10 Pertanyaan Penting

10 Pertanyaan Penting Ingin Kalian Ajukan Pada Psikoterapis

“Menurut saya, enggak ada pacaran yang lebih seru selain sama terapis.”
AN
Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
15.12.19
Psikoterapis Daniel Wagner
Semua foto milik penulis

Klinik Daniel Wagner di Cologne, Jerman enggak ada sofa. Psikoterapis satu ini bahkan duduk di samping kliennya. “Kami masih berhadapan, tapi klien bebas menghindari kontak mata kalau memang kepingin. Saya lebih suka pakai kata ‘klien’ biar mereka enggak merasa ada yang salah dengannya,” terang Daniel.

Daniel bahkan enggak memaksa klien untuk menyapanya ketika papasan di jalan. Dia takkan memulai percakapan, kecuali kliennya mengajak duluan. “Saya enggak mau membuat mereka canggung karena harus menjelaskan siapa diriku. Saya baru akan merespons kalau mereka menyapaku duluan,” lanjutnya. Kami mengajak Daniel berbincang untuk memuaskan semua rasa penasaran kita akan profesi terapis.

Iklan

VICE: Memang benar, ya, kalau kebanyakan terapis juga bermasalah kesehatan mentalnya?
Daniel Wagner: Kedengarannya klise, tapi ada benarnya. Saya rasa beberapa rekanku mengalaminya. Pertanyaannya, siapa yang bisa menentukan “normal” atau enggak? Kalau saya pribadi enggak bisa. Profesi ini menyadarkanku enggak ada perbedaan jelas antara kesehatan mental dan penyakit jiwa. Setiap orang memiliki kebiasaannya sendiri, dan sebagian besar dari mereka memiliki masa kecil buruk. Pola perilaku dan kebiasaan baru dianggap bermasalah apabila bikin orang menderita.

Kamu punya kenangan buruk semasa kecil?Saya rasa masa kecilku biasa saja, tapi pekerjaan ini mengharuskanku belajar dari masa kecil. Saya seorang “Harmonizer”, yang berarti saya berusaha menengahi orang tua dan saudara laki-laki saat mereka bertengkar. Insting semacam itu bisa nambahin beban karena harus menyelesaikan masalah dan mementingkan kesejahteraan orang lain. Kalau sekarang, saya tahu betapa pentingnya memedulikan diri sendiri.

Pernah jengkel dengan klien yang suka merengek?
Klienku sepertinya enggak ada yang seperti itu. Kalau mereka sudah sampai konsultasi ke psikoterapis, berarti memang ada yang salah dengan dirinya. Enggak ada orang yang pergi ke terapis cuma untuk nangis-nangis enggak jelas. Bagi saya, merengek menunjukkan ada masalah yang lebih dalam.

Saya tahu terapis disumpah untuk menjaga rahasia klien, tapi pernah gak kamu kepikiran menceritakan kisah menarik kepada temanmu?
Terkadang ada cerita klien yang ingin banget saya ceritakan ke orang lain, tapi saya tentu menyimpannya sendiri. Mampu menjaga rahasia adalah persyaratan terpenting dari pekerjaan ini.

Iklan

Saya belajar dari politikus, aktor dan pengusaha terkenal untuk menyimpan sendiri apa yang enggak perlu diketahui orang lain. Bahkan ketika saya berurusan dengan subjek intens sekalipun. Seperti kejahatan kerah putih, misalnya. Saya paham banget ceritanya akan cepat menyebar bahkan sebelum media memberitakannya.

Seberapa sering kamu nge-gep klien berbohong?
Kalau ada masalah disfungsi ereksi, klien laki-laki biasanya enggak menceritakan soal ini saat kami pertama kali bertemu. Beberapa bahkan bersikap sangat maskulin supaya memberi kesan bagus. Mereka baru terbuka tentang masalahnya ketika sudah memercayai saya. Ini enggak masalah. Saya terapis, bukan polisi atau pengacara. Tugasku bukan untuk mengekspos atau melawan mereka.

Ada klien yang membuatmu takut?
Terkadang ada situasi klien bersikap agresif, tapi saya enggak pernah takut diserang secara fisik sama mereka. Saya justru lebih khawatir klien atau orang lain kenapa-kenapa karena tindakannya. Misalnya, saya pernah menangani pedofil. Saya takut mereka impulsif melakukan hal mengerikan.

Kira-kira kamu bisa bikin orang sampai nangis?
[Berpikir sebentar] kayaknya enggak. [Berpikir lagi] Jawabannya “enggak”. Saya pasti tahu caranya bikin orang menangis kalau mengenal mereka dengan baik. Tapi, apa untungnya? Saya bahkan enggak pernah melakukannya setiap berhadapan dengan klien. Kemungkinan klien menangis saat terapi kira-kira 50 persen. Mereka menangis dengan sendirinya.

Ada klien yang naksir kamu?
Pernah terjadi beberapa kali. Cowok cewek menyukai saya. Beberapa frontal mengungkapkannya, sementara lainnya modus ngajakin jalan. Terapis harus benar-benar memerhatikan klien, dan mendengarkan semua curahan hatinya. Saya harus memahami perasaan mereka, dan selalu ada untuknya. Jelas saja kalau ada klien yang akhirnya menyimpan perasaan lebih.

Saya biasanya berterima kasih kepada mereka, lalu akan menjelaskan apa adanya. Saya dilarang menjalin hubungan pribadi dengan klien hingga 10 tahun sejak sesi terakhirnya. Hukum itu masih berlaku, jadi saya enggak akan pernah memanfaatkan informasi pribadi klien untuk memanipulasi mereka.

Pacaran sama terapis tuh kayak gimana, sih?
Punya pacar terapis adalah hal terbaik untukmu. Cari cowok peka dan mampu menghadapi emosi enggak gampang, lho. Coba bayangkan sendiri bagaimana rasanya diperhatikan orang yang paham soal itu dan siap mendengarkan semuanya? Keren banget, kan?

Iklan

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Germany.


10 Pertanyaan Penting adalah kolom VICE yang mengajak pembaca mendalami wawancara bersama sosok/profesi jarang disorot, padahal sepak terjangnya bikin penasaran. Baca juga wawancara dalam format serupa dengan topik dan narasumber berbeda di tautan berikut:

10 Pertanyaan Bikin Penasaran yang Ingin Kalian Sampaikan Pada Ahli Kung Fu di Jakarta

10 Pertanyaan Unik yang Ingin Kamu Ajukan Kepada Seorang Cenayang

10 Pertanyaan Penting yang Ingin Kamu Ajukan Untuk Pawang Harimau