seks dan cinta

Tuxedo Bertopeng dari Sailor Moon adalah Tokoh yang Mengajariku Cinta, Seks, dan Keberanian

Kenyang nonton serial saat kecil dulu bikin saya yakin bakal bertemu lelaki macam Tuksedo Bertopeng yang mencintai saya apa adanya.
22 Oktober 2018, 12:00pm
Tuksedo Bertopeng adalah alter ego Mamoru dalam Sailor Moon TV series
Foto via Wikipedia

"You Make Me Wanna" adalah kolom yang dibuat untuk merayakan kebangkitan seksual yang dipicu oleh produk budaya pop.

Dulu aku sama sekali tak mengenal seks. Menyentuh lawan jenis mungkin masih diperbolehkan. Begitu juga dengan pelukan hangat dari bibi-bibiku, jabatan tangan dan mungkin high-five semuanya boleh dilakukan. Sisanya? Sudah pasti haram.

Aku lahir di keluarga imigran Suriah. Begitu menginjak usia sekolah, aku langsung disekolahkan di sebuah sekolah Islam. Dulu, aku memakai jilbab dan solat lima kali sehari—intinya, semua solat wajib tak pernah aku tinggalkan. Budaya Islam menekankan banyak hal yang keren—kemurahan hati, kebaikan, kepatuhan dan iman yang kuat. Cuma kalau sudah bicara tentang seks, nyaris tak dibahas sama sekali. Misalnya, aku hampir tak pernah melihat orang tuaku berciuman. Jikapun mereka sampai melakukannya, durasinya singkat banget. Aku tak boleh ngobrol dengan anak laki-laki. Jangankan ngobrol, melihat mereka saja tidak diperbolehkan. Jika ada tayangan TV yang memperlihatkan orang ciuman, aku harus segera mengalihkan pandanganku.

Diam-diam, aku menyadari ada sesuatu yang berbeda dalam diriku—perasaan sama yang mungkin dimiliki orang-orang lain tapi mereka sembunyikan rapat-rapat. Aku benar-benar tahu apa yang aku rasakan setelah melihat wajah ganteng karakter Tuxedo Moon (alias Tuxedo Bertopeng) dalam serial anime Sailor Moon. Waktu itu, aku masih hijau—umurku baru 12 tahun dan belum pernah sekalipun ngobrol dengan anak laki-laki yang bikin hasrat seksual saya menyala. Entah kenapa aku pengin sekali disentuh oleh Tuxedo Bertopeng, jagoan bertopeng misterius yang merebut hati anak-anak perempuan penonton Sailor Moon.

Sailor Moon adalah serial anime yang ditayangkan di TV pada dekade 90-an. Plotnya berkisah tentang petualangan Sailor Moon dan kompratriotnya, Sailor Scouts—sekelompok perempuan yang diberkahi kekuatan magis—mempertahankan bumi dari segala macam kejahatan. Dalam petualangannya, Sailor Moon kerap dibantu dan diselamatkan oleh Tuxedo Bertopeng, sosok misterius yang selalu nongol tiap kali Sailor Moon cs. sedang kewalahan dan membutuhkan pertolongan.

Jika tak sedang beraksi, Tuxedo Bertopeng adalah pemuda 17 tahun bernama Mamoru Chiba. Di malam hari, Mamoru menjelma menjadi pahlawan bertopeng yang siap menolong perempuan yang dicintainya, Sailor Moon atau Usagi dari serangan alien yang tak henti-hentinya mendera Bumi. Perasaan Mamoru kepada Sailor Moon begitu besar hingga saat sebuah permintaan di akhir season pertama menghapus ingatan semua orang, perasaan itu muncul sebagai sesosok makhluk hidup. Keinginan mendalam Mamoru untuk selalu melindungi Usagi menyebabkan ingatan Mamoru terpisah dari badannya dan muncul sebagai sesosok karakter baru, Moonlight Knight. Baik Moonlight Knight dan Mamoru akhirnya bahu membahu melindungi Usagi.

Selama aku menonton Sailor Moon, pertanyaan ini terus menerus muncul: apa sih yang dipunyai Usagi sampai Mamoru semabuk kepayang itu? Usagi bukan cewek yang cantik mirip dewi kayangan. Dia adalah sosok cewek yang malas, teledor, lebih sering teriak-teriak daripada ngomong dengan volume wajar dan punya nafsu makan yang besar. Usagi juga seringkali dikerjai teman-teman, ditanyai kenapa dirinya cengeng betul atau kenapa dirinya bisa makan bak seorang kuli. Namun, semua “cacat” ini tak menghalangi cinta Mamoru. Bagi Mamoru, Usagi adalah segalanya.

Melihat bagaimana Mamoru begitu mencintai Usagi menyadarkanku akan satu hal: kecantikan itu tak melulu soal tampang. Ini ditunjukkan dengan gamblang saat Mamoru tak sengaja mendengar Usagi ngedumel tentang keinginannya jadi model di season 1 episode “Usagi’s a Model: The Flash of the Monster Camera.” Mamoru lekas memberikan nasihat yang begitu bijak. “Jujur saja nih, banyak orang yang keblinger jalan pikirannya,” ujarnya. “Mereka pikir perempuan cantik itu cuma diukur dari tampangnya saja. Padahal, yang bikin seorang perempuan menonjol tak cuma penampilan fisiknya saja.”

Sebagai seorang perempuan yang menutup tubuhnya seumur hidup, kalimat ini jelas nampol banget. Sebelumnya, aku percaya bahwa prasyarat jadi perempuan yang dianggap cantik adalah 1) punya rambut panjang 2) memakai make up dan 3) tubuhnya ramping macam gitar spanyol. Perempuan inilah yang bakal dicintai banyak laki-laki. Bahkan dengan dandanan yang tertutup ini (artinya, tak banyak yang tahu lekuk tubuhku), aku masih minder karena merasa sangat berbeda dari teman SMA-ku yang kebanyakan berkulit putih. Aku menyangka tak akan ada lelaki yang melihatku sebagaimana Mamoru memperhatikan Usagi karena aku tak secantik teman-temanku. Akan tetapi, tiap hari aku bisa dibikin terpaku oleh sosok lelaki sempurna dalam anime yang bisa menemukan kecantikan seseorang dari dalam hatinya, bukan dari wajahnya.

Bahwasanya ada lelaki yang bisa mencintai seseorang perempuan karena perempuan itu berani dan baik hati—alih-alih cuma cantik doang mengubah diriku. Saat itu, aku cuma perempuan 12 tahun jerawatan yang baru pertama kali merasa sange dan malangnya tak tahu cara melampiaskannya. Yang bisa aku lakukan saat itu adalah menggesek-gesekkan selangkanganku pada bantal. Dan dari hari ke hari, aku terus memandangi gagang shower yang mungkin bisa “memuaskanku.” Mamoru memang bikin merasakan gejolak seks yang luar biasa.

Dan Mamoru melakoni lebih dari apa yang diharapkan Usagi: dia terus menyemangati Sailor Moon agar menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Saban kali, Tuxedo Bertopeng muncul saat Sailor Moon bertarung melawan monster, dia selalu meneriakkan kepada Usagi, “Cari dari dalam hatimu. Bangkitkan jiwa petarung dalam dirimu, Sailor Moon.”

Lantaran tumbuh di rumah tangga yang penuh kekerasan, aku kerap merasa seperti Sailor Moon. Aku selalu buka mulut jika ada ketidakadilan terpampang di depan mataku—sebuah kebiasaan yang membuat saya harus menerima jatahan hukuman berupa pukulan. Semua laki-laki di sekitarku, dari ayah tiri sampai mantanku, pernah mengeluh tentang kebiasaanku ini. “Kamu bawel,” begitu mereka sering bilang. “Kenapa sih rempong banget.” Sayangnya, saat itu, aku tak punya Mamoru Chiba yang menyemangatiku membasmi kejahatan. Kondisinya baru berubah setelah aku bertemu suamiku, Arthur.

Arthur tak pernah mengomeli aku karena jadi diriku sendiri. Dia malah membiarkan aku jadi versi diriku yang paling otentik—mirip seperti apa yang dilakukan Tuxedo Bertopeng pada Sailor Moon. Arthur menghargai segala yang kulakukan, memberiku semangat dan mengagumi bagian tubuhku yang bahkan aku benci. Keengganan Arthur untuk menghakimi membuatku bertanya-tanya: kenapa dulu aku terlalu menghakimi diri sendiri?

Tuxedo Bertopeng, dan cinta Arthur menunjukkan alih-alih berharap punya penampilan yang jauh lebih cantik, yang perlu aku lakukan hanya mencari kecantikan dalam diriku sendiri. Apa yang dulu kurasa sebagai kelemahanku ternyata menjadikanku perempuan spesial—seorang petarung versiku sendiri. Aku jadi jarang mengkhawatirkan penilaian orang, cuek saja dengan sikapku yang konyol dan hidup dengan lebih tenang.

Semua ini berkat sebuah serial anime Jepang dan lelaki yang mencintaiku apa adanya.