Film

Film-Film Studio Ghibli Mengajarkan Kita Semangat Lawan Fasisme

Sebagian film Studio Ghibli, termasuk yang bergenre fabel, selalu mengajarkan kita pesan sederhana: teruslah melawan sistem dan ketidakadilan.
4.9.17
Cuplikan adegan di film 'Princess Mononoke'. Sumber via akun Flickr jennifer Broun Conor

Selama 32 tahun, Ghibli sukses menghasilkan beberapa film paling menawan dalam dunia sinema modern, lewat medium animasi. My Neighbor Totoro, Howl's Moving Castle, Spirited Away, Princess Mononoke, dan Porco Rosso—sedikit dari sekian judul Ghibli—merupakan contoh-contoh karya kelas dunia yang telah dihasilkan studio ini. Mereka berhasil mencapai keseimbangan antara imajinasi liar dengan mimpi yang mengawang-ngawang. Terpendam di dalam kemegahan fabel-fabel kartun ini adalah pesan-pesan seputar kebaikan, pengertian dan perlawanan.

Iklan

Alih-alih menawarkan eskapisme sederhana, Ghibli menafsir ulang imajinasi kita—entah yang kekanak-kanakan atau lainnya—menjadi senjata radikal. Fantasi dipakai sebagai alat mengubah realita, alat untuk melawan balik penindasan.

Poster film 'Grave of the Fireflies'. Sumber gambar via junaidrao

Contohnya Grave of the Fireflies karya Isao Takahata, film Ghibli yang paling mengerikan dan suram. Memakai latar hari-hari terakhir Perang Dunia Kedua, Fireflies mengisahkan tentang seorang remaja lelaki, Seita, yang tengah menderita kelaparan. Film ini merupakan respons terhadap trauma post-Perang Dunia II yang menimpa Jepang. Fireflies berusaha menunjukkan ke penonton kelamnya suasana saat itu.

Di alam baka, arwah Seita reuni dengan arwah adik perempuannya yang meninggal lebih dahulu dalam genangan kunang-kunang di padang rumput terbuka. Pasangan kakak-adik ini memiliki dinamika yang mengalir di dalam film, sama seperti protagonis Mei dan Satsuki di film Totoro—satu-satunya kesamaan dalam dua film yang bertolak belakang ini.

Dalam alam semesta Ghibli, menaklukan seekor naga atau membasmi penyihir bukanlah bentuk perlawanan yang ingin disampaikan pada penonton. Ketika Disney selalu menggunakan tokoh jahat (antagonis) sebagai sumber masalah—setelah mereka dihilangkan, beres sudah—Ghibli justru menjelaskan bagaimana semua masalah berakar dari sistem yang lebih luas. Jadi tokoh jahatnya sendiri bisa diganti-ganti. Tokoh jahat yang sebenarnya adalah struktur politik dan sosial yang memperbolehkan karakter-karakter keji ini untuk bisa beroperasi. Studio Ghibli tidak pernah menampilkan tokoh jahat mereka secara terang-terangan.

Iklan

Putri Eboshi, tokoh antagonis film Princess Mononoke adalah contoh bagus lainnya. Sifat "jahatnya" tidak hanya muncul akibat keserakahan, tapi juga kerapuhan. Dia insecure tentang posisinya sebagai pemimpin. Kecenderungannya menggunakan kekerasan muncul dari konflik internal: keinginannya untuk melindungi bertabrakan dengan gairah untuk menghancurkan. Dia merupakan produk dari kesombongan kapitalis. "Coba saksikan ini saudara-saudari," ujarnya. "Saya akan menunjukkan bagaimana membunuh seorang Tuhan. Dewa kehidupan dan kematian. Jangan sampai menakutinya."

Sepanjang cerita Mononoke, kapitalisme digambarkan sebagai pemicu degradasi imajinasi dan kekaguman manusia terhadap "hal-hal lain." Konflik sentral film merupakan bentrokan antar ide: modernitas melawan tradisi; alam melawan industri; kepuasan melawan gairah; Eboshi dan pahlawan kita, si gadis serigala. Hidup di dalam dunia imajinasi, karakter gadis serigala merupakan perlawanan terhadap stoisisme keras kepala industri, dan maka dari itu perlu dienyahkan.

Kritik Studio Ghibli terhadap fasisme lebih terang-terangan di film Porco Rosso rilisan tahun 1992. Protagonis film, Porco Rosso/Marco Pagot, adalah seorang pilot Italia yang cacat akibat kutukan Perang Dunia Pertama, mengubahnya menjadi seorang manusia babi. Awalnya, Porco ditunjukkan menghabiskan hari-hari awalnya mengejar Sky Pirates, tokoh jahat di awal film. Namun tidak lama kemudian, kita ditunjukkan bahwa Pirates ini sama sekali tidak berbahaya—dibanding sistem yang menentang mereka. Apabila akhirnya para Pirates ini bisa memahami sudut pandang Porco dan teman-temannya, para fasis justru tidak.

Poster asli film 'Porco Rosso'. Image via junaidrao

Dari sisi permukaan, pesan "kecantikan batin" Porco Rosso terlihat sederhana. Namun nyatanya justru sangat efektif. Film ini berusaha mengatakan bahwa keberanian dan kebajikan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Berjuang demi sistem yang menggunakan kekejaman sebagai fondasinya—seperti fasisme—tidak semata-mata membuat seseorang berani atau baik. Tidak lagi menjadi seorang tentara, Porco memang dikutuk dengan wajah yang tidak elok, namun dia sendiri mengatakan, "Mendingan jadi babi daripada jadi fasis."

Sementara dalam Spirited Away, Chihiro mampu melihat kehadiran arwah-arwah di sekitarnya dan berfokus di sifat rakus mereka sebagai manusia dewasa. Orang tua Chihiro ditransformasi menjadi babi, Yubaba itu sombong dan histerikal, sementara Kamaji sangat sempit pikirannya dan menolak mendengarkan orang lain. Chichiro menavigasi dunianya dengan penuh kedewasaan, bukan karena dia dianugerahi kedewasaan, tapi karena masa kecilnya justru mengajarkan nilai-nilai faktual, sesuatu yang tidak bisa diterapkan banyak manusia dewasa karena takut kehilangan status.


Baca juga artikel VICE soal Ghibli lainnya:

Mengajarkan nilai serupa, Kiki's Delivery Service merupakan kisah menjadi dewasa, di mana tokoh protagonis harus menyeimbangkan gairah menjadi penyihir muda dengan kehidupan harian membosankan. Kiki dalam cerita ini berumur 13 tahun, dan film tersebut pada dasarnya mengisahkan transisinya menjadi seorang manusia dewasa yang mandiri. Ada semacam pengakuan yang menyenangkan tentang sistem yang juga menakutkan di Mononoke: Memang tidak mungkin untuk bisa eksis di luar sistem, tapi kita bisa mencari titik keseimbangan.

Banyak pengkritik Ghibli mengatakan film-film mereka "terlalu eskapis" atau kelewat mengandalkan nostalgia (tonton The Wind Rises). Fakta yang mereka lewatkan adalah bagaimana film-film bukan tentang sekedar kerinduan regresif akan masa lalu, tapi polemik membawa sudut pandang seorang anak kecil ke dalam dunia sekarang.

Sama seperti fabel-fabel lainnya, film Ghibli membawa sebuah pesan sederhana: teruslah melawan. Fantasi, mimpi, sifat kekanak-kanakan—semuanya adalah alat yang vital. Pirate, bandit, arwah-arwah: semuanya bisa menjadi sekutu kita. Fantasi bukanlah bentuk eskapisme, tapi langkah menuju empati dan identitas diri yang dibenci oleh sistem. Silakan jadi penyihir, manusia serigala, atau bahkan babi. Ujung-ujungnya, semua ini masih lebih baik daripada menjadi fasis.