Sains

Mencari Penyebab Banyak Orang Indonesia Tewas Akibat Sambaran Petir

VICE menelusuri akar insiden yang berulang kali terjadi. Petir terakhir kali menewaskan pelajar SMP kawasan Lhokseumawe, Aceh dua bulan lalu.
21 Desember 2017, 6:59am
Foto ilustrasi sambaran petir oleh akun skyseeker/Flickr/Lisensi Creative Common.

Fatahillah sedang sibuk mencuci sendok ketika langit terbelah cahaya.

"Hujan sudah mulai turun tapi masih gerimis, jadi kami terus makan," ujarnya mengenang lagi tragedi dua bulan lalu. "Aku lagi mencuci sendok dan mendengar suara petir terus bunyi seperti ada yang patah. Setelah itu aku tidak ingat apa apa sampai aku sadar dan buka mata. Saat itu aku sadar aku tidak bisa melihat."

Fatahillah, 14 tahun, merupakan satu dari sebelas siswa serta dua guru yang sedang makan kantin beratap seng terbuka, dekat sekolah mereka, SMP Al-Alaq, Lhokseumawe, Aceh. Siang itu mereka tak menduga akan tersambar petir. Kantin yang mereka kunjungi termasukbangunan tertinggi di daerah tersebut. Posisinya dekat pohon besar yang memayungi sekitaran kantin.

Nahas, petir menyambar pohon tinggi tadi tak lama setelah hujan badai. Aliran listrik alam menjalar ke atap seng kantin, lalu menyambar tubuh Fatahillah dan 12 orang lain. Berdasarkan istilah para ilmuwan, insiden macam ini disebut “side flash.”

Siswa 13 tahun bernama Mohammad Zaki dan Muhammad, sopir sekaligus pemilik kantin yang bekerja di sekolah itu, pingsan seketika. Tak cuma dua orang tadi sebenarnya. Fatahillah dan rekannya Suhail Mubarak, turut kehilangan kesadaran. Zaki dan Muhammad tewas seketika akibat sengatan listrik yang setara ribuan volt. Saksi mata melihat Zaki, di detik-detik akhir, sedang asyik menyantap nasi goreng di bangku kayu. Celakanya, kaki Zaki tak menyentuh lantai tak seperi kawan-kawannya yang sedang terjadi saat insiden itu terjadi. Maka, saat petir menyembar, aliran listrik yang sampai di tubuhnya tak bisa dapat diteruskan ke manapun.

“Ketika aku mendekati Zaki, aku melihat dia terkulai lemas di atas meja dan keluar darah dari mulutnya," ujar Sumardi, kata salah satu pegawai administrasi SMP Al-Alaq.

Sumardi lekas memeriksa tempat kejadian. Pohon tinggi yang tersambar petir batangnya hangus. Batang itu seakan-akan terbakar hebat, dalam waktu hanya beberapa menit. Setelah sambaran petir tersebut, Sumardi jadi orang yang datang pertama kali ke TKP. Dia melihat badan bergelimpangan di lantai kantin. Sumardi sempat meyakini semua anak dan pegawai sekolah di kantin sudah tak bernyawa. Untunglah, kemudian dia melihat Suhail mengangkat tangan, menggapai-gapai, mengerang.

Suhail juga ingat detik-detik kesadarannya kembali setelah sambaran petir. Dia mengaku mengerahkan segala sisa tenaganya hanya untuk mengangkat tangan. Begitu siuman, Suhail mendapati dua matanya tak bisa melihat. Dia juga mengalami lumpuh temporer dari pinggang ke bawah.

Sumardi mengaku segera mencondongkan tubuhnya di atas badan Suhail. Dirinya khawatir keselamatannya pun terancam jika sembrono memberi pertolongan. Baru setelah beres mengucapkan doa-doa singkat, Sumardi mengulurkan tangan, menolong bocah malang di depannya.

"Selama beberapa saat, aku tak berani menyentuh tubuhnya karena takut listrik dari petir mengalir ke tubuhku," ujar Sumardi. "Tapi, aku tahu aku harus menolongnya jadi aku berdoa dan langsung menarik tubuhnya.”

Tragedi sambaran petir di Lhokseumawe terjadi akhir Oktober lalu. Peristiwa macam ini adalah insiden, yang uniknya, sering terjadi di negara berkembang seperti indonesia. Jika kita melihat angka statistik, nampak dalam setahun setidaknya 24.000 kematian akibat sambaran petir terjadi di seluruh penjuru Bumi.

Dari angka itu kita bisa mengungkap fakta bahwa jumlah korban yang meninggal lantaran disambar petir dipengaruhi kondisi ekonomi suatu wilayah atau negara. Di negera-negara miskin Benua Asia yang tak memiliki infrastruktur memadai serta tingkat edukasi yang rendah, kematian akibat tersambar petir tercatat lebih tinggi dari kawasan lain di seluruh penjuru Bumi.


Baca juga liputan VICE mengenai nasib suram Benua Asia (termasuk Indonesia) akibat perubahan iklim:


Di Indonesia, angka kematian akibat sambaran petir paling tinggi terjadi di pulau Jawa dan Sumatra. Tidak mengherankan sebetulnya, mengingat dua pulau padat itu termasuk kawasan dengan aktivitas petir paling intens di dunia.

Tahun ini, dari perkiraan kasar ada total ada 51 orang tersambar petir di Indonesia, dengan tujuh korban tewas serta banyak korban lain nyaris meregang nyawa. Lokasi sambaran listrik dari langit ini membentang dari Manggarai, Dataran Tinggi Dieng, Banyumas, Kabupaten Bogor, hingga Lhokseumawe.

Pemicu banyaknya insiden petir adalah kondisi geografis Sumatra dan Jawa. Udara hangat dan lembab dari Samudra Hindia bertiup menghampiri kedua pulau, membentur gunung-gunung berapi yang terhampar di banyak tempat, akhirnya menghasilkan hujan badai. Tak heran misalnya, jika Bogor, kawasan yang berfungsi sebagai kota satelit di dekat jakarta, ditetapkan sebagai salah satu kota yang paling sering dilanda serangan petir. Dalam setahun terakhir, ratusan petir tercatat menghiasi langit Bogor. Di beberapa pulau lainnya, geledek dan kilat terjadi 218 hari dalam setahun, menurut data yang dikeluarkan oleh World Survey of Climatology.

OK, jadi inilah faktanya: Indonesia sebetulnya gudang petir. Tapi data itu tak serta menjelaskan kenapa petir terus minta tumbal di Indonesia. Akar masalah utama, menurut analisis sementara para pakar, adalah kurangnya infrastruktur. Jumlah korban sambaran petir menurun drastis di Amerika Serikat beberapa dekade lalu setelah terjadi perbaikan konstruksi rumah, adanya perubahan cara kerja sektor pertanian, dan peningkatan jumlah infrastruktur penangkal petir.

Di Indonesia, meningkatnya aktivitas pembalakan hutan liar maupun legal, serta efek perubahan iklim sangat mungkin juga kita jadikan kambing hitam. Tapi, coba cermati lagi deh kalimat di paragraf sebelumnya. Lihat kalimat tentang perubahan cara bekerja? Nah itu dia. Dari temuan VICE, perubahan lapangan kerja adalah faktor utama yang memicu negara seperti India dan Indonesia punya angka kematian manusia dipicu sambaran petir lebih tinggi dari Korea Selatan dan Jepang.

Lalu, apa yang saya maksud dengan perubahan cara bekerja? Begini, saya sedang bicara tentang kerja di ranah pertanian. Sektor agraris biasanya menyerap 40 persen tenaga kerja di Indonesia. Sebagian kerja pertanian Indonesia terdiri pekerjaan melelahkan di ladang yang dilakukan manual—mulai dari menebar benih, membajak, sampai menyiangi hasil panen. Indonesia belum banyak memiliki ladang pertanian industri seperti yang bisa kita temukan di AS. Industrialisasi biasanya membawa serta mesin-mesin besar yang menggantikan kerja-kerja fisik yang ditempuh petani. Traktor bisa dibilang jauh lebih melindungi petani dari sambaran petir, apalagi kalau dibandingkan dengan bajak dan kerbau.

Jadi, banyak korban tersambar petir adalah para petani di negara-negara berkembang di kawasan Asia, karena mereka bekerja menggunakan metode konvensional yang sudah ketinggalan zaman. Di samping itu, ada dampak lebih mengerikan lagi. Banyak petani yang tak tahu bahayanya badai petir, kata Hartono Zaenal Abidin, pakar pertanian dari Malaysia.

"Ini masalah besar di kawasan Asia," katanya pada BBC. "Insiden sambaran petir belakangan malah makin tinggi, begitu pula angka kematian dan jumlah korban luka-luka akibat tersambar petir. Masalahnya adalah negara seperti Kamboja, Vietnam dan Thailand tak punya cukup pakar untuk masalah ini, jadi masalah ini jarang diperbincangkan.”

Di Indonesia, takhyul masih jadi cara memahami sambaran petir ketimbang sains. Fatahillah masih ingat ibu penjaga kantin tempatnya jajan mengingatkan dia dan kawan-kawannya akan sambaran petir kerena alasan yang sama sekali tidak ilmiah.

“Dia suruh kami diam dan tidak ribut,” ujar Fatahillah. "Kalau kami ribut bisa disambar petir."

Petugas medis di UGD rumah sakit terdekat memang bisa menyelamatkan nyawa Fatahillah dan Suhail, tapi keduanya harus menunggu lama. Badai mengubah jalan menuju kantin menjadi lumpur. Ambulans kesusahan mengantar keduanya ke RS terdekat. Saat Suhail dinaikkan ke ambulans, dia mulai merasakan rasa sakit luar biasa.

"Aku terasa badanku seperti terbakar," tuturnya. "Aku sampai menarik rambutku karena sangat sakit. Kulitku terbakar macam neraka."

Fatahillah pun masih ingat jelas siksaan yang dia rasakan setelah petir mengaliri tubuhnya. Bahkan, tersentuh selimut lembut bisa menyebabkan Fatahillah menjerit-jerit kesakitan.

“Kulitku terasa sangat sensitif bahkan terasa sakit kalau disentuh," ujarnya. "Aku tidak bisa telan dan bicara jadi orang tidak mengerti apa yang ku katakan."

Saat saya menjumpai dua bocah itu beberapa pekan lalu, keduanya sudah bisa berdiri. Sambaran petir bikin mereka sulit berkonsetrasi selama beberapa minggu. Suhail dan Fatahillah masih punya dua lubang sebesar koin di kaki mereka. Ini adalah bekas keluarnya aliran listrik dari tubuh.

Berkaca pada statistik, sembilan dari sepuluh orang yang tersambar petir masih berpeluang selamat, meski harus menanggung beberapa efek jangka panjang dan mengalami perubahan hidup yang drastis. Suhail jelas akan menanggung efek jangka panjang tersebut.

“Aku tidak mau keluar lagi kalau ada peti” kata Suhail. “Sebelumnya aku senang bermain bola dengan teman di luar, tapi sekarang aku trauma.”