Alkohol Kearifan Lokal

Sejarah Rasis Tuak Lokal Malaysia yang Kian Terpinggirkan

Toddy, alias tuak dari getah pohon kelapa, tak lagi disukai anak muda. Miras ini sering dicap minumannya buruh biang onar asal Asia Selatan, saat Malaysia dijajah Kerajaan Inggris.
Sejarah Rasis Tuak Lokal Malaysia yang Kian Terpinggirkan
Semua foto oleh Wong Yok Teng

Jarum jam menunjuk angka tujuh pagi itu, di perkebunan piggiran Kota Selangor, Malaysia. Seorang lelaki cekatan menuruni pohon kelapa setinggi tiga meter itu tanpa kesulitan berarti. Dia membawa serta lebih dari satu liter getah bunga di dahan kelapa yang dia sadap malam sebelumnya. Getah itu, berwarna putih kental, adalah bahan utama Toddy: tuak lokal asli Malaysia.

Bahan baku toddy tak harus diambil dari dahan kelapa. Palem ataupun aren juga bisa disadap untuk mendapatkan getahnya. Para penyadap mengincar bunga yang belum mengembang. Sobek sedikit, biarkan getah dari bunga kelapa itu menetes pelan-pelan semalaman ke wadah bambu yang sudah diikat di sekitarnya. Pagi harinya, wadah bambu itu akan sudah dipenuhi cairan bahan baku siap diambil para peracik toddy.

Iklan

Saya mendatangi perkebunan kelapa dan aren yang khusus untuk mendapatkan getah toddy. Kebun ini milik Nava, lelaki paruh baya yang menolak disebut secara lengkap namanya. Saban pagi, orang-orang merosot dari kelapa membawa wadah bambu adalah pemandangan Nava sehari-hari. Dia sudah tak pernah naik sendiri ke pohon, cukup mengawasi buruh-buruhnya saja. Lahan kelapa dan aren itu dia peroleh dari warisan mendiang ibunya, imigran keturunan Kerala, pada 1974. Mendiang ibunya sekarang dikenal sebagai 'Ratu Toddy' oleh masyarakat sekitar. Nava sendiri juga membuka restoran di dekat kebun yang dikelola bersama sang istri. Total ada 300 pohon kelapa dan sebangsanya di kawasan kebun tersebut. Tiap pohon diperkirakan mampu menghasilkan dua liter toddy tiap hari.

Foto oleh Wong Yok Teng

Penduduk Malaysia percaya bila kandungan alkohol toddy yang baru saja disadap dari pohon nyaris nol. Rasanya cenderung manis serta muncul buih seperti saat kalian minum soda. Toddy memang tidak akan langsung memabukkan bila tidak diperam. Seiring waktu, akibat fermentasi, kandungan alkoholnya meningkat drastis. Dalam 48 jam saja, efek toddy bisa sekuat pale ale. Bagi para peracik toddy, sebaiknya minuman keras tradisional ini disajikan dalam suhu ruangan, tak perlu ditambah es. Kalau mau dicampur, cukup dengan bir hitam saja. Tapi ada juga peminum kelas kakap yang mencampurnya dengan irisan cabai atau bawang supaya lebih nendang. Sampai sekarang, peneliti belum menemukan khasiat medis sungguhan dari toddy. Sementara para peminum setianya meyakini toddy dapat menurunkan risiko seseorang mengidap diabetes serta dapat mengobati begah di perut.

Iklan

Di semenanjung Malaysia, toddy mulai banyak diminum sejak 1886. Berdasarkan catatan sejarawan, minuman dari getah dahan kelapa ini dipopulerkan oleh imigran asal Tamil dan Kerala. Dua etnis tersebut didatangkan oleh Kolonial Inggris untuk dipekerjakan sebagai buruh perkebunan. Karena mayoritas dipekerjakan di perkebunan karet, yang di dekatnya selalu ada aren atau kelapa, lama-lama para pendatang asal Selatan anak benua India itu memahami bila getah kelapa dapat dinikmati sebagai miras. Sesudah seharian bekerja keras, malamnya kaum lelaki kerala atau tamil akan menikmati toddy. Bahan bakunya tinggal diambil dari kebun, murah, dan tak perlu proses fermentasi yang merepotkan.

Foto oleh Wong Yok Teng

Toddy memang berkembang menjadi tuak lokal yang populer. Namun, jika menilik sejarahnya sepanjang era kekuasaan kolonial Inggris, latar belakang etnis yang menemukan minuman ini ternyata memicu rasisme. Terutama dalam lahirnya kebijakan pemerintah kolonial yang melarang penjualan toddy. Catatan yang bisa ditemukan menyebut bila larangan mengonsumsi toddy sudah berlangsung sejak awal dekade 1900-an.

Toddy dianggap sebagai minuman yang memicu perilaku kasar para buruh migran dari etnis Tamil atau Kerala. Bahkan, setiap imigran dari etnis tersebut segera dianggap sebagai tukang minum. Toddy tidak sampai dicap sebagai minuman terlarang atau disetarakan seperti candu. Namun pelarangan menjadi sangat massif di awal Abad 20. Berbagai partai politik di semenanjung Malaysia, baik itu yang pro Inggris maupun dari kalangan melayu, mendorong larangan konsumsi toddy di ruang publik. Kebijakan tersebut melahirkan munculnya izin kedai-kedai tuak. Namun kekerasan, orang mabuk, dan berbagai penyakit sosial justru lahir dari kedai semacam itu.

Iklan

Lalu muncul laporan pada 1916, oleh Dr Malcolm Watson, yang diajukan kepada Asosiasi Pengusaha Perkebunan Malaya (PAM). Dia menulis bahwa toddy adalah minuman yang beracun dan mendorong meningkatnya berbagai penyakit. Salah satu alasannya, kuli-kuli Tamil yang gemar minum toddy "memiliki gaya hidup jorok." Keberadaan mereka memicu berbagai penyakit turunan yang menular ke masyarakat lainnya, demikian kesimpulan Watson.

Penelitian tersebut menuding toddy mendorong maraknya diare dan disentri. Masyarakat pun percaya bila orang Tamil, yang dianggap tukang minum, adalah biang keladinya. Fobia toddy, ditambah perlakuan rasis terhadap pendatang asal Tamil, semakin parah di Malaysia di awal Abad 20.

"Toddy adalah minuman aneh yang digemari orang Tamil. Perilaku minum ini jelas dipengaruhi oleh ras mereka," tulis Watson. "Orang Tamil itu bisa kita anggap primitif, jorok, dan sulit diatur. Melihat berbagai temuan ini, menurut saya orang Tamil tidak bisa diajak maju."

Di sisi lain, konsumsi toddy yang berlebihan memang memicu berbagai penyakit sosial. Namun berdasarkan penelitian akademisi Malaysia, Parameswari Krishnan, sikap mendua pemerintah Kolonial Inggris juga berpengaruh terhadap terus populernya toddy. Otoritas kolonial enggan melarang penjualan toddy sepenuhnya, karena hanya ketika buruh migran mabuk, mereka lebih mudah diatur.

“Ketika mereka mabuk, sulit bagi buruh migran asal India itu untuk kabur dari perkebunan," tulis Krishnan di penelitiannya. "Kolonial Inggris menyadari bila budaya mabuk-mabukan, dengan minum toddy, justru cara terbaik agar buruh migran betah menghadapi kondisi buruk di perkebunan milik negara."

Iklan

Aspek lain yang belum disebut adalah fakta bila penjualan toddy sangat menguntungkan pemerintah. Untuk setiap liter toddy yang terjual pada masa itu, dua per lima keuntungan masuk kas negara. Pemerintah menjanjikan bila uang hasil penjualan toddy akan disalurkan ke anggaran khusus untuk meningkatkan harkat hidup para buruh. Hal itu tak terjadi sampai kemudian perubahan muncul pada 1946.

Anggota kongres di Malaysia dari etnis Tamil ataupun Kerala lantas menggalakkan perlawanan terhadap budaya mabuk-mabukan di tahun tersebut. Para politikus dan tokoh masyarakat keturunan India mengajak komunitasnya memerangi semua jenis minuman keras, termasuk toddy. Sesama orang India akhirnya memaksa saudara satu etnisnya yang tukang mabuk untuk berhenti minum. Sempat muncul laporan, pada tahun itu, berlangsung sweeping kedai-kedai toddy. Politikus dan massa yang terlalu bersemangat juga dilaporkan mengintimidasi para pemabuk "untuk bertobat."

Foto oleh Wong Yok Teng

Walau diperangi habis-habisan selama lebih dari tujuh puluh tahun, hingga Malaysia lepas dari kolonial Inggris, toddy nyatanya masih sanggup bertahan. Miras lokal ini gampang kalian temukan di kedai tempat nongkrong orang India. Beberapa restoran Cina tradisional juga masih menjualnya. Memang tetap ada yang berubah akibat upaya melarang toddy. Paling terasa tentu saja orang seperti Nava, pemilik perkebunan sekaligus peracik toddy. Orang seperti Nava makin sedikit saja tiap hari. Dia sendiri tidak yakin masih ada anak muda yang mau meneruskan bisnis mengelola kebun kelapa untuk bahan baku toddy. Karenanya, di masa mendatang, Nava justru pesimis miras ini masih bisa bertahan. "Sekarang jualan toddy sangat berat," ujarnya. "Mau bikin kebun atau meracik minumannya harus dapat izin pemerintah pusat, dan bea cukai juga harus kasih persetujuan."

Iklan

Tak cuma pengusaha yang tergerus. Pemanjat pohon dan penyadap kelapa yang tahu cara mencari getah untuk toddy semakin berkurang. Tinggal orang-orang tua keturunan India yang masih menguasai teknik menyadap toddy. Selain itu, anak muda—bahkan dari keturunan Tamil atau Kerala—sudah tak lagi menyukai toddy. Mereka menganggap tuak tidak keren. Kalah dari moonshine impor semacam vodka ataupun wiski.

Pengusaha tempat minum di Malaysia pun sudah malas menjual toddy, walau sesekali masih ada peminatnya. Alasan utamanya, menurut Shawn Chong yang mengelola bar Omakase, pasokan toddy tidak bisa diprediksi. Kadang ada, tapi seringkali kosong. Chong menyalahkan pola bisnis toddy yang mengandalkan perkebunan dan manajemen keluarga.

foto oleh Wong Yok Teng

“Kualitas toddy di masa sekarang juga makin turun," kata Chong. "Kalau miras impor kan terjaga, sementara toddy tidak pernah serius disentuh regulasi. Makanya mutunya tidak konsisten."

Selain itu, minimnya inovasi dari kebun-kebun tradisional membuat toddy sulit naik kelas. Nasib berbeda sekali dari wiski atau bir yang kadang malah dianggap minuman nyeni karena diolah dengan metode unik oleh bartender.

Nava, di usia menjelang senja, berusaha menghapus berbagai stigma toddy tersebut. Dia mendapat pendukung, misalnya oleh Alvin Neoh, pemilih kafe Narrow Marrow di Penang yang membuat inovasi toddy terasa mirip mojitos. Dia ingin tuak asli Malaysia itu bisa kembali disukai anak muda. Hasil eksperimentasinya mulai membuahkan toddy. Pengunjung menyukai oplosan toddy masa kini yang terasa trendi.

“Toddy selalu dianggap minuman buruh, minuman kelas rendahan. Anak muda yang mengkonsumsi alkohol di Malaysia emoh mencicipinya," kata Alvin. "Ketika kita membuat mojitos berbahan toddy, persepsi mereka berubah."

Satu kafe menjual toddy secara kreatif tentu tidak akan menghapus stigma nyaris seabad tentang Toddy. Namun, buat pemilik kebun, ini langkah awal yang bagus.

"Toddy memang tidak pernah dipasarkan secara kreatif, makanya yang minum toddy tinggal orang-orang tua," kata Nava. Dia hanya berharap anak muda Malaysia tidak sampai melupakan miras lokal yang bahan bakunya bisa mereka dapatkan langsung di Tanah Airnya. Bir atau wiski itu bisa kalian temukan di manapun. Tapi toddy hanya bisa didapat di Malaysia. "Ada tradisi panjang di balik Toddy. Saya ingin orang-orang tidak melupakannya begitu saja."