Musik

Arctic Monkeys Bakal Manggung Lagi Setelah Hiatus, Mari Kita Rayakan

Bodo amat kalian mau ngomong apa, Arctic Monkeys adalah band sepanjang masa yang akan selalu membekas bagi hati millenials.
Lauren O'Neill
London, GB
31.1.18
Image via Wikimedia Commons

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey UK

Tiap orang punya kenangan akan pengalaman pertama mereka. Eh tapi, saya enggak ngomongin soal pengalaman ngeseks pertama loh ya. Ngeseks perdana bukan pengalaman utama yang paling keren kok. Ada banyak pengalaman pertama yang jauh lebih penting. Contohnya, pengalaman-pengalaman yang sifatnya transenden yang pernah kita alami dalam hidup. Biasanya sih, pengalaman berharga model ini terjadi saat kita masih remaja, saat otak kita masih sangat terbuka. Pada saat itu, kita punya semacam kerinduan yang enggak bisa kita definisikan, gambarkan atau bahkan sekadar namai terhadap sesuatu yang datang dari hidup kita yang gitu-gitu doang. Rasa ini kemudian baru bisa pahami saat akhirnya kamu mendengarkan musik yang kamu pahami dan memahami kamu. Lagu atau album inilah yang kelak membentuk kamu sebagai jati diri kamu.

Iklan

Bagi saya, serta banyak orang yang tumbuh di daerah Midlands dan kawasan utara Inggris pada pertengahan 2000an, Arctic Monkeys-lah dan album debut mereka Whatever People Say I Am, That's What I'm Not yang mengambil peran tersebut. Kadang, saya pengin penjelasannya jadi lebih samar-samar biar keren gitu, tapi saban kali saya mendengarkan album itu, saya ingat betapa Arctic Monkeys berhasil mengakhiri pencarian identitas saya dulu waktu masih remaja. Tak salah lagi, dalam narasi personal saya, Arctic Monkeys adalah band yang membentuk diri saya yang sekarang ini. Arctic Monkeys adalah empat pemuda asal Sheffield yang menyeruak dari belakang skena indie rock UK yang banyak diwarnai oleh band-band nyeni macam The Libertines dan tandemnya asal New York, The Strokes. Alex Turner cum suis datang dengan musik rock yang berkisah tentang hidup dan cinta pertama yang entah bagaimana membuat hidup kami lebih berwarna dengan tamsil-tamsilnya yang membumi: taksi yang mengantar penumpangnya paska jalan-jalan sampai larut malam jadi setting sebuah kisah epik dan tukang pukul klab malam brengsek yang menjelma menjadi penjahat ala-ala drama Shakespeare. Maka jika masa muda saya kelaparan yang panjang, Arctic Monkeys adalah makanan pertama yang saya santap setelah sekian lama perut saya kering kerontang.

Kendati pintar dan penting dengan caranya sendiri, utopia warna warni Pete Doherty dan potret bar temaram penuh asap rokok di New York terasa sangat abstrak apabila disandingkan dengan tamsil-tamsil dalam lirik Alex Turner yang terasa bak jepretan foto. Syahdan, liriknya terasa seperti berkisah tentang tempat dan orang-orang yang sangat saya kenal. Entah itu “Classic Rebooks, Knackered Converse atau trackie bottom yang ujungnya dimasukin kaus kaki" adalah pemandangan yang saya lihat setiap hari, dan hal sepele ini diabadikan oleh seorang rock star. Tak ayal, lirik-lirik Arctic Monkey menyuguhkan sebuah roman dalam kehidupan saya yang biasa-biasa saja di Birmingham. Lebih dari itu, permainan gitar yang tak setengah-tengah serta gebukan drum Matt Helder yang tanpa henti punya tempat sendiri dalam kegusaraan masa remaja saya.

Iklan

Selema beberapa tahun, saya enggak pernah berhenti meyetel Whatever People Say. Sama seperti orang-orang yang cinta mati pada suatu album, sampai saat ini, saya masih hapal benar semua bagian dan lirik album debut Arctic Monkeys. Kendati pada akhirnya, selera saya bergeser ke arah punk dan emo, saya masih punya tempat tersendiri untuk Arctic Monkey (meski sejujurnya kadang susah membuka hati untuk mereka lantaran Alex sekarang bertransformasi jadi…ehmm koboi?) dan kadang-kadang masih berusaha menyimak album-album mereka selanjutnya. Tapi, yang jelas saya tahu pasti bahwa dengan album-album mereka yang lancar mengalir sejak 2006, Arctic Monkeys telah memenuhi perannya bagi muda-mudi yang bernasib sama seperti saya selama bertahun-tahun lamanya. Makanya, kembali manggungnya Alex Turner cs, diumumkan sehari lalu dan rencananya mencakup rangkaian show di berbagai festival musim panas yang dimulai di Primevera Sound Barcelona, sangatlah berharga bagi banyak orang.

Bagiku, aksi panggung Arctic Monkeys adalah milestone dalam kehidupan remajaku. Gig-gig band asal pinggiran kota Sheffield ini menandai di mana saya berada waktu itu: show mereka di Manchester misalnya mengenalkan saya pada sosok penyanyi luar biasa bernama Amy Winehouse yang hari itu jadi pembuka mereka. Menonton Amy, bagiku, sama mencerahkannya seperti pertama kali nonton Arctic Monkeys. Lalu, saya juga nonton aksi mereka di Reading tapi saya enggak ingat-ingat amat detailnya. Maklumlah, waktu itu usiaku baru 15 tahun. Sudah beberapa tahun ini, saya enggak menonton mereka manggung. Namun, mendengar mereka bakal manggung lagi memantik kegembiraan yang sama seperti dulu aku masih usia belasam. Arctic Monkeys, sekarang, mungkin sudah sering dlabeli sebagai band rock kacangan—meski AM, album terakhir mereka, adalah album terbaik baik ini selama beberapa tahun terakhir—dan saya enggak yakin orang menganggap Alex Turner cs sebagai band inovatif. Namun, saya yakin ada alasan kenapa penonton sering bersenandung ramai-ramai sebelum band ini beraksi. Kalau boleh songong, saya kira alasannya adalah menonton Arctic Monkeys mengingatkan kita pada diri kita yang muda dulu. Lebih dari itu, menonton empat pemuda asal Sheffield ini membuat kita tenang. Setidaknya, lirik-lirik band ini masih masuk akal. Gampangnya, kepuasaan nonton Arctic Monkeys itu tak lekang dimakan zaman.

Suka atau tidak, Alex Turner pernah jadi narator bagi hidup kita yang cupu di kota-kota Inggris—serta belahan bumi lainnya—dan mengubahnya jadi indah untuk dijalani. Dan Alex Turner masih terus melakukannya sampai sekarang. Itulah gunanya musik yang bagus. Arctic Monkeys terus melakukan ini dalam skala besar. Ini saja sudah cukup membuktikan kalau Arctic Monkeys adalah band penting.

Khusus poin yang terakhir, sebaiknya enggak usah diusik-usik lagi. Percayalah, kalian semua enggak akan suka berargumen dengan Mardy Bum, alias orang yang ngambekan maca saya ini, seperti Alex bilang. Ya kan?

Follow Lauren di Twitter.