga sih, paling butuh keterampilan musik biasa aja untuk alat-alat musik yang umum." Jelasnya. Untuk kekurangannya pun tidak banyak. Walaupun sering terjadi tarik menarik antara mengikuti keinginan tanah dan tanah mengikuti keinginan mereka, justru Tedi menjelaskan bahwa alat musik dapat dibentuk sesuai keinginan dan kegunaannya. "Siap juga tangannya pecah-pecah awalnya," ujar Tedi.

Sebagian alat yang digunakan Hanyaterra

Alat-alat musik keramik tersebut pun masih terus mereka uji sejauh mana bunyi yang bisa dibuatnya. "Not dan rangenya bisa seberapa jauh sih, dan bisa gak sih nyiptain bunyi yang sama kayak alat musik digital," ujar Ismal. Jika berbicara soal versatilitas genre musik, Ismal mengatakan justru dengan alat-alat musik ini mereka menciptakan genre "musik keramik". Bahkan, sub-divisi dari JAF yang bernama Kosmik, atau Konsorsium Musik Keramik, sedang mengeksplorasi genre musik metal keramik dan elektronik keramik. Tedi, disisi lain, mengatakan kalau alat-alat musik ini versatil karena "buat makan bisa, buat atap juga bisa." Tak semua genteng dan material tanah liat cocok dijadikan instrumen. Semua bergantung kualitas suara. "Kalau kita bunyikan 'ting' dan memiliki suara yang panjang, nah itu tanda kalau genteng itu bagus," kata Tedi.

Iklan

Butuh kesabaran buat mendapatkan instrumen tiup yang pas dan sesuai keinginan. Untuk mencari bentuk dan suara, waktu yang dibutuhkan kira-kira dua jam. Tapi sebelum itu mereka harus melalui proses pembentukan dan pembakaran yang bisa menghabiskan waktu 3-5 hari. Belum lagi kalau ada yang gagal setelah dikeringkan. "Gagal pasti banyak," kata Tedi. Yang gagal bahkan bisa setengah dari yang mereka bikin. Misalnya mereka bikin 50, bisa-bisa yang jadi cuma 30 atau 25, sisanya gagal tak sesuai harapan. "Pasti ada yang pecah, ada yang pecah. Tapi justru itu sih serunya," kata Tedi.

Sejauh ini, kita sudah mendapati bahwa alat-alat musik tersebut mereprentasikan daerah asalnya, murah, mudah didapatkan dan digunakan, dan dapat digunakan untuk makan atau sebagai atap rumah. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: Apakah alat-alat musik ini akan mereka komersilkan dan patenkan sebagai sebuah alat musik tradisional?

"Justru kalau kita mulai jualin sebagai alat musik tradisional, kita malah kejebak di satu ruang lingkup- yaitu sebagai alat musik saja," kata Ismal. Dia kemudian menegaskan bahwa tujuan dari mereka membuat alat musik tersebut adalah atas keinginan untuk mengeksplorasinya menjadi berbagai macam bentuk seni, bukan sekedar alat musik. "Tapi itu juga jadi menarik dalam konteks Jatiwangi, karena belum ada musik tradisionalnya." tambah Ismail. Dia juga menambahkan sudah saatnya kita membuat tradisi baru yang berangkat dari konteks kontemporer.

Boleh jadi bagi Hanyaterra, pencarian sound itu ibarat perjalanan tanpa garis finis. Kendati sudah bisa nge-band dengan alat-alat yang sepenuhnya terbuat dari genteng dan keramik, untuk urusan suara mereka belum sepenuhnya puas. "Pastinya masih harus banyak yang disempurnakan ya. Harus lebih banyak eksplorasi, lebih banyak eksperimen menyempurnakan alat," kata Tedi menjelaskan. Untuk menyempurnakan instrumen yang mereka gunakan, mau tak mau mereka harus kembali ke pelajaran paling dasar, yakni belajar mengolah tanah. "Kami harus banyak belajar sih, soal mengolah tanah," katanya.