Terorisme

ISIS Mulai Sembarangan Mengklaim Semua Insiden Terduga Teror di Dunia

Kasus penyanderaan di Kota Melbourne pekan ini menunjukkan ISIS kemungkinannya tipis terlibat, tapi langsung mengaku bertanggung jawab. Tren yang meresahkan.
7.6.17
An SOG officer outside the Brighton property

Awal pekan ini, seorang warga Australia berdarah Somalia, Yacqub Khayre, membunuh dua oang dalam sebuah pengepungan dalam sebuah bangunan apartemen di kawasan Brighton, di pinggiran kota Melbourne. Pada selasa pagi, Negera Islam Irak dan Syam (ISIS) segera memplokamirkan Khayre sebagai "prajurit negera Islam". ISIS yang bertanggung jawab atas sebuah serangan dengan perencaan ala kadarnya dan berakhir tragis di sebuah wilayah yang tak begitu terkenal di Australia bisa dibilang hal baru yang dilakukan ISIS. Dalam sudut pandang lain, ini tindakan putus asa dari ISIS. Susah membayangkan jika ISIS benar-benar berada di balik serangan tersebut, meski kecepatan munculnya pertanyataan pertanggungjawaban atas serangan tersebut menunjukkan ISIS punya akses terhadap software monitoring media termaju saat ini.

Iklan

Menurut pakar counter-terorisme dan radikaliasi Islam dari ANU Dr Clarke Jones, ini adalah masalah yang harus kita hadapi. "Saya selalu khawatir ketika saban kali aksi ekstremisme, kekerasan dan terorisme terjadi, kita akan otomatis mendapatkan pernyataan dari ISIS bahwa mereka bertanggung jawab. ISIS sepertinya menanti-nanti tindakan kekeraan seperti ini agar mereka bisa segera mengklaim. Ini dilakukan guna memberikan kesan bahwa ISIS adalah sebuah grup monolotik yang besar…sebuah organisasi teror besar yang memiliki link di setiap negara," ujarnya pada VICE.

"Negara Islam adalah sesuatu yang harus kita khawatirkan. Pejihad asing yang kembali masuk, itu juga masalah. Tapi, mereka juga menciptakan kesan bahwa ISIS jauh lebih besar dari sebenarnya. Dan kita termakan taktik ini."

Ada sebuah tren khas di balik fakta bahwa ISIS bertanggung jawab dalam insiden penyekapan di Melbourne. Belum jelas apakah kejadian ini punya peranan langsung dalam bom bunuh diri di Manchester dan insiden penusukan di London. Meski demikian, ISIS tetap saja lekas mengaku menjadi dalang di balik insiden di Melbourne. Masalahnya, media dan para politikus langsung panik menanggapi pernyataan mereka. Malcom Turnbull, misalnya, langsung menyebut aksi Khayre sebagai "serangan teroris."

Dr Jones menjelaskan bahwa klaim ISIS atas serangan yang belum tentu punya kaitan dengan mereka akan membuat organisasi teroris itu lebih menyeramkan sekaligus kurang berbahaya. ISIS jadi lebih berbahaya karena imej adalah segalanya bagi organisasi teror dengan reputasi besar. Mengklaim bertanggung jawab atas setiap aksi ektremis sinting di berbagai belahan dunia, hingga ke pelosok Australia, adalah langkah humas yang bagus. Serangan-serangan yang sebenarnya tak berkaitan dengan ISIS juga sebenarnya lebih berbahaya karena tak susah dideteksi dan pada akhirnya dicegah. Aksi-aksi ini tak diorkestrasi dari gua-gua di gurun negara Arab sana: serangan-serangan ini bisa muncul di mana saja, dar Manchester hingga Melbourne. Tak jejak yang bisa diikuti.

Iklan

Di sisi lain, fakta bahwa ISIS tak mendalangi serangan ini, tak cuma koar-koar mengakuinya setelah serangan terjadi, menunjukkan bahwa rangkaian aksi ini bukanlah konspirasi global untuk menjungkalkan demokrasi barat—seperti yang sering dipercaya olehDonald Trump atau Pauline Hanson.

"Jika melihat ideologi yang dianut oleh ISIS, mereka ingin memecah belah…dan apa punya kita lakukan dalam merespon tindakan mereka justru menciptakan perpecahan..kemunculan kaum konservatif kanan menciptakan semacam hype terkait hal ini, padahal ujung-ujungnya dalam semua kasus ini anda tak akan menumukan hubungannya dengan Negara Islam Irak dan Syam. ASIO dan agen-agen intelejen tak akan menemukan kaitan antara keduanya. ISIS bukanlah organisasi yang besar. Sebaliknya, ISIS adalah organisai kecil," ucap Jones.

Yang jadi perhatian Jones justru dampak psikologis di balik serangan yang sok-sok terinspirasi ISIS ini. "Serangan atau tindakan kekerasan selalu melahirkan epigon, meski tak harus sampai jadi serangan ekstrem seperti ini. Namun, dalam masala terorisme, lantaran banyak media yang menyoroti, itu justru memberikan justifikasi bagi orang lain untuk melakukan tindakan kekerasan. Jadi, anda bisa memahami kemunculan para epigon ini dipicu oleh hal-hal seperti ini." Ucapnya.

Jika kita ingin mengatasi atau setidaknya membantu meminimasi radikalisasi—dan Jones tak menyangkal bahwa kemungkinan serangan sejenis yang dibackingi ISIS terjadi di Australia terjadi dalam waktu dekat—kuncinya adalah kita harus memahami "kerentanan" para calon pejihad.

Iklan

"Seorang pemuda bisa melakukan kekerasan atas nama agama tapi itu tak berarti agamalah yang mendorong mereka melakukannya. Yang sudah jelas kita tahu adalah banyak persoalan sosial mendasar yang menjadi alasan mereka melakukannya. Bisa jadi, mereka punya masalah dengan orang tua, mengalami kekerasan domestik, tak mampu beradaptasi, tak bisa mengekspresikan identitas dan tak memiliki arti serta tujuan hidup. Faktor-faktor bisa lebih banyak lagi," ujar Jones.

Saat menjatuhkan hukuman pada atas kejahatan penyerangan sebuah rumah pada tahun 2012, Hakim George Hampel menilai Yacqub Khayre sebagai seorang yang "terisolasi" dari keluarga dan komunitas. Dia juga mengatakan bahwa tak anggota keluarga yang datang memberikan dukungan saat persidangan. Lebih jauh lagi, proses rehabilitasi Khayre, menurut sang hakim, bakal "kelabu."

Jika kita memang ingin mencegah orang seperti Khayre berbuat onar, ujar Jones, kita harus terlebih dahulu paham bahwa masalah seperti ini dialami oleh generasi muda teralienasi yang kini tumbuh di Australia.

"Sebenarnya tak ada perencanaan atau pengembangan oleh ISIS atau siapapun di Suriah atau Irak atau negara manapun di dunia ini. "

Follow Kat di Twitter