Kecerdasan buatan

Kecerdasan Buatan Tak Akan Bisa Mengalahkan Manusia Soal Penulisan Lagu

Musisi legendaris Nick Cave, meyakini kemampuan menulis lagu adalah sifat esensial manusia yang mustahil digantikan algoritma.
31 Januari 2019, 11:25am
Nick Cave sang penyanyi legendaris
Foto Nick Cave oleh Shutterstock 

Nick Cave adalah musisi, penulis, komposer, sekaligus penulis skenario kelahiran Australia. Dia sering menjawab pertanyaan penggemarnya di forum The Red Hand Files . Baru-baru ini, Peter asal Slovenia bertanya kepadanya apakah kecerdasan buatan (AI) akan mampu menciptakan lagu dengan baik. Tanggapan Cave diterbitkan ulang di sini atas seizinnya.


Halo Peter,

Dalam buku barunya 21 Adab Untuk Abad ke-21 (21 Lessons For the 21st Century), sejarawan Yuval Noah Harari menulis bahwa kecerdasan buatan atau AI, dengan potensi dan keterhubungannya yang tak terbatas, akan membuat manusia mubazir di tempat kerja. Ini mungkin bisa terjadi. Namun, Harari juga menulis bahwa AI akan mampu menciptakan lagu yang lebih baik ketimbang manusia.

Menurutnya, dan maafkan kalau saya terlalu sederhana meringkaskan buku tersebut, kita mendengarkan lagu dengan tujuan merasakan perasaan tertentu. Di masa depan, bisa saja AI akan mampu memetakan otak individu dan menciptakan lagu sesuai dengan algoritma mental kita masing-masing—lagu yang berpotensi membuat manusia, secara lebih intensif dan akurat, merasakan apa yang kita ingin rasakan. Kalau kita lagi merasa sedih dan ingin merasa bahagia, kita tinggal mendengarkan lagu bahagia ciptaan AI.

Tapi, aku belum yakin tujuan lagu hanya sebatas mengekspresikan emosi tertentu. Memang, kita mendengarkan lagu untuk merasakan sesuatu—bahagia, sedih, seksi, rindu, girang, atau apapun—tapi lagu dapat melakukan lebih dari itu. Lagu yang luar biasa membuat kita kagum. Ada alasannya. Rasa kagum itu hampir secara eksklusif didasarkan pada keterbatasan kita sebagai manusia. Seni selalu ada hubungannya dengan keberanian manusia melampaui kefanaan diri.

Mungkin saja AI berpotensi menciptakan lagu sekeren "Smells Like Teen Spirit”-nya Nirvana, dan mungkin saja AI dapat membuat kita merasakan nuansa dari sebuah lagu. Misalnya perasaan girang dan memberontak. Bahkan bisa saja AI berpotensi menciptakan lagu yang membuat kita merasakan perasaan yang lebih menyentuh ketimbang pencipta lagu manusia.

"Namun yang kita dengar dari sebuah lagu sebenarnya wujud keterbatasan manusia dan keberanian kita melampauinya."

Masalahnya, ketika mendengarkan "Smells Like Teen Spirit," kita bukan hanya sedang mendengarkan lagu tersebut. Lagu itu, bagiku seperti mendengarkan perjalanan laki-laki muda pendiam yang teralienasi dari kota kecil Aberdeen, AS—laki-laki muda yang mewujudkan gumpalan disfungsi dan keterbatasan manusia—laki-laki muda yang berani meraungi rasa sakitnya ke dalam mikrofon dan menyentuh hati satu generasi pendengarnya.

Kita juga mendengarkan Iggy Pop berjalan di atas tangan penggemarnya dan mengolesi badannya dengan selai kacang sambil nyanyi “1970.” Kita mendengarkan Beethoven menyusun “Symphony No. 9” ketika dia hampir sepenuhnya tuli. Kita mendengar karya dari Prince bernyanyi di bawah hujan deras dan membuat semua orang takjub di tengah gelaran Super Bowl. Kita mendengarkan Nina Simone mengisi lagu cinta dengan semua kegusaran dan kekecewaannya. Kita mendengarkan Paganini yang terus memainkan stradivariusnya walau senarnya copot. Kita terus mendengarkan Jimi Hendrix yang berlutut dan membakar gitarnya.

Yang sedang kita dengarkan bukan sekadar lagu, melainkan wujud nyata keterbatasan manusia dan keberanian kita untuk melampauinya. Kecerdasan buatan, dengan potensinya yang tak terbatas, tidak mempunyai kemampuan ini. Mana mungkin?

Ini yang dimaksud dengan konsep transendensi. Kalau potensi kita tidak terbatas, apa yang tersisa untuk dilampaui? Apa gunanya imajinasi? Musik mempunyai kemampuan menyentuh esensi surgawi dengan ujung jarinya, dan rasa kagum dan takjub yang kita rasakan merupakan keberanian untuk merengkuh segala keterbatasan. Menikmati musik tidak berarti kita hanya peduli pada hasil akhir.

Tiada kemegahan transenden dalam potensi tak terbatas. Jadi, untuk menjawab pertanyaanmu Peter, AI mungkin saja mampu menciptakan lagu yang baik, tetapi tidak akan luar biasa. Mereka tidak punya syaraf dan emosi seperti manusia, untuk melakukannya.

Salam hangat,

Nick