Alasan Ilmiah Kita Terobsesi Mendengar Lagu-lagu Galau Setelah Patah Hati
Foto Celine Dion saat konser dari CelebrityABC.

Alasan Ilmiah Kita Terobsesi Mendengar Lagu-lagu Galau Setelah Patah Hati

Kami menghubungi psikolog, mencari tahu penyebab banyak orang hobi banget nyanyiin lagu “Someone Like You”-nya Adele setelah diputusin pacar.
30.5.17

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey.

Saya pertama kali patah hati di usia 11. Semua gara-gara Jordan, bocah yang membuat hati saya berdentum kencang ketika menonton dia breakdance di acara sekolah. Memang romansa kami tidak bertahan lama—dua minggu dan empat hari, menurut buku diary saya—tapi tetap saja rasanya sakit ketika dia memutuskan hubungan gara-gara saya lupa ada janji nongkrong selepas sekolah. Untungnya, ketika saya pikir dunia akan berakhir akibat tidak ada lagi belahan hati, sebuah CD musik koleksi Ibu membantu saya bertahan melewati masa-masa berat: Jagged Little Pill karya Alanis Morissette. Album ini membuat saya merasa kuat, dan membuat saya bisa berjalan kembali ke sekolah dengan kepala tegak.

Bukan kebetulan bahwa banyak lagu-lagu pop terlaris di dunia—seperti "Believe" karya Cher, "Survive" milik Gloria Gaynor, "I Will Always Love You" karya Whitney Houston atau "Somebody That I Used To Know" besutan Gotye, semuanya terjual lebih dari 10 juta kopi—berhubungan dengan tema patah hati. Patah hati adalah isu yang universal dan mendasar dalam pengalaman kita sebagai manusia (coba sebut satu orang di bawah 25 tahun yang belum pernah patah hati kecuali Beyonce). Biarpun kita tidak kenal dengan penulis lagu, kita merasa seakan sang seniman menyanyikan pengalaman kita. Penulisan lirik macam ini, dikombinasikan dengan gaya bernyanyi penuh penjiwaan dan refrain megah, dijamin akan membuat kita tidak merasa sendiri—bahwa ada orang lain yang mengerti penderitaan yang dialami. Namun pertanyaannya, kenapa kita justru memutar lagu-lagu galau nan sedih di saat susah, bukannya memutar lagu upbeat pembawa semangat seperti "Happy" nya Pharrell?

"Perasaan sedih dan kehilangan itu selalu ada dalam diri manusia, tapi kita kerap melawan perasaan tersebut untuk bisa bertahan karena tidak mau dianggap lemah atau 'gak asik'," ungkap psikoterapis Mark O'Connell. "Musik membiarkan kita merasakan perasaan patah hati secara kolektif, perasaan kehilangan dan perpisahan, dengan cara yang aman dan pribadi. Musik menjangkau emosi manusia di dalam jiwa, bukan otak. Musik juga kadang mengajak kita untuk mengekspresikan perasaan ke arah tertentu, daripada berkutat dalam kesedihan yang sama terus menerus." Dengan kata lain, ketika kita secara kolektif menjiwai lagu "Wrecking Ball" karya Miley Cyrus, kita tidak hanya merasa tidak kesepian, tapi juga didorong untuk move on dan memproses perasaan pribadi dengan cara yang nyaman dan menyenangkan.

Sejatinya, proses pemulihan lewat konsumsi lagu-lagu galau untuk melewati masa berat mirip dengan metode terapi yang digunakan untuk menangani pasien PTSD. "Ketika kita patah hati, pusat rasa sakit dan adiksi menyala di dalam otak," kata Dr Mike Dow, psikoterapis yang menulis buku Healing the Broken Brain. "Mengalami pengalaman catharsis bisa membantu menginstall ulang otak dengan cara menenggelamkan diri ke dalam perasaan tertenti. Dalam banyak aspek, ini mirip dengan metode yang sama gunakan untuk menangani pasien veteran perang pengidap PTSD. Dengan cara mengingat-ngingat peristiwa menyakitkan dan traumatis, anda membantu otak memproses ulang ingatan. Kadang ini justru membantu anda 'melewati' masalah daripada 'menghindari'nya."

Lah? Jadi maksudnya menyanyikan "Unbreak My Heart" sambil menangis-nangis di atas ranjang tidak ada bedanya dengan loncat-loncat di kamar sambil meneriakkan "Since U Been Gone"? Menurut psikoterapis Abigail Burd, kedua kegiatan tersebut memiliki efek yang sama dalam usaha melupakan mantan pacar. Ini disebut "pengaturan emosi"—dengan cara mendengarkan kesedihan atau kemarahan orang lain, anda bisa mengerti perasaan sendiri. "Mendengarkan musik galau membantu kita merasa lebih baik karena emosi kita 'dinormalisasi'," jelasnya, "Anda akan menyadari bahwa yang anda rasakan adalah emosi umum manusia, dan anda tidak sendirian." Musik sedih juga cara yang aman untuk belajar menghargai kompleksitas emosi manusia. Kalau anda belum pernah jatuh, anda tidak akan menghargai rasanya di atas."

Okelah, ini semua penjelasan masuk akal, tapi ada alasan ilmiah di balik obsesi kita mendengarkan musik galau gak sih? Ternyata, insting kita sebagai manusia mendorong kita untuk mengelilingi diri dengan orang-orang yang senasib. Lagu-lagu bertemakan patah hati membuat cairan tertentu di dalam otak bereaksi dan membuat kita merasa "senasib sepenanggungan" dengan orang lain. Sesuai dengan pernyataan psikolog klinis Dr Dathan Paterno, "Mendengarkan musik yang menyentuh membantu otak merilis dopamin dan oksitosin. Dopamin merupakan penyulut energi, menerima suntikan dopamin itu rasanya seperti high," tambahnya. "Oksitoksin membantu kita mengatur stres dan rasa cemas—biasa disebut sebagai cairan "hangat dan nyaman" yang dikeluarkan Ibu ketika mereka tidur bareng bayi yang baru lahir. Timbul rasa akrab dan intim, perasaan yang kerap dicari manusia."

Seaneh-anehnya penjelasan ini, rasa catharsis yang didapat dari mendengarkan musik kesukaan—biarpun perut rasanya mulas dan hati rasanya diinjak-injak—bisa memproduksi sensasi high. Secara ilmiah, anda bisa merasakan ini lewat beberapa cara. Misalnya ketika lagunya naik menuju ke chorus yang megah, anda merasa sedang melepas ketegangan, sama seperti ketika seseorang berteriak dalam keadaan kesal. Analisa dari sudut lain, misalnya struktur lagu itu sendiri yang menenangkan. Progresi kord tertentu bisa membantu otak mengeluarkan dopamin yang menenangkan tubuh. Apalagi kalau anda bisa 'merasakan' lirik lagu tersebut, wah pecah deh.

Kadang rasanya reduktif berusaha menjelaskan kekuatan musik pop dengan sains, tapi jelas bahwa obsesi manusia dengan lagu bertemakan patah hati disebabkan oleh kemampuan mereka membantu kita menelaah, memproses dan move on dari situasi yang menyakitkan. Mereka membantu kita menghadapi break-up dengan cara yang menyenangkan—alih-alih menambah trauma—dimana kita bisa menghadapi rasa sakit dengan cara menggoyangkan anggota tubuh dan meneriakan lirik ke diri kita sendiri di depan kaca, membenamkan rasa sakit di dada. Whitney Houston, Beyonce, Bjork, Drake, Bon Iver, Sheila On 7, semuanya memberikan terapi yang kita butuhkan ketika sedang galau, dan membantu otak menghasilkan cairan yang membuat kita merasa tenang dan kuat—ya tidak heran kita bolak-balik memutar album Sheila On 7.

**Kalian bisa follow sekalian curhat habis patah hati sama Sammy di **Twitter.