Sepakbola

Laporan Independen Tunjukkan Betapa Korup FIFA dan Panitia Piala Dunia

Laporan dari Michael Garcia menunjukkan berbagai indikasi korupsi dalam proses pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022. Berikut rangkuman kami buat kalian.
7.7.17
Logo asli via Flickr digabung dengan ilustrasi Wikimedia Commons/VICE Sports Illustration

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports.

Sehari setelah seorang reporter dari surat kabar Jerman BILD mengaku telah memeroleh salinan laporan Michael Garcia tentang tuduhan korupsi dalam bidding Piala Dunia 2018 dan 2022, FIFA segera mengeluarkan versi penuh dari laporan tersebut. Garcia, yang menjabat sebagai ketua badan investigasi FIFA Ethics Committe, mengundurkan diri sebagai bentuk protes setelah FIFA menerbitkan rangkuman 42 halaman dari keseluruh laporan yang berjumlah 430 halaman, tiga bagian yang membersihkan tuduhan akan korupsi dalam penetapan Rusia dan Qatar sebagai penyelenggara Piala Dunia 2018 dan 2022. Saat memutuskan mengundurkan diri, Garcia mengatakan bahwa rangkuman laporan itu berisi "representasi fakta yang keliru serta kurang lengkap." kini, setelah bisa membaca laporan itu secara menyeluruh, kita bisa melihat kesalahan-kesalahan dalam rangkuman tersebut.

Iklan

FIFA menerbitkan tiga dokumen terpisah: laporan utama yang banyak membahas mengenai pengajuan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, dokumen terpisah tentang pengajuan Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 dan satu lagi tentang tawaran Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Baik pengajuan Rusia dan Amerika Serikat ternyata bersih dari korupsi, sementara beberapa tawaran lainnya terlihat mencurigakan. Kami mulai dari Qatar dan Australia. Kami akan terus menurunkan tulisan mengenai laporan ini segera setelah kami kelar membedahnya.

Keterlibatan Pemerintah Qatar

Penyelidikan mengenai keterlibatan pemerintah Qatar , yang dalam laporan ditemkan mulai halaman 164, membeberkan apa yang diduga sebagai sebuah kongkalikong yang melibatkan penjualan gas alam cair sebagai imbalan bagi dukungan Asosiasi Sepakbola Thailand terhadap Mochamed Bin Hammam dalam pemilihan Presiden FIFA 2011 dan pengajuan diri Qatar sebagai tuan rumah piala dunia 2022. Bin Hammam didepak dari ajang pemilihan presiden FIFA pada bulan mei 2011 setelah diduga menerima suap. Sejak saat itu,Bin Hammam dilarang bersentuhan dengan segala yang barbau FIFA selamanya.

Laporan FIFA mencatat kentalnya keterlibatan pemerintah Qatar dalam pengajuan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Pemerintah Qatar terbukti mengirim nota berisi himbauan "bagi seluruh kantor kementerian, institusi pemerintah, organisai dan lembaga publik untuk 'bekerja sama' dengan komite yang mengurus pengajuan diri Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia, termasuk di dalamnya membantu komite tersebut 'mengatasi' segala 'masalah.'" Meski penyelidikan tak mengungkap adanya keterlibatan pemerintah Qatar secara langsung, ada banyak bukti keterlibatan beberapa perusahaan milik negara dalam proses bidding.

Iklan

Secara panjang lebar, laporan Garcia membahas tentang kasak kusuk yang dilakukan oleh Joe Sim, yang dianggap sebagai "penasihat utama" Presiden Asosiasi Sepakbola Thailand dan anggota Komite Eksektif FIFA Worawi Makudi. Kendati jabatan Sim tak pernah benar-benar jelas, dalam laporan disebutkan bahwa Sim punya kedekatan dengan Makudi dan kerap menemaninya dalam pertemuan resmi Asosiasi Sepakbola Thailand. Di sanalah, Joe Sim dikenalkan sebagai seorang "penasehat". Investigasi yang telah dilakukan dengan keras menuduh Sim terlibat dalam negosiasi dengan Qatarqas, sebuah BUMN Qatar, agar mau menurunkan harga gas alam cair sebagai imbalas atas dukungan Asosiasi Sepakbola Thailand dalam kampanye Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

Sim juge mem-bcc email di atas pada asisten di Bin Hammam.

Sim lantas mengaku pada investigator yang diutus Garcia bahwa email di atas bertujuan untuk membahas kemungkinan Qatarqas menjadi sponsor timnas Thailand dan tak ada sangkut pautnya dengan penjualan gas cair. Namun, laporan Garcia mengindikasikan bahwa PTT Public Company Limited, perusahaan energi negara Thailand, tengah berusaha melakukan negosiasi ulang dengan Qatargas.

Seperti yang tercantum dalam catatan kaki nomor 1081, tiga bulan sebelum Sim mengirim emailnya, PTT tengah berusaha menego ulang sebuah kesepakatan yang sebelumnya berlaku karena terjadi penurunan harga gas dunia. PTT ingin menggunakan harga yang berlaku saat ini, alih-alih harga yang disetujui sebelumnya. Tujuh bulan setelah Qatar ditetapkan sebagai tuan rumah Piala Dunia, Qatar menjual gas alam cair pada PTT dengan harga terbaru di pasaran dunia.

Karena temuan ini dan beberapa inkonsistensi antara beberapa pihak yang terlibat, laporan Garcia menyimpulkan "bahwa sekilas, email Joe Sim pada bulan Agustus 2010 kepada Kepala Qatar Petroleum, dan di-bcc ke asisten Bin Hammam, menunjukkan bahwa kontrak penjualan gas alam cair antara kedua negara dinegosisasikan melalui kanal sepakbola," dan mengusulkan penyelidikan lebih lanjut terhadap Makudi jika diperlukan mengingat jabatannya sebagai presiden Asosiasi Sepakbola Thailand dan anggota Komite Eksekutif FIFA.

Australia Dikadali 'Orang Dalam FIFA' Saat Maju Untuk Piala Dunia 2022

Australia adalah negara yang mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia yang tak memiliki perwakilan dalam komite eksekutif. Ini jelas tak menguntungkan Australia. Sebagai pemecahannya, Australia berusaha membeli "orang dalam", menurut yang laporan Garcia. Satu bagian dari laporan bahwa Australia dalam usahanya mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 berusaha mendapatkan dukungan Franz Beckenbauer dengan menyewa Fedor Radmann, tangan kanan Beckenbauer, sebagai konsultan. Menurut keterangan orang dalam FIFA, peran Radmann dalam hubungannya dengan Beckenbauer berganti-ganti antara teman, rekan bisnis, ajudan hingga partner melancong. Laporan Garcia secara meyakinkan menunjukkan bahwa Radmann dipekerjekan karena kedekatannya dengan Beckenbauer.

Sebelum menjadi penasihat komite Australia, Radmann tercatat pernah menawarkan "jasanya" sebagai konsultan bidding, seperti yang diungkapkan anggota komite AS dan Inggris. Namun, kedua komite menolak penawaran Radmann. Jadi jelas, beberapa orang di FIFA mengerti bahwa menyewa teman dekat salah sat anggota Komite Eksekutif adalah langkah yang gegabah.

Rupanya, pihak Australia paham betul hal ini namun mereka berusaha menutupinya komite pengajuan Australia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 akhirnya menyewa jasa Radmann sebagai seorang subkontraktor melalui sebuah firma lain, langkah yang dinilai Garcia sebagai cara untuk menyamarkan keterlibatan Radmann dalam proses bidding yang dilakukan Australia (meski menurut komite Australia, langkah itu diambil demi "alasan pajak.") terlepas dari masalah pengemplangan pajak, komite bidding Australia menggunakan kode dan menyebut keduanya (Franz Beckenbauer dan Fedor Radmann) dengan inisial "F&F" dan beberapa alias lainnya yang didiktekan via daftar alias yang diberi password. "Aku tak menyangka bakal membaca emailku dalam sebuah surat kabar," ujar Peter Hargitay, seorang bid strategist sekaligus orang kepercayaan Sepp Blatter, pada seorang koleganya.

Selama proses negosiasi, Hargitay selalu mem-bc segala email (meski anehnya, dalam beberapa email, namanya disebut). Pada bulan Oktober 2009, salah satu anggota komite australia tak sengaja men-cc Radmann sehingga semua orang yang menerimanya tahu bahwa Radmann dalam daftar penerima email. Menurut laporan Garcia. "Hargitay membalas email itu dengan geram: 'jangan masukan Fedor dalam penerima email!!! Kalian TAK BOLEH melakukan itu. Itu berbahaya bagi apa yang sedang kita lakukan.

Meski laporan Garcia tak pernah ragu menyalahkan keterlibatan Radmann dalam proses penentuan tuan rumah Piala Dunia, laporan itu tak menarik kesimpulan jelas tentang pengaruh menyewa Radmann terhadap pilihan Beckenbauer. Beckenbauer menolak mentah pengajuan AS dan Inggris—jelas wong teman dekatnya tak disewa kedua negara ini—namun laporan Garcia hanya menyediakan sedikit bukti bahwa Beckenbauer melobi untuk keuntungan Australia. Beckenbaur sendiri menyangkal memberikan suara untuk Australia, yang hanya memeroleh satu suara. Pria yang pernah berjuluk Der Kaiser itu juga menolak membeberkan pilihannya pada laporan Garcia.

Sementara itu, Hargitay menunjukkan ketidaksukaannya pada pengajuan diri Qatar dalam email kepada Blatter dan memforward korespondensinya dengan komite Australia guna menunjukkan bahwa dia punya koneksi dengan orang dalam. Sayangnya, tak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa tindak-tanduknya ini mempengaruhi hasil voting lantaran Australia cuma dapat satu suara.