FYI.

This story is over 5 years old.

Perang Narkoba Filipina

Duterte Janjikan Hadiah Rp534 Juta Bagi Yang Bisa Tangkap Polisi Jualan Narkoba 'Hidup atau Mati'

Perang narkoba Filipina kini beralih menyasar penegak hukum.
Presiden Rodrigo Duterte saat menghadiri apel perayaan ultah Kepolisian Filipina di Manila. Foto oleh REUTERS/Romeo Ranoco.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Perang Narkoba di Filipina sudah berjalan lebih dari setahun, sejak Presiden Rodrigo Duterte menjabat. Sang presiden mendukung pembunuhan ekstrajudisial terhadap pengedar maupun pengguna narkoba, menewaskan lebih dari 7 ribu orang. Setelah dikecam dari dalam maupun luar negeri, serta sempat dihentikan sejenak akibat tekanan masyarakat, kini agenda perang narkoba berubah. Duterte menyasar anak buahnya sendiri, para personel kepolisian yang diduga mendukung peredaran narkoba.

Saat berpidato di markas besar kepolisian Filipina pekan ini, Duterte menjanjikan imbalan 2 Juta Peso (Setara Rp534 juta) untuk setiap polisi yang berhasil ditangkap mendukung bisnis narkotika, hidup ataupun mati. "Kalau dalam kondisi mati, jauh lebih baik," kata Duterte seperti dikutip kantor berita AFP.

Sejak permulaan perang narkoba, polisi dituding banyak pihak bermain dua kaki. Di satu sisi menghabisi pengedar, namun di sisi lain melindungi bandar-bandar besar. Keterlibatan polisi terungkap dalam kasus penembakan Wali Kota Ozamiz, Reynaldo Parojinog, pada 30 Juli lalu. Parojinog terlibat perdagangan narkoba dibantu personel polisi setempat. Parojinog ditembak mati dalam operasi penggerebekan. Sebanyak 13 anggota mendiang wali kota itu turut tewas, termasuk istri dan adik lelakinya. Polisi mengklaim tewasnya 16 orang itu karena melawan petugas. Namun anggota keluarga yang selamat menyebut yang terjadi adalah pembantaian

Parojinog menjadi wali kota ketiga ketiga yang ditembak mati sepanjang perang narkoba Duterte. Sang presiden sejak lama mengaku tidak akan pandang bulu menghabisi semua pihak yang terlibat bisnis haram tersebut. Tahun lalu, Duterte mengumumkan 150 nama pejabat, termasuk Parojinog, karena dugaan menjadi beking bandar narkoba di wilayah masing-masing.

Di akhir pidatonya, Duterte bahkan menyatakan polisi harus bersemangat menembak mati rekan kerjanya yang masih mau membantu bandar. "Saya tidak akan pidato panjang-panjang, jadi kalian bisa segera dapat dua juta peso menangkapi polisi-polisi goblok itu," ujarnya.