'Ratatouille' Adalah Film Tentang Tikus dan Masakan Terbaik Sepanjang Masa
Cuplikan gambar dari Pixar Studios.
Nostalgia

'Ratatouille' Adalah Film Tentang Tikus dan Masakan Terbaik Sepanjang Masa

Dengan lima nominasi Oscar, 'Ratatouille' menjadi biopik paling keren tentang hewan pengerat yang seharusnya dibenci manusia, tapi malah jadi juru masak jempolan.
6.9.17

Masing-masing dari kita pasti punya film favorit. Itu lho, film yang mustahil kita nyinyirin, bikin kita jadi anak kecil lagi dan terus mengingatkan kita bahwa hidup, di titik-titik tertentu, sangat indah sampai tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bagi banyak orang film itu adalah Ratatouille, karya klasik Studio Pixar tentang tikus yang cinta mati dengan kekayaan budaya kuliner Perancis. Bagi yang lain, segeralah jadikan Ratatouille sebagai film favorit kalian. Titimangsanya 2005. Sutradara dan penulis skenario Brad Bird baru saja merilis The Incredibles. Film pertamanya bersama Pixar itu mendapat sambutan hangat dari penonton kritikus film. The Incredibles meraup pendapatan enam kali lipat biaya produksinya, meraih Piala Oscar di kategori Best Animated Feature dan Best Sound Editing gelaran Academy Awards. The Incredbles sekaligus fim produksi Pixar pertama diganjar lebih dari satu Oscar sekaligus jadi film animasi murni yang pertama kali meraih Piala Hugo. Kembali ke Emeryville studios, Pendiri Pixar, John Lasseter, menugaskan Bird menangani satu proyek Pixar yang mangkrak: Ratatoulille. Naskahnya ditulis Jan Pinkava, seorang sutradara dan penulis Amerika Serikat yang berdarah Ceko. Proyek ini sudah mulai digarap sejak tahun 2000. Karakter dan plot Ratatouille telah terbentuk. Namun, Pinkava seperti kehilangan inspirasi. Cerita yang dia tulis tak berkembang seperti yang dia janjikan.

Bird diberi waktu 18 bulan menuntaskan proyek ini. Baginya, Ratatouille adalah cerita tentang cinta dan keteguhan yang mengalahkan segalanya. Ditilik lebih dalam, naskah film ini berkisah mimpi buruk sebuah restoran: seekor tikus yang punya hasrat membuncah untuk bekerja di dapur restoran kelas atas. Inti plotnya tikus ketemu cinta sejatinya. Sementara si cinta sejatinya Ingin membunuh si tikus. Selama tiga bulan, Bird dan timnya meneliti restoran-restoan ternama di Paris, merekam suara-suara di dalamnya, dan mengamati teknik-teknik memasak ala restoran berbintang Michellin. Ketika tim Bird mampir di restoran milik chef Perancis tersohor Cyril Lignac, 'Le Quinzieme', animator dan pengembang cerita duduk di sebuah meja yang mengarah ke dapur. Mereka menyantap hidangan sesuai menu yang mereka pesan, sambil menonton para chef bekerja dari jauh. Barangkali, ini yang dinamakan "bersenang-senang sambil bekerja."
Perhatian yang besar pada detail memang begitu kentara dari satu adegan ke adegan lainnya dalam Ratatouille hingga semua panci berisi kaldu begitu realitsik, sampai-sampai kita seakan bisa mencium bau yang menguar darinya. Ketika Lignac akhirnya menonton hasil akhir film ini, dia terpukau. Kepada awak media, chef papan atas ini berkata, "adegan saat Collete Tatou mengajarkan koki muda cara memotong bawang, cara memasak sayuran di penggorengan dan cara membumbui semuanya, detailnya benar-benar tepat! Begitulah cara kami melakukannya." Faktor utama yang membuat Ratatouille begitu spesial adalah penggambaran masakan. Brad Bird berhasil menampilkan racikan makanan yang bergolak dan mendesis, nyaris seperti apa yang kita lihat di dapur-dapur restoran ternama. Saking nyatanya, kita harus berjuang keras menahan air liur padahal, ya ampun, ini cuma film animasi 3D. Dari segi gaya, Ratatouille lebih dekat dengan karya-karya Hayao Miyazaki daripada produksi Pixar lainnya seperti Finding Nemo. lebih dari itu Ratatouille muncul di saat tepat, ketika dunia tengah memuja segala macam seni memasak. Kala itu, tayangan macam Iron Chef, Masterchef, Kitchen Nightmares serta chef sekelas Jamie Oliver berada di puncak semangat zaman alias sedang ngehip-ngehipnya. Plot Ratatouille juga semaknyus montase makanan di dalamnya: Remy yang menggemaskan dengan mimpi-mimpi romantis penuh bunga tentang paris dengan latar belakang Menara Eiffel dan soundtrack sentimental yang dimainkan dengan akordion: Luigi yang baik hati tapi culun, yang tujuan hidupnya cuma berusaha tak mengecewakan orang; serta Colette (suaranya diisi oleh Janeane Garofalo) yang mengajarkan Linguini (atau lebih tepatnya Remy yang ngumpet di balik topi Chef Linguini) dan yang cuma minta Linguini tak menjadi penghalang ambisinya jadi chef ternama. Di momen-momen terbaiknya, Ratatouille adalah penghormatan bagi persahabatan dan segala impian dalam hidup. Benar-benar film yang bijak. Ratatouille pertama kali tayang sepuluh tahun silam dan disambut beragam review positif. Di Perancis sendiri, film tercatat sebagai film dengan pendapatan pemutaran hari pertama terbesar ke empat sepanjang sejarah sinema Perancis, cuma kalah dari Asterix and Obelix vs. Caesar, Men in Black dan Spiderman. Penyebabnya barangkali karena publik Perancis gatal ingin membuktikan bahwa sineas Amerika Serikat cuma jago mengacak kultur orang lain, budaya Perancis tak terkecuali. Ternyata, mereka kecele. Chef, kritikus film dan penonton film memuja-muji film ini. Bahkan Thomas Sotinel dalam artikel di surat kabar yang dikenal kerap menurunkan kritik film pedas, La Monde, menyebut film itu sebagai "salah satu film gastronomi paling terhadap sejarah perfilman." Di Amerika Serikat, Ratatouille turut berjaya. Majalah film Empire sampai harus dengan lembut mengingatkan penonton bahwa "perasaan yang anda miliki setelah pulang dari bioskop—getaran jari dan hati yang riang—adalah kebahagiaan." Kritikus Rogert Ebert menasbihkannya sebagai "salah satu film terbaik tahun ini." Ratatouille mendapatkan lima nominasi Oscar, keluar sebagai film animasi terbaik 2007 dan memecahkan semua rekor film animasi di ajang itu. Sekarang 10 tahun berselang, kehangatan yang disajikan Ratatouille masih bisa kita rasakan.

Senada seperti apa yang ditulis kritikus The New York Times, A.O Scott : "apa coba yang bisa dikatakan kritikus film di depan film seperti Ratatouille? Kadang respons yang paling hebat adalah yang paling sederhana. Kadang ucapan "terima kasih" sudah cukup." Sepuluh tahun kemudian, ucapan "terima kasih" adalah kalimat paling tepat yang bisa kita ucapkan untuk karya sekeren Ratatouille