Penuaan

Orang-Orang Lansia Ngomongin Kesiapan Mereka Menemui Ajal

"Saya berharap saya bisa mengakhirinya. Saya hanya penghalang orang-orang di jalan"
26.6.18
Victoria Wlaka/Getty Images

Di seluruh dunia yang sedang berkembang, semakin banyak orang yang hidup lebih lama, yang tentu saja berarti semakin banyak orang menjadi sangat tua pada saat mereka mati. Hampir separuh dari semua kematian di Inggris Raya, misalnya, adalah orang-orang yang berusia 85 atau lebih tua—sebuah kenaikan dari hanya satu dari lima kematian, 25 tahun yang lalu.

Mati di usia yang lebih tua dapat menghasilkan jenis kematian yang berbeda, seperti menjadi lebih lemah secara bertahap dari segi tubuh dan pikiran dan mengemban banyak masalah kesehatan selama bertahun-tahun. Sementara tahun-tahun setelah pensiun sebelumnya dianggap hanya “usia tua,” rentang hidup yang lebih panjang menimbulkan pelabelan seperti “tua fase muda” dan “tua banget.”

Iklan

Penelitian kami sebelumnya menunjukkan bahwa orang-orang yang berusia di atas 90 tahun ketika mereka meninggal dunia membutuhkan lebih banyak dukungan dalam kehidupan sehari-hari pada tahun terakhir mereka, daripada mereka yang meninggal di akhir 80-an. Di Inggris, sekitar 85 persen dari orang-orang yang meninggal di usia 90 atau lebih tua mengalami disabilitas sehingga membutuhkan bantuan dalam kegiatan perawatan diri mendasar. Hanya 59 persen dari mereka yang berusia antara 85 dan 89 saat meninggal memiliki tingkat kecacatan ini.

Pengetahuan ini memiliki implikasi pada dukungan perencanaan untuk hidup dan mati dalam pengaturan perawatan yang berbeda. Tetapi, apa yang kita ketahui tentang apa yang sebenarnya diinginkan oleh orang yang lebih tua (95+) dalam hal keputusan tentang perawatan mereka ketika mereka mendekati akhir hidup mereka?

Yang tertua dan paling rapuh dalam masyarakat kita menjadi kurang terlihat karena banyak orang yang paling membutuhkan dukungan, seperti mereka yang menderita demensia, entah berada di rumah perawatan atau kurang bisa keluar dan beraktivitas. Tetapi, suara mereka sangat penting dalam menentukan layanan perawatan akhir-hayat.

Dalam penelitian terbaru kami, kami ngobrol-ngobrol tentang pengalaman dan preferensi perawatan dengan 33 wanita dan pria setidaknya berusia 95 tahun, lebih dari 100, dan 39 anggota keluarga atau pengasuh mereka. Dari jumlah tersebut, 88 persennya adalah perempuan, 86 persen adalah janda, dan 42 persen tinggal di rumah perawatan.

Iklan

Kematian merupakan bagian dari kehidupan banyak orang yang lebih tua, yang sering mengatakan bahwa mereka menjalani hidup hari demi hari dan tidak terlalu mengkhawatirkan tentang besok. “Hidup dijalani hanya hari ke hari ketika kamu berusia 97 tahun,” kata seorang perempuan. Sebagian besar merasa siap untuk mati dan beberapa bahkan menyambutnya: “Saya hanya menunggu maut,” kata perempuan lainnya.

Yang lainnya lebih putus asa, ingin mempercepat proses mencapai akhir. “Saya berharap saya bisa mengakhirinya. Saya hanya penghalang orang-orang di jalan,” adalah sentimen khas pada mereka yang merasa bahwa mereka adalah gangguan di masyarakat. Yang lain memohon untuk tidak dibiarkan hidup sampai usianya seratus, mengatakan tidak ada gunanya membuat mereka tetap hidup.

Sebagian besar orang lansia khawatir soal dampak dari kematiannya nanti: “Satu-satunya yang membuatku khawatir adalah adik perempuanku. Saya harap dia tidak akan terlalu sedih dan bisa menerima kepergianku nanti.”

Proses sekaratlah yang menimbulkan sebagian besar kekhawatiran. Kematian yang damai tanpa rasa sakit, saat tidur, adalah yang ideal bagi sebagian besar orang. Para narasumber memilih untuk hidup dengan nyaman, alih-alih menjalani perawatan medis, berharap bisa menghindari tinggal di rumah sakit.

Kami menemukan bahwa pemahaman keluarga atas apa yang diinginkan orang lansia di keluarga mereka jarang keliru (hanya dua kali). Misalnya, satu orang bilang mereka ingin menjalani perawatan medis selama mereka mampu, sementara anggota keluarga percaya mereka memilih perawatan paliatif. Hal ini menyorot pentingnya mencoba membicarakan pilihan-pilihan dengan orang lansia alih-alih membuat asumsi atas keinginan mereka.

Iklan

Kami menemukan bahwa sebagian besar orang lansia membahas keinginan akhir hayat mereka secara terbuka dan banyak orang lansia menyebutkan pembicaraan soal kematian bukanlah hal yang janggal, seringkali disampaikan lewat humor. Minoritas orang lansia tidak tertarik untuk membahas hal-hal tersebut di atas.

Jarang sekali mendengar pendapat orang-orang lansia, tapi ada beberapa penelitian yang telah mengeksplor pandangan para orang tua yang lebih muda. Sebagian besarnya fokus pada orang lansia yang tinggal di panti jompo dan terkadang pada orang lansia yang masih tinggal di rumah. Sebuah tinjauan yang dilakukan di Swedia pada 2013 menemukan 33 penelitian di seluruh dunia yang mengeksplor pandangan soal kematian dan sekarat di kalangan orang lansia, meski tinjauan ini tidak menjangkau kalangan orang lansia yang lebih tua.

Sebuah penelitian tahun 2002 menemukan bahwa orang-orang yang lebih tua di Ghana tak sabar mati, karena menganggap kematian sebagai sahabat lama yang akan membawa kedamaian dan rehat setelah kehidupan yang keras. Dan penelitian lain pada 2013, di Belanda, menemukan bahwa banyak orang mengganti preferensi mereka soal bagaimana mereka ingin meninggal, seiring dengan berubahnya kebutuhan perawatan mereka.

Sebuah tinjauan baru-baru ini meneliti sikap-sikap orang tua soal rencana perawatan dan preferensi untuk memulai diskusi semacam itu. Tinjauan ini mengidentifikasi 24 penelitian, sebagian besarnya dari Amerika Serikat dan dengan rentang orang lansia yang lebih muda. Hasilnya menunjukkan bahwa meski minoritas orang lansia malas membahas topik ini, sebagian besarnya santai saja tapi sayangnya jarang diajak ngobrol.

Penelitian-penelitian ini mendukung temuan-temuan kita soal kerelaan orang-orang lansia untuk mendiskusikan topik-topik tabu, penerimaan mereka atas kematian yang akan datang, dan kekhawatiran mereka soal proses menjelang kematian: meningkatnya ketergantungan, menjadi beban masyarakat, dan dampak kematian mereka bagi keluarga yang ditinggalkan. Untuk merencanakan layanan-layanan terbaik untuk mendukung orang-orang lansia dengan latar belakang berbeda-beda, kita perlu memahami prioritas mereka menjelang kematian.

Jane Fleming adalah peneliti senior di University of Cambrige. Artikel ini awalnya tayang di The Conversation . Baca artikel originalnya di sini .