Para Superhero dari Burkina Faso
Semua foto oleh penulis.
Budaya Pop

Para Superhero dari Burkina Faso

Fotografer Alexandre Eudier memotret 'cosplayer' dari Ibu Kota Ouagadougou, di sisi Barat Benua Afrika, mengenakan pakaian khas superhero komik Marvel & DC sebagai gambaran globalisasi.
18.8.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE France.

Foto-foto ini diambil selama saya tinggal di Ibu Kota Ouagadougou, Burkina Faso. Niat awalnya melanjutkan sebuah proyek foto esai yang saya mulai dari Indonesia. Ketika pertama kali menjejakkan kaki di Indonesia, ide awal di kepala saya adalah meminjam kerajinan tradisional lokal buat menafsirkan kembali budaya pop lewat fotografi. Di Bali dan Jawa, saya memiliki kesempatan langka bekerja bareng seniman pematung yang leluasa menggabungkan grafiti ke rumah-rumah tradisional. Saya juga sempat meminta beberapa pelukis hiperrealis Indonesia menafsirkan ulang foto-foto saya.

Iklan

Setibanya di Burkina Faso pada 2012, saya yakin masih bisa melanjutkan proyek seni merekam tumpang tindih budaya di era globalisasi. Caranya adalah menggabungkan klise-klise Afrika dengan simbol konsumerisme dan teknologi baru yang sudah dikenal. Tujuan akhirnya, menciptakan situasi yang mempertanyakan citra-citra mengenai suatu tempat, yang terlalu sering kita lihat di media.

Gagasan saya ini sejak awal tidak ditujukan agar saya merasa terikat dengan lingkungan yang sedang saya tinggali. Tujuan akhirnya adalah bermain-main dengan referensi budaya pop yang melampaui batas. Rangkaian foto tentang para 'cosplayer' yang mengenakan kostum pahlawan super ini berasal dari sketsa sederhana—sebuah bundel ilustrasi Spider-Man yang telah saya gambar di buku catatan pribadi. Bersama rekan bernama Bruno Revert, kami membangun gagasan awalnya, lantas diputuskan untuk menambah kostum superhero lainnya demi memasukkan tokoh-tokoh kunci Budaya pop Barat. Kami akhirnya memilih tiga kostum superhero berbeda untuk foto esai di Ouagadougou.

Saya beruntung bisa bekerja sama Kaboré (Spider-Man) sebagai model foto esai ini. Sehari-harinya dia seniman dari sebuah organisasi kecil yang menciptakan perlengkapan teater. Selama berada di Burkina Faso, saya bekerja sama dengannya dalam beberapa proyek kesenian. Model lainnya adalah Gedor (Iron Man), yang baru saja menyelesaikan studi sarjana bidang seni murni dan sedang mencari kesempatan magang; Terakhir Mathias (Batman), yang juga berperan sebagai sopir saya selama melaksanakan proyek foto esai ini.

Demi memperoleh kilau tertentu, kostumnya kami pilih yang terbuat dari bahan bazin. Kain khusus ini cukup populer di Burkina Faso. Biasanya bazin dipakai untuk acara adat dan formal saja. Untuk mencapai potensinya yang penuh berkilau, kami melapisi kainnya pakai getah nabati.

Saya memilih menciptakan pahlawan super karena banyak alasan. Pertama, karena estetika kostum berwarna terang berasal dari pakaian tradisional setempat. Ada juga sesuatu yang lucu saat menukar kostum ultra ketat dari superhero hiper-maskulin dengan tunik longgar ini.

Saya sekalian saja membuat kostum Ronald McDonald untuk dikenakan para model. Ide kostum Ronald ini datangnya dari Bruno Revert, niatnya dipakai buat proyek seni saya yang lain. Kami cukup terkejut saat mengetahui banyak orang Burkinabé tidak tahu siapa itu Ronald McDonald. Ketidaktahuan pada sosok yang menjadi simbol kapitalisme global itu melegakan. Namun, saya bertanya-tanya, berapa lama lagi keadaan macam ini akan bertahan di Ouagadougou.

TDTF adalah penerbit yang membukukan foto-foto Eudier. Penerbit independen ini diprakarsai oleh Alexandre Eudier dan Matthew Noiret. Buku-buku mereka yang sudah terbit di antaranya adalah Vermillion Coast dan Super.