media sosial

Remaja Minta Maaf Usai Bikin Konten Video Kontroversial Bakal Jadi Kelaziman di Indonesia

Klarifikasi dan minta maaf adalah metode penyelesaian favorit atas sikap alay remaja di medsos. Sebulan terakhir saja dua kali terjadi: yakni mahasiswi obrak-abrik minimarket, dan bocah offroad di kuburan.
29.7.19
Untitled design (14)
Remaja minta maaf di Pasuruan karena sudah offroad naik motor di pemakaman via screenshot YouTube [kiri]; Screenshot mahasiswi di Makassar minta maaf karena mengobrak-abrik minimarket.

Remaja di manapun rentan bertindak bodoh karena memang sudah sifat alamiahnya seperti itu. Tapi, netizen kini mulai mengamati satu pakem penyelesaian yang sering terjadi, ketika perilaku bodoh tadi dirasa sudah kelewat batas. Terutama ketika kebodohannya dipertontonkan gamblang lewat rekaman yang tersebar via media sosial: bikin klarifikasi dan minta maaf secara terbuka.

Dua remaja di Pasuruan, Jawa Timur, pekan lalu meminta maaf kepada masyarakat karena sudah menunggangi motor laiknya sedang offroad, melewati gundukan tanah pemakaman. Wajah mereka penuh kebahagiaan sambil tertawa terbahak-bahak. Video berdurasi 23 detik tersebut viral lantaran diunggah akun Instagram lambe_turah yang memiliki lebih dari 6 juta followers. Aksi vandalisme pemakaman tersebut jadi urusan polisi, setelah Kepala Humas Polda Jawa Timur Frans Barung Mangera melacak kebenaran video tersebut.

"Saya mohon maaf pada masyarakat atas perilaku saya trek-trekan di makam. Saya menyesali perbuatan dan saya tidak akan mengulanginya lagi," ujar salah satu anak yang mengaku trek-trekan di area pemakaman dalam video permintaan maafnya yang diunggah ke Instagram.

Sebelumnya kita tentu ingat berbagai aksi viral anak-anak muda yang bikin kepala pening. Mulai dari mgacak-ngacak botol minuman di kulkas, merusak kemasan makanan di salah satu minimarket Kota Makassar, menjatuhkan barang dagangan dari etalase, dan menjilati es krim jualan yang ngetren di mancanegara. Untuk insiden mengobrak-abrik rak minimarket di Makassar yang dilakukan tujuh mahasiswi Universitas Muhammad (Unismuh) Makassar, solusinya pun sama: merekam permintaan maaf ke publik. Mereka berjejer di depan meja kasir sambil membaca secarik kertas permintaan maaf.

Iklan

"Kami meminta maaf dari hati yang paling dalam kami tidak bermaksud untuk merugikan pihak Indomaret, ini hanya bersifat spontanitas dari kami dan kami akan bertanggungjawab atas kerugian yang dialami oleh pihak Indomaret," katanya salah satu pelaku pengrusakan tersebut.

Tindakan beberapa perempuan merusak berbungkus-bungkus mi instan di supermarket, yang tempo hari viral, kalau sampai ketahuan kemungkinan bakal berakhir senada.

Dari berbagai insiden itu, kita bisa melihat pakem. Remaja bertindak bodoh, mengunggahnya ke medsos, viral, lantas dihujat publik, diakhiri dengan mereka meminta maaf. Apakah pakem ini akan jadi norma baru dalam penggunaan media sosial di negara ini?

Psikolog Tika Bisono, saat dihubungi VICE, menduga arahnya memang ke sana. Dia bilang remaja punya kecenderungan membangun identitas diri yang sistem nilainya berasal dari peer-group. Jadi jangan heran ketika mereka melakukan vandalisme ini secara berkelompok untuk mendapatkan pengakuan dan perhatian banyak orang.

Dalam psikologi ada istilah yang disebut sebagai 'groupthink' alias teori pemikiran kelompok yang lahir dari penelitian Irvin L Janis. Teori tersebut merupakan keadaan ketika sebuah kelompok mengambil keputusan tidak masuk akal untuk menolak anggapan lazim. Groupthink bisa memengaruhi suatu kelompok melakukan hal-hal tak masuk akal dan tidak mempedulikan nilai-nilai yang ada di masyarakat umum.

"Kalau satu-satu orangnya ditanya dari kelompok itu, ya mereka enggak setuju melakukan [vandalisme] sebenarnya," kata Tika. "Tapi karena ada juga kebutuhan untuk dilihat orang, dapat pengakuan, dapat perhatian, dan dibahas di sosmed walaupun negatif tapi buat remaja digital, dibicarakan negatif itu yang mereka tangkap adalah ‘berani’ atau ‘seru’,"

Iklan

Menurut Tika, jiwa remaja memang punya kebutuhan untuk dipandang hebat meskipun bersifat negatif. Pesan yang ingin mereka sampaikan dari tindakan itu bukan sengaja berbuat jahat, melainkan sekadar menunjukkan bahwa kelompoknya lebih berani dan hebat daripada anak muda lain.

Lalu, hal apa sih yang mesti dilakukan untuk menangani bentuk kenakalan remaja yang sedang ‘trending’ ini? Masalahnya, kadang vandalisme itu tak lagi bisa dianggap lucu-lucuan. Bahkan sudah melanggar hukum. Sebagian netizen kerap menyatakan ketidaksetujuan bila semua aksi vandal diselesaikan secara "kekeluargaan" ditambah video permintaan maaf terbuka.

Sejak 2012 di atas kertas Indonesia sudah terbilang punya bentuk peradilan remaja yang progresif. Pada 2012 DPR mengabulkan peraturan baru soal Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) yang isinya sudah menaikkan batas usia minimal bagi anak-anak yang bisa dihukum dari 8 tahun ke 12 tahun. Selain itu, aturan tersebut di atas kertas mengutamakan asas mengutamakan keadilan pada pelaku dan korban. Artinya, anak-anak tidak semestinya berada di balik penjara, kecuali dalam kondisi luar biasa.

Masalahnya, selain melanggar hukum, ketika kebodohan viral terus terjadi maka remaja-remaja ini justru makin rentan mengalami cyber-bullying. Lihat saja bagaimana berbagai video permintaan maaf tersebut malah jadi ladang komentar kasar dan mengarah yang mengarah pada perundungan. Bentuk cyber-bullying pun beragam, mulai dari ancaman langsung, email yang tidak menyenangkan, hingga trolling. Belum lagi soal privasi anak yang terlibat konten viral itu sendiri. Jika wajahnya tersebar melakukan kegiatan vandalisme, yang terjadi berikutnya malah mengancam masa depan mereka.

Tika punya satu usulan yang mungkin bisa jadi solusi agar perilaku viral remaja karena tindakan ngawur tak berlanjut. Tika pernah menjalankan pelatihan maupun bimbingan psikologi anak di 34 provinsi se-Indonesia, kesimpulannya fasilitas publik bagi remaja sangatlah kurang bahkan mungkin hampir tidak ada.

Ketiadaan fasilitas publik inilah yang membuat remaja malah memilih trek-trekan di kuburan atau menghancurkan mi instan di minimarket. Jika saja ada fasilitas publik yang disediakan pemerintah bagi mereka untuk menyalurkan hobi, insiden viral bisa diminimalisir.

"Di jalan enggak boleh, gelanggang olahraga enggak ada, mal mahal, ya sudah ujungnya mereka di sosmed aja kan pamer juga,” kata Tika. "Apapun nilainya, yang dilakukan remaja-remaja ini intinya sih uji nyali, dan pamer diri."