media sosial

Twitter Meminta Maaf Tagar 'Kill All Jews' Sempat Jadi Trending Topic

Ujaran kebencian tersebut sempat ngetren di New York setelah sebuah sinagog dirusak dengan grafiti berbau rasis. Kasus ini menunjukkan twitter bisa dipakai jadi platform menyebar rasisme.
ilustrasi apps twitter

Banyak pengguna Twitter melihat frasa penuh kebencian muncul di daftar trending topic.

Twitter telah menghapus ucapan ini dari sidebar trending-nya. Seorang juru bicara mengatakan kepada Motherboard bahwa frasa tersebut, "seharusnya tidak muncul di trending topic, dan kami minta maaf atas kesalahan ini."

Trending topic ditentukan secara algoritmik, artinya jika ada hashtag atau misalnya nama selebritas yang sering dibahas di Twitter, topik itu akan muncul di daftar trending topic. Tren-tren tersebut ditentukan berdasarkan “siapa yang kamu ikuti, ketertarikan kamu, dan lokasimu,” menurut FAQ Twitter.

Iklan

“Pada kasus-kasus tertentu, kami memblokir konten dari trending topic dan itu yang telah kami lakukan dengan trending topic ini,” ujar seorang juru bicara Twitter. "Ngetren-nya frasa ini disebabkan oleh liputan media dan reaksi-reaksi pada perusakan sinagog di New York. Tetap saja, frasa itu seharusnya tidak muncul sebagai trending topic."

Pada Kamis malam, sinagog Union Temple di Brooklyn dirusak dengan grafiti “Kill All Jews” (Bunuh Semua Yahudi), sebelum berlangsungnya acara yang menampilkan aktris Broad City, Ilana Glazer, jurnalis Amy Goodman, dan kandidat-kandidat senator New York Andrew Gounandes dan Jim Gaughran. Acara tersebut dibatalkan karena isu keamanan. Vandalisme tersebut terjadi tak lebih dari seminggu setelah serangan anti-Semit terburuk di sejarah AS, di mana 11 orang dibunuh di sinagog Tree of Life Congregation di Pittsburgh.

Kesalahan tersebut menegaskan bagaimana Twitter secara pasif bisa menjadi platform yang dapat dimanfaatkan untuk penyebaran ideologi-ideologi rasis. CEO Twitter Jack Dorsey telah membantah reputasi Twitter sebagai “bagian kebebasan berbicara partai sayap kanan,” seperti yang diucapkan mantan manajer Twitter pada 2012. Sudut pandang Twitter mengenai kebebasan berekspresi serta peraturan-peraturannya yang ambigu telah digunakan untuk membenarkan penyebaran kebencian.

Ada sekitar 4,2 juta cuitan anti-Semit telah dibagikan atau di-retweet oleh 3 juta akun Twitter tahun lalu, menurut analisa yang dilakukan oleh Anti-Defamation League. Tampaknya Twitter masih kesusahan mendeteksi ucapan kebencian yang dikodekan, seperti kata “termite” (rayap), yang sering digunakan oleh penganut ideologi anti-Yahudi.

Platform medsos seperti Twitter dan Facebook telah memuji algoritma karena mampu mendeteksi pelecehan, tetapi AI jelas belum bisa menjadi solusi yang terbaik bagi masalah sosmed yang paling berbahaya ini.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard