Main Game di Penjara

Kisah Narapidana yang Tetap Bisa Main Game Dalam Penjara

Mengizinkan penghuni lapas main game justru membuat situasi selalu aman. Banyak napi mudah marah, kecuali ketika digelar kompetisi tanding game FIFA bareng-bareng.
29.7.17
Ilustrasi oleh Sunless Design

Artikel ini pertama kali tayang di Waypoint, situs bagian dari VICE membahas budaya gaming

Februari 2015, Newsbeat, salah satu kolom situs BBC, mengungah sebuah artikel online berjudul "The (surprising) things you're allowed in your prison cell." Dalam artikel tersebut disebutkan beberapa barang yang bebas beredar di dalam lembaga permasyarakatan (lapas) Inggris yang tak diperkirakan banyak orang. Di antaranya peralatan jahit, alat musik dan konsol video game.

Iklan

Video game sejatinya sudah jadi bagian sistem lapas Inggris sejak beberapa tahun lalu. Meski demikian, keberadaan konsol video game di hotel prodeo bukannya bebas dari kecaman. Agustus 2008, surat kabar Daily Mail mencibir pengeluaran dana £221,726 [setara $4 miliar] yang digelontorkan pemerintahan Partai Buruh untuk membeli dan memasang Nintendo dan konsol sejenis di lapas demi menghibur napi. Artikel tersebut menyertakan kutipan pernyataan anggota parlemen berhaluan konservatif, Nigel Evans: "Apakah di lapas dan dibiarkan bermain PlayStation selama lima tahun termasuk proses rehabilitasi atau sebentuk hukuman? Pembayar pajak pasti berang kalau tahu kalau kegiatan macam ini dibiarkan terjadi dalam lapas."

Begitulah, setiap kali berita tentang para narapidana menikmati konsel game online di lapas tercium oleh majalan atau tabloid populer, selalu saja orang yang nyinyir. Tiga tahun lalu, ketika laman Daily Express menurunkan berita bahwa beberapa konsol lama diganti dengan Xbox 360, mereka berhasil menyisipkan dictaphone pada seragam seorang sipir lapas yang identitasnya tidak disebutkan. Hasilnya, sipir tersebut terekam mengatakan "kalau para napi dibiarkan bermain video game, tinggal tunggu barang apa lagi yang bakal masuk ke lapas—TV layar lebar, sofa atau malah napi bisa seenaknya memesan makanan dari dalam sel mereka?"

Laporan seperti ini, serta opini sembrono yang menyertainya, mengabaikan satu hal penting. Konsol game konsol dalam lapas memainkan peranan penting untuk mengalihkan para napi, yang jika dibiarkan tanpa stimulasi, bisa mudah meledak, merugikan napi lainnya atau malah menyakiti diri mereka sendiri. Konsol game membantu para napi tak cuma bergaul dengan sesamanya namun juga membuat masa tahanan yang dijalani terasa lebih ringan. Di sisi lain, konsol membuat para napi menjadi insan yang jauh lebih baik bahkan dari saat sebelum mereka dijebloskan ke lapas.


Baca juga liputan khusus VICE mengenai dunia game Indonesia:

"Ketika kebosanan melanda, orang jadi uring-uringan, gampang naik pitam. Biasanya, pada kondisi seperti inilah perkelahian mudah terjadi," aku Harry Harper. Dia baru saja keluar dari lapas HMP Wealstun, West Yorkshire, empat bulan lalu. Harry dihukum kurungan selama enam tahun karena "memproduksi kokain, memiliki niat menyebarkannya serta beberapa tuntutan lain yang menyangkut kepemilikan MDMA (sejenis ectasy)." Kepada saya, Harry menjelaskan pembagian kelas penjara—kelas A untuk pelanggar kelas berat, kelas D adalah penjara yang lebih terbuka. Harry sendiri mendekam di penjara kelas C. layaknya kelas penjara, napi juga punya semacam ranking yang ditentukan dari sebaik apa tindak-tanduk mereka dalam penjara.

"Kamu bisa jadi napi biasa, napi standar atau napi spesial. Status napi standar didapat kalau kamu bertingkah laku baik. Kalau kamu menunjukkan diri bahwa kamu bisa melakukan lebih dari itu, dan kamu enggak terjerumus menggunakan obat-obatan atau sejenisnya, kamu bakal dapat hak istimewa. Kalau kamu benar-benar bertingkah laku terpuji, kamu bisa sampai status napi spesial. Kamu bisa mendapat kunjungan ekstra tiap bulannya dan kamu bisa mengenakan pakaian kamu sendiri. Aturan tiap penjara berbeda-beda tentunya. Tapi kalau di lapasku sh sih kamu bisa punya konsol di selmu sendiri."

Cuplikan FIFA di Playstation2. Gambar diunggah seizin EA Sports.

Dalam selnya dulu. Harry punya PlayStation 2, jelas bukan konsol yang baru amat, dan satu game yang paling digemari di penjara yang ditempatinya adalah FIFA. "Kami fans berat FIFA di penjara dulu," ucap Harry. "Semua orang memainkannya. FIFA baik untuk menjaga atmosfir penjara tetap kondusif. Kalau kamu mendekam di penjara seperti yang pernah aku alami, di hari kerja, kamu pasti sibuk bekerja di siang hari. Lalu, kami diberi waktu untuk bersosialisasi barang setengah jam di sore hari. Di akhir pekan, kondisina berbeda. Tak pekerjaan yang kami harus lakukan. Waktu luang kami banyak banget. Kalau tak ada komputer yang menyala, kami cuma bisa berjalan mondar-mandir."

"Jadi konsol memang bikin orang sibuk. Kalau kamu berada di selmu, terkunci sendirian di malam hari, semuanya bakal runyam. Kamu memang bisa menyibukkan diri dengan menonton TV tapi ada berapa sih channel TV yang bisa ditonton? Ujung-ujungnya kami karena nonton acara itu-itu doang. Aku biasanya duduk dan menulis. Aku juga membaca karena kebetulan aku lumayan terdidik. Tapi masalahnya, beberapa napi ternyata buta huruf. Mereka tak pernah makan bangku sekolah. Orang-orang macam ini biasanya cenderung melukai diri mereka sendiri. Intinya, kalau rasa sepi mulai datang, pikiran yang tidak-tidak itu biasanya hinggap di otak kita. Jadi, sekali lagi, konsol bikin pikiran kita sibuk, kira-kira begitu menurutku."

Iklan

"Banyak orang merasa hidup terpisah-pisah dalam penjara dan mereka memang ingin hidup sendiri-sendiri. Tapi ketika turnamen FIFA digelar atau kejadian tertentu terjadi, semua orang menyatu. Mereka ngobrol satu sama lain. Kalau dipikir-pikir, turnamen FIFA adalah cara yang efektif untuk mewujudkan kedamaian dalam lapas."

Dan pada kenyataaannya, konsol ini tak begitu saja dibagikan pada para Napi. aturannya jelas: kalau kamu punya PS2 (atau bahkan konsol yang lebih keren) di selmu agar malam-malammu tak lagi sepi, kamu harus bekerja keras mendapatkannya.

Cuplikan game Prison Architect. Gambar diunggah seizin Introversion Software.

"Aku memulainya dengan bekerja di laundry. Lalu, kami melayani kerja kontrak dari luar, mencuci sprei hotel dan sebagainya," jelas Harry. "Setelah itu aku dapat semacam kualifikasi di bidang IT dan jadi mentor departemen IT penjara, bantu-bantu napi lainnya. Jadi enggak benar kalau kami dalam penjara kerjaannya cuma duduk-duduk dan main PlayStation setiap hari. Begitukan cara pikir para kritikus di luar sana, ya kan? Padahal, video game ini sangat berguna bagi kesehatan dan masa depan para napi. Kami hanya bisa menikmati video game jika kami bertingkah laku baik. Video game adalah imbalan atas iktikad baik kami untuk berubah dan tak lagi melakukan tindakan kriminal setelah keluar dari penjara."

Harry tentu saja tak punya niatan untuk kembali ke penjara cuma buat main FIFA. itu pasti. Namun, yang bikin penasaran adalah apakah Harry bakal menjagal Prison Architect, game tentang pembangunan dan manajemen penjara keluaran Introversion Software yang berhasil mengumpulkan $10 juta [setara Rp132 miliar] lewat pre-order. "Gameplaynya mirip Theme Hospital?" ya bisa dibilang begitu. "Kalau begitu aku akan belu sendiri. Game ini sepertinya bakal menggambarkan bagaimana rasanya hidup dalam penjara. Penjara itu organisasi yang besar dan semua orang diawasi di dalamnya."

PlayStation serta konsol game sejenis, setidaknya berjasa membuat hidup dalam lapas sedikit lebih berwarna.