Thurston Moore Hadirkan Rock N Roll Spiritual di Era Trump
Musik

Thurston Moore Hadirkan Rock N Roll Spiritual di Era Trump

Album baru gitaris sekaligus pendiri Sonic Youth ini terdengar bagaikan secercah cahaya dalam kegelapan.
21.6.17

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey.

Empat minggu yang lalu, Thurston Moore manggung di Music Hall of Williamsburg di Brooklyn. Gitaris legendaris itu mengenakan celana jins hitam dan kemeja putih berkancing longgar, memainkan gitar Fendernya yang sudah babak belur. Dia ditemani drummer Steve Shelley (Sonic Youth), bassis Deb Googe (My Bloody Valentine), dan James Sedwards, seorang "pemain gitar ganas berteknik tinggi yang terpengaruh oleh Glenn Branca dan Jimmy Page"—deskripsi yang diberikan Moore saat saya wawancarai lewat telepon.

Iklan

Mereka tengah menjalani tur perayaan album solo terbaru Moore, Rock N Roll Consciousness, dirilis bulan April lalu. Album ini, menurut rilisan pers, menyajikan "kasih antara malaikat, mistisisme dewi-dewi dan kepercayaan akan penyembuhan lewat kelahiran kembali." Ini adalah album solo kelima Moore dan album kedua atas nama The Thurstoon Moore Group—kuartet yang terdiri dari kumpulan all-star yang menemaninya manggung di Brooklyn.

Highlight dari set tersebut adalah lagu epik berdurasi 12 menit yang juga menjadi lagu pembuka album, "Exalted." Dimulai oleh permainan gitar Sedwards yang lambat laut semakin naik iramanya, kemudian disambung dengan duet petikan gitar Moore dan Sedwards, seakan sedang berdialog dalam harmoni. Kombinasi chord-chord ini sangat kompleks dan luar biasa, terdengar seakan-akan mereka turun dari surga.

Sedwards kemudian masuk ke bagian solo, membawa lagu ke ranah noise yang agresif. Moore menyanyikan potongan lirik tentang dewa-dewi sebelum mereka berdua menutup lagu dengan note tinggi gemerincing seperti angin yang sedang bertiup. "Exalted," secara keseluruhan adalah entitas unik yang sanggup menyajikan kegelapan dan cahaya, mengingatkan kita akan teknik gitar 12-senar Jimmy Page dan simfoni epik Glenn Branca.

Moore, tentu saja, paling dikenal sebagai, vokalis, penulis lagu, dan gitaris Sonic Youth—bandnya yang sudah berumur 30 tahun, ditemani oleh Lee Ranaldo, Kim Gordon dan Steve Shelley.

Iklan

Di awal karirnya, baik Moore dan Ranaldo bermain dalam ansambel gitar Glenn Branca. Sang komposer legendaris itu akhirnya merilis Sonic Youth EP (1982) lewat labelnya yang kini sudah tidak aktif, Neutral Records. Lewat kolaborasi ini, Moore mengadopsi teknik gitar eksperimental yang nantinya menjadi ciri khas Sonic Youth dan menjadi pembeda antara musik seni dan musik pop, subkultur dari mainstream.

Selama hampir 4 dekade, Moore bernaung di dalam ruang tanggung antara musik underground dan musik trendi. "Ada semacam dinamika kritis dimana berbagai subkultur justru menjadi dasar dari musik mainstream," katanya ke saya. Dan biarpun dia masih bukan tergolong bukan musisi "mainstream," dedikasinya terhadap musik-musik underground telah menciptakan warisan yang hampir sama besarnya dengan musik populer. Di 2012, SPIN meletakkan duo Moore/Ronaldo di puncak daftar 100 pemain gitar terbaik dunia, sebuah appresiasi yang menandai pergeseran tektonik hasil kerja keras mereka di musik berbasis gitar.

Rock N Roll Consciousness, secara musik dan konsep, merupakan sejarah dari semua elemen yang menyebabkan pergeseran tersebut. Chord raksasa ala-Branca di lagu "Aphrodite." Momen doom ala Swans di "Exalted." Lagu "Smoke and Dreams" yang penuh melodi dan enak di kuping, mengingatkan kita akan album solo Moore. Bagian noise rock penuh disonan, dipersembahkan dengan presisi eksperimentalisme akademik dan penolakan terhadap tradisi dan bentuk ala punk (album ini berisi 5 lagu dengan durasi 42 menit). Namun alih-alih nihilisme, Moore justru mengadopsi sikap forward-thinking terhadap musik millenial, dan yang terpenting, elemen spiritualitas—sikap yang selalu diterapkan Moore dalam karyanya.

"Album ini bukan sesuatu yang saya bisa artikulasikan ketika masih berumur 20-an—atau bahkan 30-an—tapi secara retrospeksi, saya sadar bahwa dulu inilah yang saya coba lakukan," kaya gitaris berumur 58 tahun tersebut. "Menciptakan album berjudul Rock N Roll Consciousness itu seperti lampu bohlam yang menyala seakan berteriak: 'Nah, emang beginilah gue ini!'"

Rock N Roll Consciousness, selain menjadi bentuk proklamasi ekspresi artistik Moore, juga merupakan bentuk kesadaran akan mereka-mereka yang mengikuti jejak yang serupa. "Ini semacam ide yang dirasakan banyak orang, tidak peduli apa ideologi atau agama mereka," jelasnya. "Saya sudah bertemu banyak jiwa kreatif yang cenderung agnostik dalam hal spiritualitas, tapi mereka memiliki semangat yang sama, semacam manifestasi dari hal-hal yang mereka tidak percayai," jelasnya sambil tertawa.

Iklan

Hanya segelintir musisi yang bisa menyentuh ranah 'semangat' ini: John Zorn, Yoko Ono, Thomas Pynchon, Richard Hell, Chuck D, Spike Jonze, Michael Gira, John Paul Jones, Merce Cunningham—sosok yang menyentuh kita, tidak peduli afiliasi. Menggunakan semangat sebagai inspirasi juga sesuai mengingat rock 'n' roll dibangun berdasarkan spiritualitas. Musik gospel, blues, dan jazz—penyumbang terbesar terhadap kebangkitan musik rock—semua dikembangkan dari jenis musik yang disebut "spirituals." Musik rock 'n' roll di 50an dan 60an yang menjadi hiburan remaja mainstream dikembangkan oleh generasi counter culture, dan akhirnya diserap oleh Moore menjadi semangat spiritual ini. Dengan menggunakan pendekatan berbasis semangat ini—sesuatu yang kita semua punya—Moore memberikan musik eksperimentalnya aksesibilitas bagi orang lain. Dia berhasil membuat counterculture menjadi sumber energi positif bagi semua orang tanpa mengurangi rasa perlawanannya.

Rock N Roll Consciousness direkam tahun lalu dan dicanangkan untuk dirilis sebelum hasil pemilu AS dirilis November 2016. Setelah Donald Trump menang, Moore merasakan perubahan di iklim sosial yang semakin panas dan menunda perilisan album hingga musim semi tiba. Mengingat tema album ini adalah energi dan "kebangkitan di musim semi", keputusan ini masuk akal, dan sesuai dengan "bahasa counterculture" yang selalu memainkan peran penting dalam oposisi politik.

Moore ngobrol dengan saya penuh gairah tentang demokrasi Amerika yang "baru saja diambil alih oleh seorang dukun"—menunjukkan keterlibatan pribadi dalam politik. Dia ikut turn dalam Women's March di Washington dan aksi protes ketika Trump terpilih beberapa waktu sebelumnya. Biarpun kini keadaan sudah berubah, dia menyadari bahwa dia tetap dikelilingi oleh komunitas orang-orang dengan semangat yang sama.

Mungkin inilah perbedaan manusia yang paling mencolok: ada mereka-mereka yang hidup berdasarkan semangat dan mengelilingi diri mereka dengan jiwa-jiwa yang serupa, dan ada juga yang tidak. Mengingat perilaku regresif super-maskulin dan memihak kulit putih yang ditunjukkan administrasi Trump dalam enam bulan terakhir, album baru Moore , presentasi dari "kasih radikal" dan "aksi positif" merupakan sebuah pernyataan politik karena menyediakan sebuah lensa ke dalam hilangnya spiritualitas dalam politik. Sebuah pemerintahan yang memecah keluarga, memuja ketamakan, dan merusak iklim sosial sudah pasti tidak mementingkan spiritualitas. Dengan cara merujuk ke sejarah namun tetap sadar untuk terus melangkah maju—melewati Branca, Sonic Youth, dan banyak seniman obscure hebat lainnya—Rock N Roll Consciousness memberikan kita formula untuk melanjutkan perjuangan bersama-sama: sejarah bisa menjadi sumber informasi, tapi tidak bisa mendefinisikan kita.

Keagon Voyce adalah penulis lepas berbasis di New York. Follow dia di Twitter.