Rank Your Records

Eka Annash Menyusun Daftar Album The Brandals Favoritnya

"Gue berusaha membuat chart berdasarkan relasi personal gue dengan masing-masing album."
10.6.17
Foto dari arsip The Brandals.

Eka Annash adalah vokalis dan leader dari The Brandals a.k.a. BRNDLS, salah satu band yang menjadi pionir skena musik independen Jakarta awal 2000-an. Setelah menjadi satu dari dua vokalis di grup punk/ska/dance underground Waiting Room era 90-an, Eka pergi ke Australia untuk kuliah lagi, sebelum akhirnya kembali ke Jakarta dan menjadi vokalis The Motives, grup yang digawangi oleh adiknya, almarhum Rully Annash, bersama beberapa sahabat dekat. Kehadiran Eka mirip seperti dampak masuknya Noel Gallagher ke band adiknya, Liam; peran Eka merombak The Motives menjadi The Brandals mengubah segalanya. Dengan attitude dan image rock'n'roll yang terasa nyata dan berbahaya, dibarengi musik yang merujuk legenda-legenda yang "tepat" (The Stooges, Velvet Underground, P.I.L, hingga Prince), Eka membawa The Brandals menjadi satu dari segelintir band lokal yang sampai sekarang masih memberikan kesan realness, menelanjangi seluruh jiwa raga mereka di panggung sebagai pengkhotbah rock n' roll terbaik di negara ini.

Iklan

"Buat gue pribadi, semua album Brandals adalah favorit. Engga adil rasanya ngebandingin satu sama lain atau milih mana yang lebih baik," kata Eka ketika diminta VICE Indonesia mengurutkan album The Brandals terbaik versinya. "Kayak disuruh milih anak kandung mana yang paling disayang. Hampir mustahil, karena semuanya jadi satu rangkaian perjalan panjang proses kreatif band dan personelnya. Klise, tapi memang kayak gitu rasanya."

Syukurlah, setelah beberapa kali ngobrol, Eka akhirnya bersedia menyusun daftar ini. Gue berusaha membuat chart berdasarkan relasi personal gue dengan masing-masing album. Ada yang kurang setuju mungkin dengan urutan yang gue buat, that's OK. Make your own version then drop it on The Brandals FB page."

4. Audio Imperialist (Flystation Records/ Warner Music Indonesia), 2005

Dari awal proses pembuatan, kita engga ngerasain 'sindrom album ke-2' yang banyak dilaluin banyak band, di mana mereka merasa tertekan atau stress karena harus membuat album lebih baik dari sebelumnya. Kita tau kalo materi kita lebih bagus dari album pertama. We were that confident, at the top of our game. Setelah tur album pertama, kita jadi band yang lebih kompak dan fokus. We were a well-oiled war machine. Lagu-lagu baru mengalir deras sampe kita kebingungan mau milih yang mana untuk dimasukkan dalam album baru.

Materi yang dikumpulin lebih eklektik, seolah mau nunjukkin kalo The Brandals ngga cuma band Rock n Roll. Ada Rockabilly (lagu Career Crackin'), Funk (New World Declaration), Psychedelic (Disorder/Disharmoni), Merseybeat (Dari The Brandals Buat Yang Bercinta) dll. Di kepala kita, pengen bikin album kayak Sandinista! (The Clash) dimana mereka bereksperimen ngaduk berbagai elemen dan dirangkai jadi satu perjalan panjang intens dibagi dalam tiga album sekaligus.

Iklan

Disini kita pertama kali dibantu produser Levi Santoso dan Ade Kin, basis dan gitaris The Fly yang menawarkan servis untuk memproduksi album dibawah label mereka Flystation Records. Kita juga dibantu banyak teman-teman musisi kayak Kartika Jahja, Adrian Adioetomo, Johan Tambunan sampai Abdee Slank menyumbang slide maut-nya. Walaupun diperkuat materi solid dan ambisius, sampai sekarang kita masih menganggap kalo sound yang dihasilkan terlalu 'bersih', tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. But then again, maybe that was what eventually created the mass appeal. Dibantu Warner Music Indonesia, album ini jadi yang paling laris dan paling luas distribusi-nya. Periode ini juga jadi puncak exposure The Brandals ke audience yang lebih luas. Demand untuk publik juga tinggi. Beberapa kali kita manggung di 3-4 kota dalam satu weekend. We were at our peak, living the rock n roll cliché. Not knowing it'll only going downhill from there.

3. Brandalisme (Aksara Records), 2007

Album paling personal buat gue karena di periode ini melalui beberapa masalah pribadi yang lumayan bikin depresi - bapak wafat, failed relationship, sahabat wafat, dll. Album ini juga jadi perpisahan (gitaris) Bayu dan (bassist) Dodi yang memutuskan untuk berkeluarga. Tapi masalahnya sudah timbul sejak sebelum rekaman. Satu hal berharga yang gue pelajarin setelah melalui periode ini adalah kalo mau band lo maju, ngga bisa setengah-setengah. Harus total fokus kerahin semua tenaga, waktu dan pikiran. I mean, you don't have to prioritize it 24/7. But it needs a constant push and when you get into that mode, you can't afford to do it half-heartedly.

Di titik ini mayoritas personil udah pada kerja dan punya pacar. Otomatis fokus pecah dan jadi bibit melambatnya pergerakan dan operasional. Belum lagi masalah ego. Some members of the band thought they could stand on their own two feet and decided t(that) hey didn't need the band anymore. Which was sad, since it was actually The Brandals that gave them that voice at the start. Akhirnya jadi banyak friksi dan argumen. Manggung jadi cuma kayak rutinitas. Rekaman males-malesan. Sering banget sesi rekaman cuma dihadirin 1-2 personil yang take.

Iklan

Diluar masalah internal, kita masih bisa bikin materi yang menurut gue lumayan kuat. Lagu kayak 100% Kontrol, City Boy dan Restless were great bangers. They were instant hits for our fans. Beberapa lagu yang gelap atmosfir-nya juga jadi favorit personal gw karena jadi medium katarsis buat nulis masalah personal. Everytime I listen to this album, it'll take me straight to those troubled times when I wrote the lyrics. Which makes me even more appreciative now in hindsight, knowing that I've had survived one of the toughest period of my life. Although much more heavier clouds are still yet to come.

Simak wawancara VICE Indonesia dengan The Brandals mengenai keputusan reuni dan proses pengerjaan album terbaru mereka

The Brandals - self titled (Sirkus Records/ RnB Records), 2003

Banyak fans mengganggap ini album terbaik kita. To some extent, maybe it was. It was a perfect album for a perfect time. Setelah hampir 3,5 tahun absen dari musik karena kuliah, gue balik ke Jakarta tahun 2002 melihat scene musik lokal yang mati suri. Hampir ngga ada band Rock substansial yang bikin statement. Terus gw liat The Upstairs di event Bakar-Bakaran IKJ dan itu jadi momen inspiratif banget. Ternyata ada band Post-Punk di Jakarta dan bikin jadi pengen nge-band lagi. Setelah beberapa kali gagal mulai proyek baru, akhirnya diterima jadi vokalis band almarhum adik gue dan it was a match made in heaven. They're all young, angry and hungry. They'd make a perfect human time bomb. So I laid down my plan and they just ate it up. We were ready to war.

Dengan misi jadi band yang ngebawa berbagai masalah Jakarta dan dimuntahin di panggung (terkadang secara literal muntah beneran), kita mulai gerilya. Pake bahan bakar berbagai substansi, lagu demi lagu mulai dibikin. Semua berjalan cepat kayak kereta. Awal 2003 kita rekaman di Doors Studio, Pisangan Jakarta Timur. dengan segala keterbatasan biaya, teknis dan skill. Ngga ada satupun yang tau sisi teknikal memproduksi album. Gw pernah produksi dua album bersama Waiting Room, tapi cuma sebagai vokalis. Jadi praktis ngga pernah ngurusin tetek bengek sound atau teknis. Kita semua buta. Cuma dibantu engineer Mas Yuli Fox dan Giox (sekarang basis Superglad). Tapi dari teknik primitif ini lahir sound unik Brandals yang sampe sekarang kita-pun bingung mau duplikasinya gimana.

Iklan

Desember 2003 album 'The Brandals' akhirnya dirilis tepat di saat renaissance independent music scene Jakarta awal 2000-an yang dimulai dari band kayak The Upstairs, Sajama Cut, Seringai, The Miskins, dll. Although at first, we didn't even know there was a scene. We were on our own. Dari awal, kita menggempur sirkuit pensi, pesta kampus, gig kolektif, acara komunitas dsb dengan misi membawa wajah Jakarta yang liar, agresif dan kotor. Banyak penonton dan panitia yang terlalu tolol bereaksi negatif mengira misi kita ngga lebih dari provokasi murahan dan antagonis berlebihan, but we didn't give a toss. We had a bit of a reputation back then, which means the mission were accomplished. They (the audience) didn't realize they were looking reflection of themselves and couldn't handle the truth. Lalu kita diajak manggung oleh sahabat kami Eunice Nuh di sebuah klub kecil bernama Bar Blues di Jl. Sidoarjo Menteng, and the rest is history.

Menegok belakang ke era ini selalu membawa gelombang nostalgia. It was definitely the best time in The Brandals. We were a family. A gang (as a band should). We were fearless and always up to no good. Although it didn't last long, but I've always fond of these times.

1. DGNR8 (Sinjitos Record), 2011

The album that put The Brandals back into shape and into the ring and we have to thank Joseph Sariyuf for that. Di album ini kita ngerasain kerja bareng produser yang ngebuka pintu eksperimen yang tadinya kita pikir ngga eksis. Setelah nyaris tumbang tinggal ber-3, akhirnya ketemu (gitaris) PM dan (basis) Radit yang menyelamatkan kita terus menyuntikkan energi baru. Personil baru pastinya karakter musik baru juga. Kita memutuskan untuk berubah sekalian. Mulai dari musik, image, sampai nama. There's no particular reason, we just thought it was a new chapter, so we should re-introduce the band to a new audience. Dan kita memang sengaja bikin album ini sebagai pembelah opini. Either you're with us or you don't. This album represents progress. If the old fans want the old Brandals, they could fuck-off and listen to our first 3 albums. I mean, which band would want to stay the same after almost a decade? It's fucking boring right?

We worked hard for this album. It's great to have a producer involved and giving us inputs and options. Eventually we've become a different band. Different animals. Di dalamnya masih tetap The Brandals but we shed our old skin and revealed the new one. It's like starting all over again. Awalnya semuanya menantang banget. Kita pake alat dan instrumen digital baru yang perlu waktu untuk dipelajarin dan diadaptasi. Rully mulai belajar dengan backing track dimana presisi beat harus benar-benar pas. And he was literally our heartbeat. Kita bermain berdasarkan tempo yang dia mainin. It was very discipline and very technical. And of course it got boring after a while.

Kita kembali ke kebiasaan jelek lama di mana kalo ada isu atau masalah, we tend to sweep it under the carpet and pretend it wasn't there. Lama-lama menumpuk dan menghalangi proses kreatif bikin materi baru. Kondisi jenuh, kita memainkan lagu yang sama di setiap gig juga jadi faktor memburuknya komunikasi. Pada akhirnya semuanya kembali menghitam dan membawa ke titik nadir. Some members of the band thought they are better than slice bread and putting on extreme display of superiority attitude. Including me probably. Ditambah masalah manajerial yang memburuk, akhirnya kita memutuskan vakum. Lalu terjadi tragedi yang tidak terbayangkan sebelumnya dini hari 27 November 2015. Kita harus kehilangan Rully.

At the moment we are giving it another shot at making music again. It's gonna be tough and we can't guarantee it'll work. But we're trying. Everyone in the band had been through major life-changing event and it feels like we are evolving again as a band. The fact that we still carry on after we got knocked down by death, ego tripping, and strings of unfortunate events and tragedies was a bit of a miracle. So let's hope there will be album #5 sometimes this year.