Menyantap Ayam Goreng Rasa ‘Keringat Cewek’ Idol Jepang
Semua foto oleh penulis.
Jepang

Menyantap Ayam Goreng Rasa ‘Keringat Cewek’ Idol Jepang

Kami rela ngelakuin ini, supaya kalian enggak penasaran lagi.
31.8.17

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES.

*Spoiler alert: penampilan dan rasanya aneh banget.

Kompetisi yang ketat membuat berbagai waralaba makanan besar di dunia berusaha muncul dengan inovasi baru dalam menu makanan. Kerap bermain-main dengan cita rasa berbagai etnik dan budaya (dan sering dengan emosi konsumer), restoran-restoran semakin sering menciptakan kreasi makanan aneh nan ajaib seperti Nutella burger bikinan McDonald Italia, donat rasa babi dan rumput laut versi Dunkin Donut Cina, atau crust pizza dihiasi telur ikan bikinan Pizza Hut Hong Kong.

Iklan

Biarpun kadang konsepnya dipertanyakan, paling tidak menu-menu di atas menggunakan bahan makanan yang memang umum dikonsumsi orang. Tenka Torimasu, sebuah waralaba ayam goreng dari Jepang, mengabaikan peraturan dunia kuliner dan meluncurkan menu promosi yang melanggar hukum manusia dan alam: ayam goreng rasa "keringat perempuan".

Menu utama waralaba ini adalah ayam digoreng dengan teknik deep-fry karaage, dan kemudian disajikan bareng berbagai jenis saus, mulai dari mayo wasabi pedas hingga plam manis Jepang. Penemuan saus terbaru mereka memasuki teritori baru yang belum pernah dicoba manusia sebelumnya: menangkap cita rasa kompleks keringat perempuan sambil (semoga ya) entah bagaimana membuat masakan tersebut layak dikonsumsi.

Tentunya perusahaan ini tidak menggunakan keringat perempuan sembarangan. Buat promo menu ini, Tenka Torimasu bekerja sama dengan grup idol J-pop, Kamen Joshi menciptakan ulang cita rasa keringat yang hanya bisa dihasilkan dari nasib suram karir penyanyi idol.

Kamen Joshi, terjemahan harfiahnya adalah "perempuan bertopeng," terdiri dari tiga tim yang menari dan bernyanyi sambil mengenakan variasi dari topeng hoki klasik Jason Voorhees—pembunuh berantai di seri film slasher Friday the 13th. Kelompok idol ini sedikit mencuri konsep Babymetal, menggunakan teriakan vokal metal, dan riff gitar berat yang dikombinasikan dengan lagu-lagu bernuansa kawaii. Hit terbesar mereka, "Genkidane" memuncaki chart musik Jepang di 2015. Semenjak itu, grup ini selalu menggunakan gimmick untuk terus mencuri spotlight, termasuk merilis video instruksi bagaimana melepas atasan dengan cepat; merebut perhatian komunitas weaboo pendukung Donald Trump dengan merilis video merayakan kemenangannya dalam pilpres 2016; dan sekarang, memproduksi makanan rasa keringat tubuh.

Pemimpin grup idol ini, Anna Tachibana, merilis pernyataan tertulis yang cukup lebay tentang menu spesial keringat tadi: "Wah! Sekarang kita bisa merasakan keringat seorang idol yang menyegarkan, ini baru kaarage terbaik! Produk ini terwujud akibat kolaborasi gila antara Kamen Joshi dan Tenka Torimasu. Silakan coba kaarage rasa keringat kami!!!"

Iklan

Biarpun saya tidak pernah membayangkan akan menyicipi keringat perempuan,rasa penasaran dan insting jurnalistik mendorong saya menyambangi Tenka Torimasu untuk mencobanya sendiri, paling tidak agar saya bisa menceritakan kisah ajaib ini ke orang lain.

Saya mengunjungi daerah kampus Tokyo, Ikebukuro. Setibanya di depan stand Torimasu, jam sudah menujuk waktu makan siang. Rasanya malu banget langsung mesen menu rasa keringat. Untung saya bawa kamera profesional. Saya berusaha keras menunjukkan ke si penjual kalau saya memesan menu itu dalam rangka tuntutan pekerjaan. Saya berusaha membuktikan, entah dia sadar atau enggak, kalay saya bukan sekedar wota yang punya fetish aneh. Terlihat kelelahan dan tidak menghakimi, kasir mengambil uang saya—tidak lebih dari US$4—dan bergegas menyiapkan menu tadi.

Sambil nontonin dia memasak, saya sadar ini bukan pertama kalinya saya mencicipi sesuatu bertema-keringat di Jepang. Minuman olahraga nomor 1 di Jepang itu Pocari Sweat. Memang negara ini gak jijik soal mengkonsumsi rasa keringat kali ya. Jadi mungkin aja ayam rasa keringat ini gak akan segitu aneh rasanya.

Makanan saya pun tiba. Presentasi visualnya sama sekali tidak membantu meredakan kekhawatiran. Disajikan dalam sebuah gelas plastik, potongan daging oranye dibungkus dengan saus kuning buram yang sama sekali tidak menggugah selera.

Gigitan pertama. Rasanya gak karuan. Di lidah terjadi badai rasa manis, asam, asin dan keju jadi satu, sesuai iklan promo yang datang silih berganti. Rasa renyah umami dari daging ayam sekedar pelengkap saja.

Cara terbaik menggambarkan rasa "keringat" yang diciptakan oleh para ilmuwan gila Tenka Torimasu, adalah menggunakan analogi Harry Potter. Di dunia sihir, murid Hogwarts memakan Beans Segala Rasa Bertie Bott, jelly beans dengan rasa-rasa yang menjijikan (rasa muntah, sabun, kaos kaki kotor, dst.) yang dicampur dengan rasa-rasa yang lebih normal. Pabrik pencipta jelly bean di dunia nyata, Jelly Belly mewujudkan produk Beans Segala Rasa menjadi realita seiring dengan dirilisnya film pertama Harry Potter. Beans yang rasanya tidak karuan tersebut berhasil menangkap esensi kotoran kuping, rumput, dan sebagainya, menjadi penawar rasa manis permen pada umumnya.

Mengikuti jejak Jelly Belly, Tenka Torimasu berhasil membuat konsumen jijik, sekaligus penasaran lewat menu spesial ayam rasa keringat ini.

Saya memaksakan diri memakan setengah porsi ayam pesanan sebelum berhenti. Sembari membuang sisa makan siang, saya berpikir, siapa juga target demografi ayam rasa keringat ini? Kayaknya semua pihak yang terlibat—mulai dari koki yang kebosanan, penyanyi idol yang mungkin tidak menyangka akan terlibat dalam hal semacam ini, hingga pelanggan yang tetap kelaparan setelah menyantap—tidak ada yang benar-benar puas.

Apakah pasar produk "aneh" Jepang segitu besarnya sampe produk semacam ini bisa jadi bisnis menguntungkan? Emang seberapa banyak sih penggemar grup idol yang demen pakai topeng pembunuh berantai? Pertanyaan-pertanyaan saya mungkin belum terjawab. Masalahnya keanehan di jagat kuliner Jepang memang tidak ada habisnya. Andai makanan rasa keringat ini diterima masyarakat, atau katakanlah grup idol Kamen Joshi nantinya populer di berbagai negara, saya akan mengaku salah. Cuma, untuk sementara, pegang kata-kata ini: gue ogah makan lagi ayam rasa keringet!