Sepakbola Indonesia

Apa yang Mesti Dibenahi PSSI dan Operator Liga Sesudah Wafatnya Choirul Huda

PSSI wajib memperbaiki tata kelola medis agar tak lagi jatuh korban di lapangan bola. Penanganan pertama yang tepat bisa menyelamatkan nyawa.
17.10.17
Gawang timnas Indonesia dalam pertandingan Piala AFF 2008. Foto oleh REUTERS/Beawiharta.

Dunia sepakbola Indonesia kembali kehilangan salah satu pemain cemerlangya. Kiper sekaligus kapten kesebelasan Persela Lamongan, Choirul Huda, meninggal setelah berbenturan dengan salah seorang rekannya dalam pertandingan Liga I melawan Semen Padang.

Pada menit ke-44 Choirul Huda, yang telah membela Persela Lamongan sejak 1999, mencoba mengamankan gawangnya dari serangan striker Semen Padang Marcel Sacramento ketika berbenturan dengan bek Ramon Rodrigues.

Iklan

Kaki Ramon justru mengenai dada kiri dan leher Choirul. Choirul Huda tumbang. Dirinya sempat bergerak sebentar namun tiba-tiba tidak sadarkan diri. Rekan-rekan satu timnya mencoba memberikan pertolongan pertama sebelum tim medis memberikan alat bantu oksigen.

Karena tidak ada tanda-tanda kemajuan, tim medis segera membawa Choirul ke RSUD dr. Soegiri dengan ambulans. Dokter di rumah sakit tersebut kembali memasang alat bantu pernafasan dan memompa jantung Choirul. Malang, nyawa Choirul tak terselamatkan. Dokter awalnya menduga kematian Choirul karena hypoxia - keadaan di mana sel-sel jaringan kekurangan oksigen yang menyebabkan otak dan jantung berhenti bekerja. Belakangan, dokter mengatakan bahwa Choirul meninggal karena gagal jantung akibat trauma benturan di dada, leher, dan kepala.

Kematian Choirul Huda kembali menggarami luka lama dalam sejarah persepakbolaan Indonesia. Pada tahun 2000, bek tengah Persebaya Surabaya Eri Irianto meninggal setelah berbenturan dengan pemain PSIM dalam sebuah pertandingan di Stadion Gelora 10 November. Lantas 2014, pemain Persiraja Banda Aceh Akli Fairuz juga meninggal setelah berbenturan dengan pemain lawan.

Deretan cedera fatal pemain bola tersebut memicu pertanyaan mengenai standardisasi pengawasan medis saat pertandingan sepakbola berlangsung. Apakah perangkat medis dan peralatan selama pertandingan sudah memadai?

Asisten Deputi bidang Sentra Pembinaan Kementerian Pemuda dan Olahraga, Teguh Raharjo, amat menyayangkan insiden yang merenggut nyawa Choirul. Menurutnya pola penanganan dan peralatan selama pertandingan di Liga I tersebut seharusnya sudah lengkap dan memadai.

Iklan

"Petugas dari pihak penyelenggara pertandingan sudah siaga," ujar Teguh saat dihubungi lewat telepon. "Yang jelas persiapan medis kita sudah sesuai standar Asian Football Confederation (AFC)."

Gesekan dan benturan fisik dalam olahraga terutama sepakbola memang tidak bisa dihindari. Ketika benturan hebat terjadi dan bisa mengancam keselamatan pemain, tentu dibutuhkan standar operasi medis yang diharapkan dapat menekan risiko.

Pengamat sepakbola Fajar Djunaedi mengatakan bahwa baik pemerintah dan penyelanggara pertandingan perlu memerhatikan tata kelola pertandingan terutama dalam soal medis. Fajar melanjutkan bahwa kompetensi perangkat medis sesuai standar FIFA mutlak diperlukan.

"Pemerintah harus memerhatikan kompetensi perangkat medis," ujar Fajar. Fajar melanjutkan bahwa PSSI dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang memiliki kewenangan untuk memberikan sertifikasi kompetensi harus menjamin bahwa tenaga profesi di lapangan harus sesuai dengan kebutuhan lapangan.

"Kompetensi tenaga medis saat ini perlu dipertanyakan, apakah sertifikasi mereka sudah laik," ujar Fajar.

Fajar mengatakan bahwa setiap klub paling tidak harus memiliki seorang dokter dan seorang fisioterapis dengan standar yang sudah ditetapkan oleh FIFA. Tenaga medis di lapangan seharusnya memiliki sertifikat pelatihan penanganan medis sepakbola dari FIFA, atau setidaknya dari lembaga bersangkutan. Misalnya ketika terjadi cedera pada leher yang bisa berakibat fatal, tenaga medis harus segera mengetahui apa yang perlu dilakukan.

Kompetensi ini mendesak karena, kata Fajar, hanya tenaga kesehatan yang memiliki hak memberi penanganan medis bagi pemain selama pertandingan. Penanganan insiden dalam lapangan sepakbola tidak lepas dari pertolongan pertama. Secara peraturan, menurut Fajar, selama pertandingan siapapun kecuali pemain dan wasit dilarang memasuki lapangan. Ketika sebuah insiden terjadi, kapten tim ataupun pemain wajib memberitahu wasit yang kemudian akan memanggil tim medis.

Tak jarang, pemain yang melihat rekan atau anggota tim lawan juga memberikan pertolongan pertama. Meski belum ada peraturan resmi soal penanganan pertama dari pemain untuk pemain, selama ini hal tersebut terjadi begitu saja tanpa dilarang-larang wasit.

Soal peralatan medis, PSSI juga harus mematuhi standar dan menggunakan FIFA Medical Emergency Bag (FMEB). Peralatan dalam tas tersebut termasuk alat infus, kantong ventilasi, alat monitor tekanan darah, dan sebagainya. FIFA juga merilis 11 cara untuk mencegah gagal jantung ketika sebuah insiden tak terhindarkan.

"Tantangan untuk operator pertandingan dan PSSI adalah memperbaiki tata kelola medis ini," tutur Fajar. "Sudah saatnya memasukkan sport science menjadi bagian dari sepakbola Indonesia."