Menjadi Manusia Penganut 'Karnivor Etis', Hanya Makan Binatang Yang Dia Bunuh Sendiri
Will Eckersley
Pola Makan

Menjadi Manusia Penganut 'Karnivor Etis', Hanya Makan Binatang Yang Dia Bunuh Sendiri

“Ini bukan risalah filsafat,” kata Gray. “silakan saja pembaca yang menilainya sendiri.”
05 Desember 2017, 10:29am

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES.

"Buruan, barnya ambruk duluan nanti!”

Louise Gray berlari kembali ke mobilnya selagi bibinya berteriak dari kursi depan. Kami melewati gerbang tol dan membayar £3 (sekitar Rp54 ribu) untuk pergi ke kawasan pantai Seacliff. Daerah itu terletak 4 mil ke arah timur dari North Berwick, Skotlandia. Mobil yang kami kendarai berjuang melewati jalanan tanah liat yang bercabang menjadi dua. Kami berdesakan di dalam mobil yang sudah terlebih dahulu dijejali dengan termos, jubah, dan perlengkapan kamera yang ditinggalkan oleh bibi Gray.

Pantai Seacliff, empat mil dari Berwick utara, Skotlandia. Semua foto oleh Will Eckersley.

Setelah melewati barisan pepohonan, kami akhirnya sampai di kawasan pantai. Pasir pantai gelap menghampar sepanjang garis pantai. Sebuah truk putih tampak diparkir di satu sisi pantai di atas lempengan batu datar. Kami datang agak telat. Louise berjalan melewati pasir pantai dengan kecepatan yang susah ditandingi. Apalagi, hari itu saya mengenakan sepasang sepatu boot

Setelah empat tahun bekerja sebagai koresponden masalah lingkungan, Gray pindah dari London menuju Edinburgh. Dia lantas mengajukan tantangan pada dirinya. Tantangannya tak main-main. Gray mesti tahu benar-benar asal usul daging yang masuk ke mulutnya. Sebagai jawaban atas tantangan itu, Gray memutuskan selama setahun hanya makan daging dari hewan yang berhasil dia bunuh dengan tangannya.

“Tak ada justifikasi dan cara yang mudah untuk menyantap daging,” ujarnya. “Kamu enggak bisa dengan gampang ngomong kalau mengolah dagingnya sendiri dan menyantapnya dengan etis. Ada Orang-orang yang tak setuju dengan penyembelihan hewan untuk kita makan—susah sekali mendebat pola pikir mereka. Saya menerima cara pandang mereka, sebab kalau tidak apa pentingnya buku ini.

The Ethical Carnivore jelas bukan sebuah risalah filsafat. Ini hanyalah buku yang membabarkan perjalanan saya dan orang bisa menilainya dengan caranya masing-masing.” The Ethical Carnivore punya bagian yang membahas pabrik penjagalan ternak seperti yang kita harapkan dari buku tentang etika tentang menyantap daging—bedanya, buku ini tak sehitam putih seperti yang saya sebelumnya duga. Menutup diskusi tentang batas etika menyantap daging jelas bukan opsi yang bijak.

Louise Gray, penulis buku Ethical Carnivore.

Lalu, demi bisa mencicipi hidup sebagai penyantap daging yang taat etika, saya mencoba hidup sehari sebagai seorang ethical carnivore. Selama sehari itu, saya dan Gray bakal menangkap dan memakan lobster.

Setelah kami sampai di sebuah pelabuhan khas Skotlandia di kawasan Seacliff, keponakan Gray dan kawan-kawan pemancingnya menyambut kami. Kami lantas naik kapal dan jagoan penangkap lobster kami, mengarahkan kapal ke Firth of Forth, muara yang berbatasan dengan Laut Utara.

Gray's cousin and lobsterman Sam Lowe retrieve the catch.

Keponakan Gray dan kawannya sang penangkap Lobster Sam Lowe memindai hasil tangkapan mereka.

Perut kapal yang kami naiki kecil dan ditutupi dengan tikar plastik. Tak ada alasan untuk mengelak ikut serta dalam kegiatan melaut. Di antara ember-ember yang berisi kepala ikan, perkakas radio, sandwich dan botol-botol teh hijau, Lowe dengan enaknya menghamburkan ikan-ikan yang masih berloncatan dan kepiting.

Dengan penuh hati-hati, Lowe menarik beberapa lobster untuk diberikan kepada Gray, yang nanti akan mengukur dan menentukan apakah lobster itu layak dibawa pulang. Proses ini harus dilakukan dengan benar lantaran kalau mereka membawa pulang lobster yang kelewat kecil akan kena denda sebesar £1.000 (Rp18,1 juta). Tangan saya gemetar saat harus membentangkan sebuah pencapit agar yang lain bisa memegang capit kepiting dengan nyaman. Setelah capit-capit kepiting tangkapan kami diikat, kepiting-kepiting tersebut ditaruh di ember yang kami tempatkan di belakang. Hari itu, kami berputar beberapa kali untuk mencari lebih banyak ikan dan kepiting.

Mengukur capit memastikan ukuran sesuai ketentuan

Seselesainya urusan di pelabuhan North Berwick, kami langsung bergegas menuju

Lobster Shack

, sebuah gubuk kecil yang menyajikan langoustine (Lobster Norwegia), kerang dan ikan mackerel segar bagi para wisatawan di musim panas. Pemiliknya, Sterling Stewart, membantu kami “membereskan” makan siang kami.

Lobster yang terpilih ditaruh di papan potong berwarna biru dan kami melangkah keluar menuju tempat duduk yang tersedia gubuk itu agar Gray bisa membelah lobster. Stewart mengakomodasi Gray dengan memberikan sebuah pisau besar tajam yang dari dalam gubuk. Dari tempat saya, terlihat jelas kalau poster Gray berubah perlahan-lahan. Selama seharian, Gray kelihatan sangat ceroboh—kunci mobilnya raib entah ke mana. Kini, Gray diam tak bersuara. Ia lalu meratakan lobster. Kaki lobster ini kini dibentangnya selebar “pinggulnya”

Membelah lobster, seterusnya langsung dipanggang

Terdengar suara lapisan luar lobster yang pecah begitu Gray memotong tangkapan tepat di bagian tengah tubuhnya. Tak lama, terdengar suara gesekan papan potong di atas tempat duduk. Lalu giliran suara “phew,” pertanda Gray berhasil mengakhiri hidup sang lobster.

Gray dan Stewart segera menyingkirkan isi perut lobster, mencabut capitnya dan menaruh daging lobster di atas alat panggang. Daging lobster terus mengeluarkan suara gemerotak selagi di panggang. Warnanya berubah dari biru menjadi peach dan kemudian merah mawar. Gray menunjukkan kalau capit lobster bergerak-gerak selagi dagingnya berkontraksi saat di panggang.

Lobster dimasak bumbu bawang putih dan butter

Saya sebelumnya belum pernah makan lobster. Tapi, begitu merasakannya, ternyata dugaan saya tak salah-salah amat. Lobster punya cita rasa yang meriah, manis dan meleleh di mulut—semacam cita rasa yang dengan mudah bisa jadi klise.

“Menurutku, khususnya untuk generasi kami, ini hal yang benar-benar kamu lakukan. Kamu tak bisa mengerjakan lewat layar ponsel,” ujar Gray sambil menikmati potongan lobster. “Makan daging tangkapan dan menyantap makanan adalah cara yang bisa kita tempuh untuk kembali dekat dengan alam.

Menyantap daging dari hewan yang kita tangkap sendiri adalah pengalaman tiada tara. Aku sendiri tak setuju kita cuma boleh makan daging dari hewan yang kita sembelih sendiri. Jujur saja, sebagian dari kita tak tega melakukannya. Lagian, kegiatan macam ini butuh waktu, usaha dan uang yang tak sedikit. Ini alasan aku menulis buku—biar kalian semua tak harus melakukannya.”

Tempat pembibitan Lobster di North Brewick. Tiap tahun, ribuan bibit dilepas ke laut

Tak beberapa jauh dari Lobster Shack, Maggie Sheddan sudah siap mengantarkan kami keliling tempat pembiakan lobster di pelabuhan itu. Berdasarkan catatan pengiriman lobster, tempat penetasan ini melepaskan ribuan lobster muda ke Firth of Forth setiap tahunnya.

Sheddan menjelaskan bila di alam bebas, Lobster bisa menghasilan 8.000 hingga 10.000. Sayangnya, hanya 0,01 persennya yang bakal selamat dan tumbuh jadi lobster dewasa.

"Kalau tempat penetasan ini berhasil mendapatkan telur-telur, peluang selamatnya anak-anak lobster ini akan naik jadi 100 dari 1.000, kami sangat senang bisa melakukannya,” katanya. “Lobster-lobster ini berada di penetasan selama 12 sampai 18 hari dan di sini peluang hidup mereka lebih tinggi dari yang di luar sana.”

Pusat penetasan itu dipenuhi kontainer putih yang berisi hewan laut kecil yang awalnya saya duga sebagai sea monkey—hewan mirip kuda laut. Padahal, inilah lobster-lobster belia yang dimaksud Sheddan yang di tempat berdasarkan umurnya. Oleh Sheddan, kontainer-kontainer ini disebut sebagai “apartemen” lobster. Di sini lobster bakal tinggal sampai waktunya dilepaskan ke laut.

"Tempat penetasan ini tak diatur oleh hukum Eropa,” kata Gray. “Pembentukannya murni inisiatif para nelayan yang ingin melindungi populasi lobster di laut.”

“Kami tak akan bilang jangan makan lobster—ambil seperlunya saja,” imbuh Sheddan. “Lobster-lobster ini memberi kami pekerjaan. Kami digaji lantaran mereka. Kami bahkan bisa memberikan sebentuk edukasi tentang keberadaan lobster. Semua ini gara-gara lobster.

Keesokan harinya, saya bertemu Gray di rumah di Edinburg. Dia tengah sibuk mengurusi tetek bengek rilisan pers untuk peluncuran bukunya. Gray menunjukkan freezer yang terpaksa harus dia beli untuk menaruh pasokan daging yang ia simpan selama proses penulisan

The Ethical Carnivore

. Dia mengaku sebagian daging yang dia dapatkan dibagikan pada kawan dan kerabat.

Selain freezer dan beberapa potong wader—baju kerja khas nelayan, perubahan macam apa lagi yang terjadi pada dirinya setelah setahun penuh makan daging dari hewan yang ia sembelih sendiri?
"Cara saya memandang daging berubah drastis," katanya. "Saya sudah terlanjur menjalani belajar untuk terus awas akan asal dari tiap makanan yang saya makan. Kadang, saya agak menyesal memulai semua ini. Lebih gampang kalau kita tak tahu asal-usul makanan kita. Tapi, saya selalu tertarik untuk menjelaskan sesuatu pada orang lain. Saya selalu mencoba untuk melihat dan memahami dunia dari sudut pandang lain. Prosesnya bikin saya jadi orang yang lebih baik.”

Sejenak, saya penasaran bagaimana respon kaum urban setelah membaca The Ethical Carnivore, atau bagaimana orang yang tak punya akses menuju tempat penetasan lobster bisa menjajaki hidup sebagai seorang ethical carnivore.

"Petani dan peternak tak selalu bisa menjelaskan apa yang mereka lakukan tiap hari,” aku Gray. “Tapi, rasanya itu sudah berubah. Menurutku, kita sebaiknya mencari daging yang dekat dengan kita—entah itu dari tempat pejagalan atau pasar bahan pangan.”

Manusia akan terus makan daging. Pengalaman Gray setidaknya bisa menunjukkan bahwa menyediakan daging dari hewan yang dibiakkan dengan bertanggung jawab adalah upaya penting bagi masa depan manusia. Akhirnya, saya harus menempuh perjalanan panjang dari Edinburgh ke London, begitu sampai di Lake District, awan yang menggantung di langit dari kelabu hingga terang benderang. Saya sadar saya sampai sehari hidup sebagai seorang ethical carnivore, tapi saya sudah melihat pemandangan itu dengan sangat berbeda.