Penjajahan

Museum Barat Emang Keren, Tapi Jangan Lupa Banyak Koleksinya Didapat Saat Penjajahan

Mencari cara menebus dosa kolonialisme adalah persoalan banyak museum di Eropa dan Amerika Serikat.
7.6.19
Musem di Barat Emang Keren, Tapi Jangan Lupa Banyak Koleksinya Didapat Saat Penjajahan
Karya seni antik di museum London yang berasal dari tanah jajahan di masa lalu. Foto oleh In Pictures Ltd./Corbis via Getty Images

Museum of Modern Art (MoMa) di New York, ditutup sepanjang 15 Juni sampai 21 Oktober 2019 karena renovasi senilai US$400 juta (Rp 5,7 triliun). Pengelola menambah bangunan seluas 3.700 meter persegi. Buat apa bangunan baru itu? Katanya sih, untuk memajang karya "seniman perempuan, Latin, Asia, Afrika-Amerika, dan seniman-seniman terlupakan lainnya," kata Leon Black, Kepala MoMa, kepada the New York Times.

Iklan

“Kami tidak ingin melupakan asal-usul kami sebagai museum seni Modernis terbaik di dunia. Tetapi faktanya MoMa selama ini belum memberi perhatian layak untuk seniman perempuan, atau dari etnis minoritas," ujar Black. "Sekarang seniman-seniman yang kurang diperhatikan itu harus menjadi bagian dari kenyataan masyarakat multikultural modern. MoMa akan merintis jalan ke sana."

Nantinya, selama kurun enam sampai sembilan bulan, salah satu museum terbaik di dunia itu akan memajang karya seniman yang belum terkenal, seperti pelulkis asal Nigeria, Okwui Okpokwasili. Inklusivitas kini menjadi fokus pengelola. Namun, kesadaran atas keberagaman seniman ini cukup ironis, mengingat ada satu masalah museum di seluruh dunia yang jarang dibahas dari dulu sampai sekarang: penebusan dosa kolonialisme.

Masalah terbesar museum sekelas MoMa atau berbagai museum kondang lain di Eropa adalah dekolonisasi artefak kesenian. Perbincangan seni terlalu lama didominasi cara pikir orang kulit putih. Ditambah, dalam dunia museum, mulai banyak muncul perbincangan soal dari mana koleksi karya seni itu didapatkan. Kalau koleksinya barang antik, besar kemungkinan proses museum mendapatkannya saat penjajahan Asia dan Afrika abad lalu. Kacaunya lagi, artefak itu diperoleh lewat jalur ilegal.

Makanya, sekarang makin banyak wacana agar pengelola musemum berani pemulangan artefak curian. Makin marak pula gerakan aktivis memprotes museum di seluruh dunia yang menyimpan barang dari wilayah jajahan, yang ditengarai dulunya diperoleh lewat cara tidak sah.

Iklan

"Kita harus terbuka sama faktanya: museum adalah bangunan kolonial," kata Amin Husain selaku fasilitator Decolonize This Place, gerakan hak orang kulit hitam dan pribumi. "Pada 2010, orang tertindas di seluruh dunia mulai bersuara. Kala itu muncul keprihatinan terhadap abainya publik terhadap koleksi museum. Orang kulit berwarna mulai beraksi dan mengadakan protes di MoMa. Lambat laun museum dan kesenian dipandang dalam konteks sejarah peristiwa yang berlangsung di dunia Barat, termasuk soal penjajahan di masa lalu."

Kini terdapat lebih dari 16 juta artefak dalam koleksi lebih dari 200 museum seni seantero AS. Sebuah laporan dari 2015 oleh Yayasan Mellon menyimpulkan 72 persen staf di museum-museum terdiri dari orang kulit putih yang bekerja sebagai kurator, konservator, dan jabatan tinggi, sedangkan 28 persen terdiri dari orang kulit berwarna. Sebagian besar etnis minoritas itu hanya melakukan pekerjaan terkait perawatan fasilitas museum atau jadi tenaga keamanan.

"Bagian terpenting pekerjaan yang kami adalah menjelaskan perbedaan antara keberagaman dan inklusivitas," kata Husain.

Diana Buckley Muchmore, direktur eksekutif ProjectArt, sebuah organisasi yang bekerjasama dengan perpustakaan lokal di berbagai negara, menyatakan dekolonisasi museum sejak lama sudah dibahas. Wacana ini dirintis kurator Marcia Tucker, yang mendirikan New Museum of Contemporary Art di New York sebagai cara menantang naratif tradisional museum yang berfokus pada sudut pandang orang kulit putih atas dunia.

Iklan

"Isu ini mulai populer pada dekade 90-an ketika pemerintah AS mengimplementasi NAGPRA (Undang-undang Perlindungan Kuburan Suku Indian), yang mengakui kebudayaan dan seni komunitas pribumi AS merupakan hak milik komunitas tersebut," ujar Muchmore. "Legislasi baru ini memaksa museum bertanggung jawab atas pendataan sumber koleksi mereka. Menurut saya, efek perubahan ini akan memicu para kurator museum menghargai asal koleksi tersebut."

Bahkan dengan upaya inklusivitas seperti dibuat MoMa dengan gedung barunya, Amin percaya sistem pengelolaan museum di Barat perlu dievaluasi kembali. Terutama agar pengelola museum mulai memikirkan skema ganti rugi yang disebabkan ratusan tahun eksploitasi oleh penjajah Eropa di Asia dan Afrika.

"[Museum] mempunyai sistem inventaris. Sementara aktivis bisa memetakan pengakuan teritorial dari mana koleksi itu berasal," kata Amin.

“Ini tidak boleh dibahas asal-asalan."

Macdonald sepakat. Perlu ada upaya bersama agar pemilik sah koleksi benda antik di banyak museum Barat dipulihkan semua haknya.

"Isu dekolonisasi museum di Barat memang rumit, tapi kita bisa memecahkannya bersama," ujar Macdonald.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly