Sains

Penelitian: Notifikasi Ponsel Pintar Bisa Membuatmu Stres

Jadi inilah alasan kita sering pusing liat ada notif grup wa keluarga datang bertubi-tubi.
Foto ilustrasi oleh Nick Gray via

Fakta: kita sayang sekali pada ponsel pintar. Setidaknya, dalam sehari kita menghabiskan sekitar 5 jam ngelihat ponsel—alokasi waktu terbesar saat melek—entah sekedar melongok layarnya, belanja online, selfie, atau memeriksa notifikasi dari keluarga dan kawan-kawan yang datang tanpa henti di grup wa.

Ternyata, kebiasaan itu tak baik bagi kesehatan mental. Sebuah penelitian baru yang digarap tim dari Nottingham Trent University mengungkap betapa besarnya perhatian yang kita curahkan pada ponsel pintar dapat berdampak buruk.

Para peneliti yang ikut ambil bagian dalam kajian tersebut mengembangkan aplikasi bernama "NotiMind". Mereka meminta 50 peserta penelitian mengunduhnya. Aplikasi itu berfungsi mengumpulkan segala macam detail terkait notifikasi ponsel selama durasi lima minggu. NotiMind juga mencatat mood pengguna beberapa kali, terutama pada siang hari, selama durasi tersebut. Periset lantas menerima lebih dari 500.000 buletin digital selama waktu penelitian, data dari responden. Dari semua buletin yang diterima, 32 persennya memicu emosi tertentu. Sentimen-sentimen yang dirasakan para partisipan di antaranya, ketakutan, kegugupan dan rasa jengah. Yang sama sekali tidak mengejutkan adalah fungsi standar bawaan ponsel, misalnya notifikasi pesan masuk adanya update terbaru, hingga pengingat baterai ponsel hampir habis, paling membuat penggunanya dongkol. Sam, chef berumur 31 tahun dari London utara, termasuk responden penelitian tersebut. Dia membenarkan sering pusing tiap baca pesan masuk. "Notifikasi ponsel memang bikin keki banget," ucapnya. "Pemberitahuan ponsel itu sangat menggangu, entah itu ketika saya kerja atau sedang santai di rumah." Notifikasi ponsel yang ada sangkut pautnya dengan urusan pekerjaan juga efektif mengganggu mood pengunnanya, terutama kalau berdatangan dalam jumlah besar. Inilah yang dirasakan hampir tiap hari oleh Jim, seorang editor media online. "Pekerjaan saya mewajibkan saya bergumul dengan 150 surel tiap hari, tanggung jawab yang bikin saya stress. Tapi, selepas jam kerja, pas saya sedang menanti-nanti jawaban email, notifikasi baru jadi masalah yang sangat menganggu," katanya. "Saya merasa ponsel saya terus bergetar di saku celana dan saya langsung was-was. Jangan-jangan yang sampai adalah email berisi berita buruk." Sebaliknya, pengguna lebih senang ketika menerima pesan dari orang yang mereka sayangi, apalagi dalam jumlah banyak. Datangnya pesan macam ini memang menegaskan perasaan diterima oleh sekelompok orang tertentu. Tentu saja, tak semua orang merasa demikian.
"Saya panik kalau dapat banyak notifikasi dari group chat,' kata Sara, manajer berumur 26 tahun. "Dapat 20 pesan sekaligus itu sudah kebanyakan menurut saya. Kadang, notifikasi ponsel saya matikan. Tapi, kemudian saya takut ketinggalan berita."

"Notifikasi digital terus membuyarkan aktivitas kita lantaran terus-terus menyita perhatian kita," kata Dr Eiman Karjo, seorang peneliti ponsel pintar, saat dihubungi Telegraph. Bagi sebagian orang, solusi masalah ini gampang saja: jauhi ponsel pintar atau pakai ponsel kuno yang semenjana. Masalahnya, tak semua orang bisa hidup senekat itu. Untuk sebagian orang lainnya, mematikan ponsel justru punya efek sebaliknya: bikin kita keki, geram dan gugup Follow penulis di akun @shaydakisses