Ezra Koenig dari Vampire Weekend
Semua foto oleh Maxwell Tomlinson / i-D Magazine
Musik

Wawancara Khusus Ezra Koenig dari Vampire Weekend: 'Musik Rock Sudah Mati'

Masa jaya subgenre indie rock sudah lama berlalu. Di tengah perubahan selera musik, Vampire Weekend berusaha tetap relevan. Berikut obrolan kami bersama sang frontman Ezra Koenig.
12.5.19

Ketika Vampire Weekend merilis album perdananya lebih dari sepuluh tahun lalu, industri musik sedang dilanda gejolak. "Pas kami mulai naik daun, suasana heboh karena industrinya kala itu sedang berubah," ujar sang vokalis Ezra Koenig. i-D menemuinya di belakang panggung Islington Town Hall, Inggris, setelah latihan pemanasan menjelang tur Vampire Weekend keliling Eropa. "Kami memulai karir zaman saat peralihan Napster ke Spotify… itu masa jayanya genre musik indie rock."

Iklan

Album-album top di Britania Raya dan Amerika Serikat di awal karir Vampire Weekend memberi gambaran jelas selera yang populer kala itu. Band yang sedang ramai sorotan adalah The Last Shadow Puppets, The Script, The Verve, Keane, Kings of Leon, atau The Killers. Kebayang lah ya. Peringkat satu di tangga lagu didominasi (walau tidak sepenuhnya) gerombolan laki-laki kulit putih yang memainkan gitar. Bahkan di Amerika Serikat, musisi/band indie sukses menembus tangga lagu pop.

Saat Vampire Weekend merilis album kedua Contra, setahun setelah LP perdana, mereka sudah dikenal sebagai band sukses dan inovatif. Tak mengherankan bila Contra mencapai debut peringkat satu tangga album Billboard.

"Suasananya penuh optimisme banget buat anak-anak indie. Band aneh dari Brooklyn tiba-tiba bisa manggung di Coachella. Kemudian ada band-band indie yang merilis album keren, yang bikin label rekaman kelimpungan," kata Ezra. "Saat itu banyak yang bertanya-tanya, 'apakah sekarang elit global industri musik itu bukan lagi bintang pop, tapi musisi indie?' Jawabannya tentu enggak! Tapi rasanya kala itu ada banyak harapan buat band-band indie."

Album ketiga mereka, Modern Vampires of the City, rilis pada 2013, ketika industri musik sekali lagi mengalami perubahan. Tahun itu, platform streaming menanjak banget. Teknologi mengubah secara total cara orang awam mengonsumsi musik—serta membuat preferensi orang soal apa genre yang ngetren ikut berubah. Tiba-tiba indie rock kurang seksi di mata anak muda, khususnya buat generasi Z yang kini sedang di awal masa kuliah dan SMA. Hip Hop, khususnya trap ala Atlanta, menggantikan selera populer anak muda di banyak negara. Vampire Weekend tak merasa risau.

Iklan

Vampire Weekend selamat dari arus deras perubahan. Album ketiga itu kembali sukses meraih peringkat satu tangga lagu populer, bahkan memenangkan piala Grammy untuk kategori 'Album Alternatif Terbaik'.

Ezra-Koenig maxwell tomlinson

"Aku merasa sedikit lega karena wabah indie sudah berlalu," ujar Ezra. "Kami merilis album ketiga justru ketika banyak orang bilang 'musik indie tuh enggak laku lagi'. Buat aku sih, ya udah. No pressure."

Father of the Bride, album keempat mereka, tidak mengulang formula karya sebelumnya. Album ini dirilis enam tahun setelah album terakhir Vampire Weekend. Walaupun atmosfernya beda banget, album anyar ini mampu menjaga konsistensi Vampire Weekend. Father of the Bride memperoleh pujian kritikus 'secara universal', setidaknya merujuk agregasi Metacritic yang mengumpulkan review album tersebut dari berbagai media.

Father of the Bride lebih panjang dari standar album Vampire Weekend sebelumnya (memuat 18 lagu) dan menampilkan vokalis tamu macam Steve Lacy and Danielle Haim. Dari segi tema, album ini langsung terasa akrab bagi pendengar—termasuk anak muda kekinian.

Pembahasannya mencakup kecemasan eksistensial, agama, dan introspeksi gelap membahas nasib planet bumi serta detail kehidupan sehari-hari. Kalian bisa menemukan lirik semacam ini di albumnya: “I think I take myself too seriously, it’s not that serious,” yang terdengar di pembukaan lagu Sympathy.

Gagasan berbeda-beda mewarnai album baru Vampire Weekend. Album ini semakin terasa berbeda. Untuk pertama kalinya tidak ada keterlibatan Rostam Batmanglij, personel multi-instrumentalis yang keluar dari Vampire Weekend pada 2016, tetapi dia masih ikut memproduksi single Harmony Hall.

Setelah menghasilkan empat album, Ezra dkk mengaku lebih mampu menjaga ekspektasi di internal band, tanpa terpengaruh apa kata orang.

Iklan

"Minggu ini aku melayani wawancara dengan25 jurnalis. Ada yang bilang, ‘satu hal yang aku enggak suka dari albummu… Vampire Weekend kayaknya ogah membahas Donald Trump atau politik, musiknya cuma buat seru-seruan doang'. Terus aku balas, yaudah enggak apa-apa. Ada juga jurnalis yang bilang ‘Album ini terlalu serius’. Begitulah. Dari dulu aku percaya karya Vampire Weekend harus menuju dua arah berbeda. Jadi ada kontradiksinya, ada paradoksnya. Aku senang kalau setiap album yang kami rilis semakin aneh, tapi di sisi lain dianggap semakin normal juga. Banyak yang bilang album baru kami ‘eksperimental', dan ada yang mengakui lagu kami semakin to-the-point serta mudah dicerna."

Ezra-Koenig maxwell tomlinson

Sejak 2013, ketika semua personel Vampire Weekend sepakat untuk vakum, Ezra sebenarnya tetap aktif di industri musik. Dia menyibukkan diri memproduksi serial anime Neo Yokio, acara radio, serta pacaran dengan aktris Rashida Jones.

"Sejak merilis album ketiga, aku sudah tahu kami butuh vakum cukup lama," kata Ezra mengenai masa-masa tak mengerjakan apapun untuk Vampire Weekend. "Aku sadar, bagaimanapun juga, band ini harus berubah orientasinya. Aku butuh istirahat. Saat itu aku merasa lelah. Jujur saja, di industri musik ada banyak orang cerdas, tapi ada juga omong kosong dan gosip yang merusak konsentrasi. Aku juga tiba-tiba sadar betapa seringnya orang bertanya kepadaku ‘Pernah dengar lagu ini, enggak?’ terus aku selalu jawab ‘Belum. Tapi aku tahu lagu itu.’ Apa artinya? Sekarang pendengar musik tak perlu meluangkan waktu mendengarkan sebuah karya, saat makin gampang banget buat kita memantau popularitas sebuah lagu dari Twitter. Aku merasa tren kayak gitu tolol banget. Makanya aku perlu menjaga jarak dari industri musik supaya bisa tetap menghasilkan materi yang berkualitas."

Iklan

Ezra sempat ikut menulis lagu Hold Up dari album Lemonade-nya Beyoncé semasa vakum. "Pas dibilangin Diplo kalau materi ini kemungkinan akan dipakai Beyoncé, sebenarnya Hold Up ada dalam daftar lagu untuk album Vampire Weekend berikutnya, jadi calon single selain Harmony Hall. Aku sempat khawatir, apa cocok ya. Ternyata saat lagu itu dinyanyikan Beyoncé, dia berhasil mengubahnya, seakan-akan jadi karyanya sendiri. Beyoncé emang jenius. Setiap bekerjasama dengan artis lain, aku selalu beruntung. Semuanya serba kebetulan."

ezra-Koenig maxwell tomlinson

Setelah memutuskan kembali aktif pada 2019, Vampire Weekend langsung tancap gas. Mereka menggelar tur di Amerika Utara dan Eropa. Sebagian besar tiket konser mereka terjual habis, dan angka-angka streaming untuk Father of the Bride mencapai jutaan dalam waktu singkat. Artinya, Vampire Weekend sukses tetap relevan, ketika banyak orang bilang musik 'indie rock' bukan lagi primadona di kalangan anak muda.

Ezra mengaku momentum 2019 cukup tepat. Karena hip hop mengalami sedikit saturasi. Genre ini masih sangat populer, tapi mulai ada peluang bagi musisi dari genre lain mencuri perhatian. Tak terkecuali band 'gaek' seperti Vampire Weekend yang sering dianggap sudah agak lewat masanya. Salah satu strategi kuncinya, karena album baru ini menawarkan materi gado-gado. Tidak semata mengandalkan estetika indie rock. Kesadaran untuk memberi lebih banyak ragam musik di album baru muncul berkat pemahaman Ezra dkk terhadap selera pendengar musik masa kini.

Iklan

"Mungkin kalau kami merilis album ini tiga tahun lalu, akan terasa lebih banyak tekanan. Keputusan merilis materi baru pada 2019 enggak sengaja sebenarnya. Aku sih senang dengan kondisi sekarang, ada peluang genre lain kembali bersinar. Bayangkan kalau kami merilis album selagi terjadi banyak perubahan di industri musik," ujarnya. "Beberapa tahun lalu, pertanyaan besar yang menghantui banyak orang seperti ini: Apakah indie rock masih relevan buat pendengar muda? Apakah rock sudah mati? Apakah gitar masih jadi instrumen yang menarik? Hal-hal itu masih diperdebatkan tiga tahun lalu. Sekarang kurasa jawabannya sudah ada. Apakah rock sudah mati? jawabannya iya. Apakah gitar masih relevan? Enggak terlalu."

Vampire Weekend mengaku bersyukur, selain berhasil tetap menarik perhatian pendengar baru mereka juga punya basis penggemar cukup militan. Lebih tepatnya, penggemar militan yang tidak keberatan mendengar band kesayangan mereka melakukan berbagai eksperimen bunyi, sekalipun hasilnya tak seperti Vampire Weekend yang biasa mereka dengarkan.

"Rasanya penggemar berat kami paham pentingnya melalui perjalanan kreatif ini bersama-sama," imbuh Ezra. "Ada banyak hal yang kamu perhitungkan ketika membuat materi baru. Usia jadi salah satu pertimbangannya. Sekarang aku ngerti kenapa Adele memberi nama albumnya berdasarkan usia. Jadi kalau ada perubahan corak musik, pendengar bisa paham. Coba aku yang kepikiran duluan ide kayak gitu. Album pertama Vampire Weekend seharusnya berjudul 21."

Artikel ini pertama kali tayang di i-D