Gembira Kedubes AS Pindah ke Yerusalem, Klub Bola Rasis Israel Ganti Nama Jadi Trump

Suporter Beitar Yerusalem sejak lama dikenal sebagai kelompok sayap kanan anti-Arab. Cocok deh kalau sekarang nama klubnya pakai embel-embel 'Trump'.
21.5.18
Photo of Beitar by Uriel Sinai/Getty Images; photo of Trump by DOMINICK REUTER/AFP/Getty Images

Saat mendengar nama Donald Trump, mungkin kamu akan mengingatnya sebagai seorang pengusaha yang memiliki banyak hotel dan properti lain atau menjual barang-barang mahal hanya karena namanya tertera di produk tersebut. Mungkin kamu juga mengingat sosoknya sebagai selebriti reality show yang berhasil menjadi presiden Amerika Serikat bermodalkan retorika anti-imigran yang cenderung rasis. Kini, berkat kebijakan kontroversial Trump memindah kedutaan besar AS ke Yerusalem pekan lalu, namanya kini dijadikan sebagai nama klub sepak bola Israel terkemuka yang terkenal dengan basis suporternasionalis “ekstrem”.

Sabtu pekan lalu, Beitar Jerusalem—salah satu klub sepak bola terbesar di Liga Premier Israel—mengumumkan lewat akun Facebooknya bahwa mereka mengganti nama klub menjadi “Beitar 'Trump' Jerusalem” sebagai penghormatan kepada Trump. Surat Kabar The Times of Israel melaporkan pendiri Eli Tabib dan manajer eksekutif Eli Ohana memutuskan untuk menyelipkan nama Trump karena presiden AS itu secara tidak langsung mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Kebijakan Trump dikecam dunia internasional, lantaran Yerusalem seharusnya jadi zona netral tanpa ada negara yang mengklaimnya sebagai ibu kota.

“Kami menghargai keberanian Presiden Trump dalam mengakui rakyat Israel dan ibu kotanya,” demikian bunyi pernyataan resmi Beitar Jerusalem. “Sebagai salah satu simbol penting Israel, Klub Sepak Bola Beitar Jerusalem ingin menghormati dukungan Presiden dengan menyelipkan namanya pada klub kami.”

Pernyataan ini dirilis sehari sebelum AS secara resmi memindahkan kedutaannya ke Yerusalem—bertepatan dengan aksi protes rakyat Palestina yang menewaskan 60 demonstran.

Beitar selama ini dikenal dengan aliran nasionalis sayap kanannya yang anti-Arab. Beitar Jerusalem menjadi satu-satunya klub yang tidak pernah mengontrak pemain Arab, dan penggemarnya juga punya lagu kebanggaan yang anti-Arab. Awal tahun ini, beberapa pendukung klub sempat menyanyikan “I hate all Arabs” (“kami benci orang Arab”) dan “burn down your village” (“bakar saja negaramu”) selama pertandingan Arab-Israel, seperti yang dikutip dari Times of Israel.

Menurut laporan Jerusalem Post, Beitar Jerusalem tidak bisa begitu saja menyelipkan nama Trump karena mereka butuh persetujuan dari Asosiasi Sepak Bola Israel. Selain itu, nama “Trump” sudah menjadi merek dagang di Israel.

Tapi sepertinya Trump tidak masalah kalau nama keluarganya digunakan jadi nama klub sepak bola, apalagi yang rasis. Soalnya dia sudah biasa mencantumkan namanya di mana saja.

Jangan lupa follow Adam Forrest di Twitter .